Running is about to chase away your pessimism

DUA BULAN yang lalu setidaknya, saya beranggapan berlari mengelilingi Hutan Kota UI itu mustahil. Ah, jangankan itu, menyelesaikan lari 2km saja, saya masih kepayahan.

Karena berlari terlanjur menjadi sesuatu yang sulit, lama kelamaan saya jadi enggan untuk berlari. “Lari itu capek, pokoknya cuma bikin capek.”, begitu kata saya dulu.

Pada akhirnya saya kapok berlari. Kalaupun mau berlari, paling-paling tidak pernah sampai di finish.

***

Beberapa hari sebelum pergantian tahun, saat itu bertepatan pula dengan liburan semester, saya berkesempatan mengikuti teman berlatih berlari. Mulanya saya hanya mengamati bagaimana dia berlari. Lama-kelamaan muncul dorongan di dalam diri saya untuk ikut berlari.

Dorongan itu berupa rasa penasaran. Saya penasaran dengan apa yang saya tangkap pada saat teman saya berlari. Yaitu rasa senang. Saya ingin membuktikan, apakah lari benar-benar menyenangkan seperti yang teman saya rasakan…?

Oleh karena itu, sayapun menguntit. Pokoknya setiap kali dia berlari, saya ikut. Pertama saya jogging di tempat yang elevasinya rendah, yaitu di Bandar Udara Gading, lalu disusul dengan track-track lain seperti Bukit Sodong dan Danau Tong Tong. Kuat sampai di finish, akhirnya muncul keberanian dalam diri saya untuk mau terus berlari.

Hari demi hari saya habiskan untuk berlatih berlari. Didampingi teman saya yang dengan sabar mengiringi ayunan kaki saya yang lamban, saya mulai serius belajar berlari. “Run is for fun”, begitulah yang sering disebutkan oleh teman saya meluruskan paradigma saya yang sudah terlanjur bengkok. Dan benar. Setelah berlari mencapai kurang lebih 50km, saya mulai bisa menerima bahwa berlari itu memang menyenangkan.

Apa yang menyenangkan dari berlari? Bagi saya, tentu bukan semata-mata karena bisa sampai di finish. Yang membuat senang adalah prosesnya, saat-saat yang menentukan antara ingin menyerah atau tetap berusaha.

Waktu saya berlari ke Danau Tong Tong, ada jalananan menanjak yang begitu melelahkan. Rasanya hendak menyerah, lutut saya sudah benar-benar goyah. Akan tetapi di saat saya ingin menyerah, justru muncul keinginan untuk terus berusaha. Alhasil saya bisa melewatinya. Dan ketika saya menenggak sebotol Pocari Sweat, rasanya benar-benar senang…

Nah, kemarin saya kembali berlari, sendiri. Berbekal latihan selama liburan kemarin, saya mengitari Hutan Kota UI dengan rute: halte asrama-hutan kota ui-teknik-fe-fib-fisip-psiko-stasiun ui-ui wood-faculty club ui-mang engking-halte asrama. Yang membuat saya senang kali ini adalah karena saya berhasil mengusir ketakutan dan ketidakpercayadirian pada diri saya. Dari sini sayapun berani menjajal rute yang lebih panjang. Next run, saya mau mencoba keliling UI. 🙂

©Tina Latief

3 thoughts on “Running is about to chase away your pessimism

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s