Cerpen Pilihan Kompas 2012, Potret Kehidupan dan Problematika Masyarakat Indonesia

DIBANDINGKAN dengan cerpen, dulu saya lebih memilih membaca novel. Alasannya novel lebih kaya cerita. Kreativitasnya tidak berbatas sehingga mampu membawa pembaca ke ranah imajinasi yang sangat luas.

Cerpen menurut saya, saking banyaknya aturan yang diberlakukan (khususnya di media-media cetak) justru sering menjadikan ceritanya menggantung di tengah jalan. Saya sempat mempertanyakan pada waktu itu. Mengapa tidak membiarkan pengarang menuntaskan cerita dengan sendirinya? bukankah dengan lebih panjang ceritanya akan lebih kaya?

Kritik ini pernah disampaikan pula oleh beberapa kalangan yang menganggap membatasi jumlah halaman berarti membatasi kreativitas. “Membatasi ruang eksplorasi untuk menguak banyak hal” demikian sebuah pendapat yang saya kutip dari tulisan Mahayana.

Namun rupanya anggapan tersebut keliru. Bahkan, untuk cerita yang dibatasi tak lebih dari 2000 kata itupun tidak kalah kreatif dan imajinatifnya dengan cerita-cerita panjang lainnya. Hal ini telah saya buktikan setelah dua kali membaca kumpulan cerpen pilihan kompas yakni tahun 2011 dan 2012.

wpid-c360_2015-01-24-10-43-49-728.jpg

Bicara soal kreativitas di ranah sastra, tentu saya tidak bisa segamblang Maman dalam memberikan ulasan. Apalagi menyangkut metafora atau keindahan bahasa, soal itu biarlah epilog Maman pada akhir kumpulan cerpen ini yang akan menjelaskan.

Membaca cerpen-cerpen ini, bagi saya, seperti membawa saya blusukan ke pelosok-pelosok Indonesia. Menunjukkan potret kehidupan dan berbagai problema masyarakat Indonesia yang secara real terjadi di sekitar kita.

Permasalahan itu umumnya adalah masalah sosial-kultural yang sampai sekarang masih menjadi perdebatan apik di tanah air kita. Atau yang seringkali saya jumpai, masalah yang berkaitan dengan masa kelam rezim Soeharto di masa lampau yang bagaimanapun masih menyisakan getir bagi sebagian kalangan. Hadirnya potret masyarakat yang lekat dengan mitos-mitos turut melengkapi bahasan tentang problem-problem di Indonesia. Dan di sinilah menurut saya kunci dari kreativitas para penulis cerpen di dalam menuliskan cerita, untuk mengisi ruang Kompas yang terbilang terbatas tersebut, mereka mampu mengangkat realita yang konkret dan berbobot tersebut ke dalam bahasan yang imajinatif dan multitafsir hanya dengan beberapa halaman cerita.

Meskipun demikian, sejalan dengan kritik yang juga dilontarkan oleh Maman di dalam epilognya, penting bagi suatu karya cerpen untuk tetap mempertahankan logika ceritanya di sela-sela keinginan untuk memperindah bahasa. Menurut saya, di sinilah penulis terjebak di dalam permainannya sendiri, bagaimana mungkin masalah-masalah yang sangat konkret itu digambarkan secara tidak logis?

Saya memang bukanlah seseorang pembelajar sastra. Namun sebagai penikmat, saya memiliki rasa yang tak kalah peka. Jika hendak memamerkan kalimat, maka hal yang dipamerkan itu perlu tanpa cacat (Mahayana,244). Bagaimanapun juga, dibandingkan dengan kata-kata berbunga dan mengawang-awang, tentu saya lebih suka dengan karya yang runtut, mampu menyampaikan maksud cerita kepada semua jenis pembacanya.

©Tina Latief

One thought on “Cerpen Pilihan Kompas 2012, Potret Kehidupan dan Problematika Masyarakat Indonesia

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s