Nobody Wants to be a Loser

PULANG dari pasar, Mom nampak bersungut-sungut. Katanya ia baru saja jengkel dengan temannya (yang juga ibunya teman saya). Setelah saya dengarkan ceritanya, rupanya penyebabnya sama dengan ceritanya beberapa waktu yang lalu. Mom jengkel karena mendengar temannya menceritakan tentang anaknya lagi.

Menurut Mom, cerita temannya terlalu berlebihan. Saking berlebihannya, kesannya jadi merendahkan orang. Secara Mom tidak ingin anaknya (saya) juga direndahkan orang. Makanya ia tidak terima, sampai-sampai merasa jengkel setengah mati.

Hihihi…

***

Bagi saya cerita ini lucu. Terutama melihat gelagat Mom yang pakai acara jengkel itu, hehehe. Sebenarnya Mom tidak perlu jengkel. Mom hanya perlu memahami mereka, yakni dengan mendengarkan cerita mereka tanpa mengambil hati soal isinya.

Karena jika disimpulkan dari cerita tadi, intinya hanya satu: tidak ada seorang pun yang ingin menjadi orang yang kalah. Terlepas apakah itu anaknya ataupun orangtuanya, semua ingin menjadi orang berhasil (pemenang).

Kalau dipikir-pikir memang masuk akal. Memangnya di dunia ini siapa sih yang mau jadi orang kalah?Apalagi hidup di lingkungan yang kompetitif seperti sekarang ini, semua pasti ingin menjadi yang terbaik.

Jadi wajar jika dengan sedikit pencapaian atau keberhasilan orang akan bercerita yang mungkin terdengar berlebihan. Bagaimanapun juga senang rasanya jika berhasil dalam hal yang kita kerjakan.

Justru saya senang jika masyarakat di mana saya tinggal care dengan pencapaian dan keberhasilan. Artinya mereka punya kemauan untuk menjadi yang terbaik. Bayangkan jika yang terjadi sebaliknya. Menjadi pecundang dengan segudang kebobrokan? Semoga kita dijauhkan dari yang satu ini…

©Tina Latief

3 thoughts on “Nobody Wants to be a Loser

  1. edi padmono

    Namanya juga orang tua neng……ketika anaknya kesusahan maka dialah yang paling duluan menangis padahal anaknya sendiri merasa biasa saja. Begitupun ketika anaknya memperoleh keberhasilan maka orang tuanyalah yang paling dulu menceritakan keberhasilan itu kepada tetangga bahkan kerabat jauhnya padahal yang diperoleh anaknya masih dalam kewajaran dan bukan sesuatu yang spesial…..begitulah cinta orang tua kepada anak-anaknya

    Like

    Reply
  2. fanny fristhika nila

    Hahahaha…mamaku jg srg begitu… Padahal udh berkali2 aku bilang, “Cuek aja Ma. Ngapain didengerin kata2 org begitu sih”

    Tapi tetep ibu2 ini walo katanya saling benci, masiiiih aja ketemuan ;p Anehkan ;p

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s