Where The Lion Should be A King?

“Sementara manusia yang tanpa pernah ada kesadaran terus merajalela di mana-mana, bagai tiada harapan bagi seminya hutan. Jika demikian, lantas apa yang masih tersisa? Masih adakah tempat bagi sang singa untuk menjadi raja?”

Lion, the king of the juggle

SAYA begitu menaruh perhatian pada singa dan ingin menuliskannya di sini semenjak menonton film animasi The Lion King. Diawali dari rasa penasaran terhadap paparan berita oleh On The Spot, kemudian saya berinisiatif, menonton, dan mencari pembuktian atas berita tersebut. Rupanya On The Spot memang tidak berbohong. Film ini bagus, keren kalau boleh saya memuji. Selain penokohannya yang ciamik, moral value yang disampaikan melalui tokoh Simba itu benar-benar merenggut perhatian saya. Tidak heran jika film ini masuk dalam kategori film animasi terbaik hingga saat ini.

Singkatnya, The Lion King mengisahkan tentang keberlangsungan kawanan singa beserta keluarga penghuni hutan di saat terjadi masa transisi pergantian pemimpin (raja). Adanya konflik kepemimpinan antara Mufasa (raja singa saat itu) dengan Scar (sang adik) menyebabkan Simba (penerus Mufasa) tersingkir. Kepemimpinan yang diambil alih secara tidak wajar oleh Scar menyebabkan keberlangsungan keluarga hutan terancam,— tidak ada cukup makanan dan air. Pada saat yang ditunggu-tunggu, Simba muncul kembali sebagai pembawa perubahan sekaligus menjadi raja menggantikan mendiang ayahnya.

Ide cerita tersebut telah merenggut sebagian besar perhatian saya. Yang kemudian membuat saya berpikir, betapa sederhananya permasalahan yang terjadi di dalam film tersebut. Karena realitanya, masalah keberlangsungan keluarga hutan tidak hanya ditentukan oleh siapa (singa) yang akan menjadi raja hutan. Jika kita lihat dari permasalahan mengenai hutan hingga saat ini, kompleksnya masalah keberlangsungan hutan beserta isinya —kenyataannya— tidak terlepas oleh kepentingan manusia yang tidak henti-hentinya mengambil alih sumber daya hutan secara tidak wajar.

Tentu saya tidak perlu lagi menjabarkan apa saja permasalahan yang menimpa areal perhutanan di negara kita. Kita semua sudah tahu, ribuan hektar areal perhutanan yang menyimpan sejumlah kekayaan alami kini harus kehilangan sari patinya akibat dikonversi menjadi lahan komersil. Tanaman rimba beserta binatang yang hidup bersamanya pun musnah dalam jumlah yang tidak lagi terkira. Sementara manusia yang tanpa pernah ada kesadaran terus merajalela di mana-mana, bagai tiada harapan bagi seminya hutan. Jika demikian, lantas apa yang masih tersisa? Masih adakah tempat bagi sang singa untuk menjadi raja?

Diam-diam saya tersenyum getir. Menyesalkan andaikata permasalahan hutan hanyalah masalah transisi kepemimpinan seperti yang dialami Simba dan Mufasa di dalam kisahnya. Mungkin dulu, jauh sebelum manusia berlomba-lomba menghuncamkan cakarnya ke dalam perut hutan, merenggut semua kekayaan hutan, permasalahan hutan tidak seperti sekarang.

Tidak akan ada pembalakan liar, melainkan kemegahan tatanan hutan yang menyimpan beribu kekayaan. Tidak hanya sekedar cerita bahwa hutan kita pernah jaya, melainkan fakta yang sebenar-benarnya. Dan tentunya bukan hanya sekedar cerita, bahwa singa adalah si raja hutan. Dia adalah sebenar-benarnya raja, yang pernah mengaum di puncak cakrawala tanda keperkasaan sang maharaja.

tinaa

2 thoughts on “Where The Lion Should be A King?

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s