Membiasakan yang Benar

Masalahnya, orang sudah sangat terbiasa melakukan yang biasa dan menganggap itu sebagai hal yang wajar…

20140904_084115

Ketika orang ditanya apa saja di dunia ini yang benar, kebanyakan mereka menjawab Tuhanlah yang benar. Sebagai dzat yang diakui paling tinggi kedudukannya, orangpun takkan tidak sepakat untuk mengakui Dialah Yang Maha Benar.

Namun kali ini bukan Tuhanlah yang ingin saya bicarakan di sini. Yang ingin saya tuliskan di sini melainkan tentang kebenaran yang pada dasarnya telah kita sepakati bersama sebagai suatu hal yang benar (konsensus). Yakni kebenaran yang diketahui kebenarannya dan yang dengan sendirinya diakui sebagai sebuah kebenaran yang bersifat mengikat oleh semua orang. Sehingga jika terdapat seseorang yang melewati batas kebenaran tersebut, orang dapat secara langsung dinyatakan bersalah.

Datang tepat waktu di segala urusan (on time) misalnya, adalah salah satu kebenaran yang telah disepakati bersama. Semua orang tau kalau datang tepat waktu adalah benar, sebaliknya orang yang selalu datang terlambat adalah salah. Adapun membuang sampah pada tempatnya, orangpun tau kalau tindakan tersebut benar. Sebaliknya membuang sampah di sembarang tempat adalah salah. Mengapa salah? Karena selain merugikan diri sendiri, seseorang juga merugikan orang lain dan lingkungan di sekitarnya. Sehingga, tidak heran jika terkadang tidak hanya sebatas norma di masyarakat, kebenaran yang diakui bersama tersebut bahkan diwujudkan melalui peraturan-peraturan resmi pemerintah yang mana pelanggarnya dikenakan sanksi tertentu.

Masalahnya, kini orang seakan tidak lagi mengakui kebenaran yang hakikatnya telah ia sepakati secara bersama-sama tersebut. Orang mulai seenaknya saja datang terlambat, membuang sampah sembarangan, dan menganggap semua yang dilakukannya tidak berdampak bagi orang lain maupun lingkungan. Kesepakatan yang semula dihormati sebagai suatu yang benar kini tak lagi bernilai sama. Orang mulai berdalih, bahwa terlambat ataupun membuang sampah sembarangan adalah hal yang bisa dilakukan, yang kemudian biasa dilakukan…

Spanduk yang dipasang oleh Dekan Fisip UI tersebut adalah sentilan kepada siapapun yang membenarkan yang salah. Jika jelas-jelas salah, apalagi kita sendiri yang menyepakatinya, mengapa musti dilanggar. Jika masalahnya adalah orang sudah sangat terbiasa melakukan yang biasa dan menganggap itu sebagai hal yang wajar, sudah saatnya kita berubah. Tentu kita tidak mau menjadi orang munafik, yang selalu berkoar-koar tentang kebenaran namun nyatanya mengingkari sendiri apa yang telah disepakati…

Jadi mari membiasakan yang benar!

tinaa

One thought on “Membiasakan yang Benar

  1. Pingback: Mendukung FISIP UI menuju Green Campus | The Everyday People You Meet

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s