Kali ini Saya Membenci Hujan

Usai kuliah terakhir pukul setengah enam sore, saya segera bergegas berjalan ke supermarket untuk membeli perlengkapan mandi yang telah habis dua hari yang lalu. Karena hanya perlengkapan mandi, saya pikir tidak akan lama. Saya tak menghiraukan awan mendung di atas kepala saya dan memilih meneruskan perjalanan menuju tempat tujuan.

Di atas gedung Detos, langit telah menghitam. Angin bertiup kencang dan dedaunan gugur tak beraturan. Sebentar lagi jelas akan turun hujan. Maka sayapun mempercepat langkah dan membeli keperluan sesingkatnya.

Kurang dari setengah jam, saya sudah keluar dan mendapati langit gelap total. Hari telah berganti malam, ditambah hujan mulai datang.

Dari arah Timur, angin bertiup kencang membawa butiran air yang langsung menghujani saya di tempat. Segera saya keluarkan payung dari tas punggung, membukanya dan melindungi badan dari amukan hujan.

Begitu lebatnya hujan sore itu.Seluruh jalan tergenang air hingga menyentuh betis. Jalanan hampir tak terlihat. Banyak pengendara yang memilih berteduh di halte menanti hujan mereda.

Sayapun, dengan setengah badan yang telah kuyup, turut menjejalkan diri di halte yang telah penuh oleh peneduh. Dinginnya bukan main. Payung biru yang saya gunakan tak kuasa melindungi badan dari air bah yang terlalu besar. Dari ujung kaki hingga badan, saya basah seluruhnya. Di sana saya berharap bis kuning segera datang dan melarikan saya ke rumah.

Terguyur hujan sebenarnya tidak terlalu buruk. Dulu, saat masi sekolah dasar saya sering sengaja berbasah-basahan demi bermain dengan air hujan. Meskipun ada payung di dalam tas, saya memilih ikut teman berbasah-basahan dan main air sepuasnya.

Ya dulu menyenangkan bisa main air sebebasnya. Bahkan saya tidak peduli apakah buku saya akan basah atau akan jatuh sakit setelahnya. Tidak seperti sekarang yang mana setiap saat saya harus terhindar dari hujan. Sekarang saya adalah mahasiswa dengan banyak alat elektronik yang harus dijaga keamanannya agar tidak basah tergenang hujan.

Sayangnya saya lupa akan hal itu. Seperti berada dalam lamunan masa lalu, saya lupa membiarkan tas berisi barang elekteonik keperluan kuliah itu terendam air. Alhasil, ponsel dan laptop basah terkena air. Sementara ini ponsel saya selamat, namun laptop saya sekarat.

Sekarat adalah kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana sedih dan marahnya saya. Gara-gara hujan, kini saya tidak bisa mengerjakan tugas.

Jika biasanya saya memuji hujan beserta suasananya yang menyenangkan, kini rasanya saya sangat membenci hujan.

Ingin rasanya mencubit hujan keras-keras, atau memakinya keras-keras…

3 thoughts on “Kali ini Saya Membenci Hujan

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s