The Book of Catching Fire: The Rebellion Begin!

IMG_20140514_220754

“….Aku seharusnya tidak boleh melihatnya. Ada kerumunan massa, api, dan Para Penjaga Perdamaian menembaki orang-orang, tapi mereka terus melawan…”

Catching Fire adalah novel kedua Suzanne Collins dari trilogi The Hunger Games. Seperti novel sebelumnya, Catching Fire juga diangkat ke layar lebar meneruskan The Hunger Games yang telah tayang sebelumnya.

Catching Fire masih melanjutkan kisah Katniss Everdeen, the girl on fire— yang tahun sebelumnya dinobatkan menjadi pemenang Hunger Games bersama pasangannya Peeta Mellark dari Distrik 12. Harapannya selamat di Hunger Games membuatnya berani sedikit lebih banyak memimpikan kehidupan yang tenang dan aman, setidaknya bagi keluarganya, ibunya, Prim adiknya, dan Gale pria yang dikasihinya. Namun, ia tidak menyangka kemenangannya atas berry beracun di arena pertempuran akan membuat mimpinya kandas. Ia bersama pemenang-pemenang dari Hunger Games sebelumnya terpaksa harus kembali ke arena dengan pertempuran yang lebih hebat dan mematikan sebagai pertanggungjawaban atas pemberontakan yang terjadi di berbagai distrik.

Seperti di seri sebelumnya, Suzanne kembali berusaha menghidupkan latar belakang kekejaman pemerintahan sebuah rezim dengan lebih mencekam. Bedanya, kali ini ia lebih banyak menonjolkan suasana pertempuran dengan konflik batin yang mendalam di dalam diri tokoh-tokohnya. Karena di Quell, sosok Katniss tidak lagi merupakan sosok yang penuh ego yang hanya memikirkan keselamatannya sendiri. Di Quell, ia tidak hanya berusaha melindung keselamatan nyawa keluarganya, melainkan juga Peeta, pria yang akan kembali menjadi lawannya di arena sekaligus pria yang diam-diam ia cintai. Di samping itu, ia pun harus turut mempertimbangkan nasip para sekutunya, Finnick, Johanna, dan Betee. Sementara, ia tahu, hanya akan ada satu pemenang di Quarter Quell.

Keunggulan Suzanne kali ini, ia lebih mampu menguasai perbendaharaan kata dan kalimat yang seharusnya menjadi pengisi dialog dan alur cerita yang ia buat. Terbukti banyak kalimat-kalimat dialog di dalam novelnya, yang meskipun masih perlu disederhanakan, tetap digunakan di dalam pembuatan filmnya. Indikator yang baik dari sebuah novel yang diangkat ke layar lebar menurut saya yakni ketika banyak dialog-dialog yang digunakan di dalam pembuatan script. Dan ini adalah kesuksesan Suzanne, yang nyata lebih mampu menempatkan kalimat-kalimat yang lebih tepat dan cerdas di dalam novelnya.

Saya menikmati membaca Catching Fire, terutama di saat Katniss dan Peeta tengah berusaha memutuskan untuk segera meninggalkan kawanan. Ada pelajaran moral yang begitu tinggi di sana, karena baik Peeta maupun Katniss tidak ingin melakukan gencatan senjata dengan sekutu dan memilih untuk meninggalkan mereka. Di bagian itu pula, saya meggemari filmnya. Momentum yang amat berharga dan paling memainkan emosi karena di sanalah awal dari terpisahnya Peeta dengan Katniss di arena. Saat menonton bagian ini dan menyadari bahwa film akan segera habis, saya menghentakkan kaki, tak sabar menanti film terakhir ditayangkan. He he..

Ide Suzanne memang brilian dengan memunculkan Hunger Games di tengah kekejaman rezim pemerintahan. Hanya saja dibandingkan dengan filmnya, hingga pembuatan film Catching Fire pun saya masih mengakui kelebihan pembuatan filmnya daripada bukunya. Entah mengapa, film Catcing Fire justru lebih menjelaskan maksud sebenarnya dari si penulis daripada isi tulisannya sendiri. Jika biasanya buku yang lebih menjelaskan filmnya —seperti di Harry Potter misalnya—di sini justru terjadi sebaliknya.

Saya sendiri masih menimbang-nimbang apakah ini karena saya kurang begitu menghayati membaca novelnya sehingga saya nampak begitu memihak filmnya atau apa. Ah, tapi saya rasa tidak. Kali ini saya memang harus mengakui kepiawaian sang sutradara yang begitu pandai merenggut perhatian penontonnya.

Nah, saya sudah sangat penasaran dengan akhir kisah Peeta dan Katniss. Selanjutnya saya akan membaca novel yang ke-3, yang terakhir. Mockingjay!

©Tina Latief 2014

8 thoughts on “The Book of Catching Fire: The Rebellion Begin!

  1. ndutyke

    Aku blm pnh sama sekali nonton atau baca bukunya. Tertarik sih krn si J-Law nya cantik bgt hehehe. Tp kok kayaknya sedih gitu ya. Mungkin memang bukan my cup of tea

    Like

    Reply
  2. aqied

    Aku suka banget juga sama filmnya. Sampe2 review di blog aku stelah nonton adl :Beyond Expectation.
    Karna imajinasi aku waktu baca bukunya, runtuh parah dan gak ad apa apa nya dibanding yg bisa ditayangkan di filmnya.

    Like

    Reply
      1. aqied

        Hehehe. Gak nge review. Ntar aja kali kalo film nya ud keluar juga. Hahahaha
        *ngeles.
        Gak tau sih. Dulu beli catching fire nya juga iseng aja, ternyata suka.

        Like

      2. Tina Latief Post author

        Haha..
        Aku ngga sabar pengen baca sampai selesai, sayangnya harus ngatur ritme membaca novel dengan membaca materi kuliah.. 😀

        Ngga sabar pengen sampe di bagian Peeta sama Katniss bahagia hihi

        Like

      3. aqied

        Padahal itu bagian paling aku benci. Hahahahahahahaaaaa.
        Iya nih skrg jd jarang bisa baca buku banyak. Beli banyak belum pada kebaca
        *menatap rak buku dengan sedih

        Like

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s