The Hunger Games: Book or Movie?

IMG_20140505_194934

Happy Hunger Games, and may the odds be ever in your favor…

Risiko pembuatan sebuah film yang diangkat dari sebuah novel: orang dengan mudah menjudge film melalui perbandingan-perbandingan sederhana yang ia temukan di buku. Karena orang biasanya tidak cukup puas bila jalan cerita di film berbeda dengan novel aslinya. Terlebih lagi jika film tidak cukup membuat penonton memperoleh feel dan fantasi sama seperti ketika membaca bukunya. Sehingga, orang biasanya menggerutu mengapa filmnya seperti ini? Mengapa banyak yang berbeda? Sebut saja Harry Potter atau Twilight saga.

Meskipun demikian, anggapan bahwa novel selalu lebih bagus daripada filmnya tidak selamanya benar. Jika biasanya saya kecewa dengan penggarapan film karena gagal membangkitkan jiwa fantasi penontonnya, maka tidak di Hunger Games. Harus saya akui Gary Ross (sutradara The Hunger Games) lebih berhasil menghidupkan jalan cerita Hunger Games daripada penulis novel aslinya, Suzanne Collins. Sosok Katnis Everdeen, gadis pemanah dari Distrik 12 itu nampak lebih menemukan jati dirinya dalam polesan Gary.

Katniss Everdeen dan Peeta Melark adalah dua terpilih yang harus mewakili distrik mereka, Distrik 12, untuk dikirim ke Hunger Games. Setiap tahunnya, masing-masing distrik harus mengirimkan dua tribut, pria dan wanita, untuk dibawa ke Capitol, negara yang membawahi mereka, sebagai pengingat akan pemberontakan di masa lalu. Di dalam Hunger Games, mereka harus berjuang mempertahankan hidup melawan ke-22 peserta lainnya. Dan dari 24 peserta, hanya satu yang dinyatakan sebagai pemenang.

Suzanne memang nampak berusaha keras membuat The Hunger Games terkesan mencekam namun tidak meninggalkan sisi dramatis. Terutama karena di tengah pertarungan sengit antar tribut, ia memunculkan sosok Katniss Everdeen dan Peeta Mellark sebagai pasangan yang harus terlihat kasmaran di arena permainan. Namun di sinilah kepiawaiannya menghidupkan suasana tersebut terasa kurang. Meskipun ia telah membuat kedua remaja itu berpelukan, hingga berciuman berkali-kali, sayangnya di awal ia terlanjur menempatkan posisi Katniss menjadi kurang memiliki daya tarik.

Sosok Katniss Everdeen di dalam film merupakan sosok gadis acuh, sedikit arogan, tidak pandai bergaul namun terkesan kuat. Ia juga sangat membenci Peeta, bahkan sekedar untuk berbicara dengannya. Bertentangan dengan sosok Katniss buatan Suzanne, Katniss-nya nampak lebih lemah dan kurang menemukan siapa dirinya. Bagaimana mungkin ia yang semula tidak mengenal Peeta tiba-tiba mau menciumnya? sekedar untuk menjadi strategi permainanpun rasanya tidak masuk akal. Sehingga, tindakan Gary membuat Katniss sempat menolak berpegangan tangan saat arak-arakan pembukaan tribut mengusung mereka membuat jalan cerita lebih berarti.

Kegagalan lain Suzanne adalah saat ia berusaha membuat hubungan antara Katniss dan Thresh, pasangan Rue dari Distrik 11, saat momen perebutan makanan di Cornucopia. Sebagai sesama musuh yang serusaha bertahan hidup, tidak masuk akal jika Katniss yang sama sekali belum pernah bertemu Thresh terlibat dalam dialog yang cukup panjang. Meski Katniss bersekutu dengan Rue sekalipun, karena saat itu ia berada dalam posisi bertarung dan dalam pengawasan musuh dari distrik lainnya, Cato.

Ketika Thresh berputar ke arahku,batu di tangannya terangkat, aku tau tak ada gunanya bagiku untuk lari. Dan busurku kosong, tadi sudah kutembakkan ke arah Clove. Aku terperangkap dalam sorot mata coklat keemasannya yang aneh “Apa maksud dia? Tentang Rue jadi sekutumu?”

Aku-aku- kami bergabung. Meledakkan persediaan mereka. Aku berusaha menyelamatkannya, sungguh. Tapi dia lebih dulu berada di sana. Anak lelaki Distrik 1.” kataku. Mungkin jika dia tau aku membantu Rue, dia takkan membuatku mati perlahan dan sengsara.

Dan kau membunuh anak lelaki itu?” tanyanya.
Ya. Aku membunuhnya. Dan memakamkan Rue dengan bunga-bungaan,” kataku. “Lalu aku bernyanyi untuknya sampai dia terlelap” ……..
Sampai terlelap?” tanya Thresh serak.
Sampai mninggal. Aku bernyanyi untuknya sampai sia meninggal,”……

Sebaliknya, Gary berhasil membuat momen tersebut bermakna hanya dengan satu kalimat yang keluar dari mulut Thresh. “Just for this time, 12 (Katniss). For Rue!”. Kalimat yang sudah mewakili rasa terimakasih Thresh, kalimat yang menyatakan bahwa meskipun ia berterimakasih keduanya tetaplah musuh.

Membaca dialog ini di dalam buku, rasanya seperti menonton drama bodoh Indonesia yang mana para tokoh justru berdialog sendiri untuk mengekspresikan perasannya.

Meskipun pembuatan fim ini terbilang sukses, The Gunger Games pun tidak terlepas dari penyederhanaan-penyederhanaan tokoh dan jalan cerita seperti di film-film yang berangkat dari novel lainnya. Misalnya ketika ditiadakannya tokoh Madge, anak walikota Distrik 12 yang menyerahkan pin Mockingjay kepada Katniss, dan sebagai gantinya dimunculkan adik Katniss sebagai sosok yang berduka atas tindakan kakaknya menggantikannya sebagai tribut. Tidak ada gambaran mengenai ayah Katniss yang meledak di tambang batu bara, juga tidak ada Seneca Crane, the game maker.

Film The Hunger Games memang banyak melakukan perombakan untuk menutupi kekurangan novel Suzanne. Sementara itu, meskipun Suzanne nampak kewalahan di awal bercerita, ia mengakhiri buku pertamanya di trilogi Hunger Games dengan eksekusi yang sangat emosial dari Peeta dan Katniss. Dan inilah yang membuat saya sempat sesak sesaat, yakni saat Peeta menghadapi kenyataan bahwa cinta Katniss padanya hanyalah sekedar acting untuk mendapatkan simpati Capitol.

Saya jadi penasaran dengan novel kedua Suzanne. Apakah Catching Fire akan sebagus dalam filmnya?

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s