Di Balik Manis Senyum Karyamin

IMG_20140503_093956

Terlepas dari karya Ahmad Tohari atau bukan, yang selalu mendahului rasa penasaran saya pada buku kumpulan cerpen adalah rahasia dibalik judul cerpen yang dipilih menjadi judul utama sebuah buku kumpulan cerpen. Karena orang tidak mungkin begitu saja meletakkan judul anu tepat di halaman muka sampul buku. Jelas tidak.

Seperti Senyum Karyamin misalnya. Kalaulah bukan karena menyimpan kekuatan mahadahsyat, di mana dibalik judul cerita sederhana itu ada ujung tombak yang siap memberikan kejutan luar biasa kepada pembacanya, tentu Senyum Karyamin tidak akan dipilih menjadi judul utama buku.

Apalagi kenyataannya Senyum Karyamin bukanlah senyum menawan seorang pemuda tampan yang merekah dari bibir merahnya yang menawan. Bukan senyum dari seorang yang netjis dalam balutan kemeja wangi bersetrika. Bukan pula senyum yang menunjukkan ketenangan jasmani dan rohani seorang insan manusia. Melainkan senyum seorang yang tertatih atas lapar yang ditahannya, senyum yang merekah diatas pundi-pundi hutangnya, senyum yang selalu terpampang di atas pahitnya kehidupan yang dijalaninya, senyum yang lantas diberikannya apabila penangih hutang selalu datang kepadanya.

Tetapi di sinilah kekuatan mahadahsyat itu diletakkan. Siapa sangka senyum pasrah seorang penambang batu, Karyamin, memiliki sejarah di mana ia sempat menghebohkan negeri tercinta ini. Cerita pendek ini membawa kita pada masa yang kini menjadi sejarah, masa di mana dulu Indonesia sempat mampu berswasembada beras.

Waktu itu di tahun 1985, Indonesia yang masa itu dijabat oleh Presiden Soeharto sempat mendapatkan penghargaan dari FAO atas keberhasilannya berswasembada beras. Sebagai bentuk balasan atas “kebaikan” FAO, maka petani Indonesia menyumbangkan beras sebanyak 5 juta ton untuk bencana kelaparan di Afrika.

Di sinilah awal mula kehobohan negeri ini dimulai. Proses pengumpulan sumbangan petani dikritik banyak orang karena dikumpulkan dengan cara memotong harga jual gabah petani via Bulog.

Di tengah banjir kritik itulah cerpen Ahmad Tohari yang berjudul “Senyum Karyamin” ini diterbitkan di Kompas Minggu. Terbitnya cerpen itu memicu keributan hebat sehingga redaktur budaya (Don Sabdono/Bre Redana) dicopot  dari jabatan dan “diasingkan” oleh petinggi Kompas ke luar negeri selama beberapa tahun.

Selain isi cerpen yang dirasa sangat menyindir, judul cerpen itu sendiri juga mengandung sensitivitas. Digunakannya nama “Karyamin” dibaca orang sebagai sindiran terhadap Golkar.

Nama Don Sabdono juga dikait-kaitkan dengan musuh besar Orde Baru, komunis. Sepulang dari sekolah di luar negeri, tulisan-tulisan Don Sabdono memang berbau kekiri-kirian, sehingga petinggi Kompas “terpaksa” mengganti nama Don Sabdono menjadi Bre Redana, sekadar untuk menyamarkan identitasnya.

Kejadian lolosnya “Senyum Karyamin” yang bersamaan dengan kedudukan DS sebagai redaktur desk budaya, entah kebetulan atau tidak, menjadi momentum yang sempat mengharu-biru negeri ini… (informasi dikutip dari diskusi bersama om Hery Hugroho Djojobisono di Facebook). 

Ahmad Tohari jelas mengangkat ketimpangan yang terjadi antara rakyat jelata atas kesewenang-wenangan penguasa. Ketimpangan sosial yang disampaikan dengan nada mengkritik, kritik masyarakat kelas bawah terhadap atasannya, kritik rakyat jelata terhadap pemerintah.

Tidak hanya melalui cerpen Senyum Karyamin tentunya. Melalui ke-12 cerpen lainnya Tohari menyampaikan kritiknya kepada kehidupan sekitarnya, kepada birokrasi pemerintahan desa, kepada tengkulak, pejabat yang pongah, pemimpin yang abai terhadap rakyat, polah priyayi masa sekarang, hingga budaya kawin muda seperti yang ia sampaikan dalam Si Minem Beranak Bayi. 

Lagi-lagi yang saya kagumi dari karya-karya Ahmad Tohari adalah bagaimana ia mengangkat topik-topik sederhana yang terjadi di kehidupan sekitarnya menjadi karya yang hidup dan menggugah.

Ditambah kemampuan Tohari menghidupkan suasana pedesaan, yang meskipun polos, lugu, bodoh, dan tertinggal dari segala aspek namun membawa kesejukan bagi siapapun yang jengah hidup di kota besar dengan hiruk pikuknya yang menyesakkan. Nama-nama seperti Sanwirya, Minem, Blokeng, Kenthus, beserta perbukitan terjal, kampung becek, tebing curam penuh pakis, mungkin bukan sesuatu yang akrab lagi bagi kita yang kini tinggal di tengah modernisasi kota. Meskipun demikian, Tohari telah menyibakkan tirai pembatas antara desa dan kota. Bahwa di tempat yang bergelimang cahaya seperti kota, ada sisi di mana terdapat tempat yang gelap dan mungkin tanpa pelita.

Bagi saya sendiri, membaca karya Tohari adalah sekaligus melatih imajinasi seorang ilmuwan sosiologi. Sehingga karya Tohari adalah bacaan wajib bagi siapapun yang menekuni ilmu sosial dan kemasyarakatan.

©Tina Latief 2014

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s