Menapak Tilas Pemikiran Durkheim dalam “Perubahan Sosial di Yogyakarta”

Selo Soemardjan seperti halnya Emile Durkheim, merupakan ilmuwan sosial yang beruntung bisa hidup di beberapa masa yang berbeda. Sehingga secara gamblang ia dapat merasakan bagaimana perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam masa-masa tersebut. Ditambah ia merupakan sosok asli kelahiran Yogyakarta yang menghabiskan masa tumbuh kembangnya di Yogyakarta pula. Sebagai saksi kehidupan Indonesia dari sebelum merdeka hingga kekuasaan pemerintahan berada di bawah naungan NKRI seutuhnya, tentu tidaklah sulit baginya membaca dinamika perubahan sosial di dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan Yogyakarta.

Melalui bukunya Perubahan Sosial di Yogyakarta, Selo mencoba menjelaskan bagaimana perubahan-perubahan sosial yang terjadi di Yogyakarta pada masa Pendudukan Belanda, militeristik Jepang, hingga saat Yogyakarta berada di bawah naungan RI.

***

shareTidaklah sulit menebak jalan pemikiran Selo dalam buku ini. Kentara sekali bahwa pemikiran Selo tentang perubahan sosial di Yogyakarta dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Durkheim.

Dalam devision of labour, Durheim melihat pembagian kerja yang muncul di masyarakatnya kala itu sebagai konsekuensi dari munculnya revolusi industri. Masyarakat yang semula belum mengenal pembagian sistem kerja, akibat revolusi industri, menjadi makin terspesialisasi ke dalam pembagian kerja. Pada titik tertentu, pembagian kerja yang semakin rumit mendorong solidaritas masyarakat berubah. Masyarakat yang dulu terikat ke dalam kesadaran kolektif berubah menjadi lebih individual.

Dalam rangka membentuk titik equilibrium pada kondisi yang baru tersebut, ada masa yang disebut Durkheim sebagai anomie, yakni masa di mana norma yang baru belum sepernuhnya terbentuk/mapan. Akibatnya individu yang telah kehilangan norma-norma lamanya akibat tuntutan kondisi yang baru tidak punya pegangan/ arah yang jelas dalam hidupnya. Sehingga mereka terkatung-katung ke dalam kondisi di mana kehidupan sosial belum memiliki nilai dan norma yang mapan. Sejalan dengan itu pula maka perubahan yang sifatnya tidak diinginkan terjadi.

Dalam kasus di Yogyakarta, pembagian kerja muncul sebagai akibat dari perubahan sistem pemerintahan dari yang semula sangat tersentralisasi dan otrokratis menjadi desentralisasi dan demokratis. Masyarakat yang pada saat penjajahan tidak mengenal pembagian kerja khususnya di pemerintahan, dituntut untuk mengenal pembagian kerja pada saat sistem demokrasi mulai diterapkan. Akan tetapi perjalanan itu tidak mudah. Dalam rangka menanggapi tuntutan perubahan itu, muncullah apa yang disebut Durkheim sebagai anomie. Mekipun pembagian kerja diakui, dalam praktiknya masyarakat masih mengalami kesulitan karena tidak terbiasa menghadapi sistem kerja yang sedemikian rupa.

Perubahan sosial di Yogyakarta, meskipun pada dasarnya muncul akibat 3 masa yang berbeda—masa kolonial Belanda, Jepang, hingga berada dalam kesatuan negara Indonesia— tidak terlepas dari sosok agen perubahan. Agen perubahan yang dimaksud adalah Sultan (terkhususnys Sri Sultan Hamengkubowono IX) beserta golongan elite terpelajar.

Berkaitan dengan persoalan pokok dalam tulisan Selo mengenai perubahan ideologi politik dasar masyarakat Jawa di Yogyakarta, Sultan dan golongan kelite terpelajar menyumbang peran penting dalam proses perubahan revolusioner tersebut. Sultan sebagai pemimpin utama keraton Yogyakarta —meskipun saat itu sesungguhnya Belandalah yang menjalankan pemerintahan utama— merupakan sosok yang dianggap sebagai sumber prestise masyarakat Yogyakarta. Segala sesuatu mengenai sultan dianggap baik. Keadilan, kehormatan, kemakmuran, kebijakan, Sultan merupakan sumber panutan masyarakat yang pengaruhnya menjamah hingga pada aspek terkecil masyarakat. Sementara kalangan elite terpelajar memegang peranan dalam mengkomunikasikan perubahan revolusioner yang terjadi kepada masyarakat terkhususnya masyarakat petani buta huruf yang cenderung melihat perubahan sebagai bentuk negatif dan destruktif.

Saat pendudukan Belanda dan Jepang di Yogyakarta runtuh, tindakan Sultan (Sri Sultan Hamengkubuwono IX) mengambil alih pemerintahan keraton menyebabkan keraton menjadi lebih dekat dengan rakyat. Semenjak Sultan membagi kekuasaannya dengan anggota DPD, prestise masyarakat tentang jabatan priyayi menurun. Seiring dengan sistem pemerintahan demokratis, banyak kalangan luar/ bawah yang menjadi pejabat-pejabat baru. Dampaknya di satu sisi, status kebangsawanan Jawa mengalami kemerosotan. Di sisi yang lain, masyarakat mulai berpandangan bahwa kedudukan dan kehormatan kini dapat diperoleh bukan hanya melalui nama/ pernghargaan melainkan dengan usaha. Tindakan Sultan inilah yang kemudian mendorong munculnya golongan/kelas baru yakni golongan terpelajar atau kaum intelek.

Pandangan tersebut secara berangsur-angsur membuka jalan bagi sistem stratifikasi yang semula tertutup menjadi stratifikasi yang bersifat terbuka.Karena saat itu hanya dengan cara menempuh pendidikan tinggi maka seseorang bisa duduk didalam pemerintahan, maka banyak diantara masyarakat yang kemudian sadar akan pendidikan dan menempuhnya sebagai sarana baru dalam mencapai kelas sosial tertentu. Pandangan akan hewan ternak yang semula dianggap sangat prestise di masyarakatpun lama-lama berubah. Seiring dengan prestisenya pendidikan, hewan ternak lebih banyak dijual untuk kepentingan pendidikan.

Maraknya pendidikan bukanlah satu-satunya fenomena di masyarakat dalam rangka mengimbangi perubahan-perubahan yang terjadi di Yogyakarta. Secara berangsur-angsur, penggunaan bahasa sehari-haripun turut berubah dari semula bahasa Jawa yang berstrata, menjadi bahasa Indonesia yang tidak menunjukkan adanya strata di masyarakat. Tidak hanya sekedar di dalam perbincangan formal antara pejabat daerah. Bahasa Indonesia di gunakan pula di dalam kehidupan keraton, termasuk saat berbicara kepada Sultan.

Komunikasi antara pamong praja dengan pemerintah desa pasca revolusi menjadi semakin mudah. Jika dulu pamong desa tidak pernah bisa memasuki pamong praja, dalam sistem yang baru komunikasi antar dua aktor tersebut mulai terbuka. Sejalan dengan terbukanya sistem kelas, masyarakat menjadi lebih mudah memperluas ruang lingkupnya. Berkembangnya ilmu pengetahuan, dan runtuhnya rintangan kelas menyuburkan hasrat untuk meraih kedudukan yang tinggi di dalam masyarakat. Sehingga apa yang disebut Durkheim sebagai perubahan solidaritas dari mekanik ke organikpun muncul, yakni mulai mengendurnya ikatan-ikatan tradisi yang mengikat masyarakat sebagai akibat dari pembagian sistem kerja yang terjadi di lingkungan mereka.

***

Faktor agen perubahan memang tidak dapat dipisahkan dari proses perubahan sosial di Yogyakarta. Meskipun demikian ada beberapa faktor lain yang turut menyumbang perubahan sosial di Yogyakarta yang sifatnya tidak bisa dikendalikan oleh Sultan maupun kalangan elite terpelajar saat itu. Faktor tersebut adalah kepercayaan akan ramalan kuno Jayabaya.

Pada masa pendudukan Belanda, struktur masyarakat menempatkan Belanda sebagai kelompok yang menempati kelas utama di dalam masyarakat. Meskipun saat itu Sultan merupakan sentral prestisenya masyarakat, Belanda menduduki kekuasaan diatas Sultan dan menempati pusat-pusat terpenting pemerintahan. Sehingga Belanda serta merta menjadi sosok yang paling diagungkan masyarakat. Terutama karena secara ras dan gaya hidup mereka jelas berbeda dengan masyarakat Jawa khususnya pribumi.

Namun anggapan itu runtuh tatkala Jepang menaklukkan Belanda. Peristiwa kekalahan tentara Belanda atas Jepang membuka mata mata rakyat bahwa Belanda bukanlah segalanya. Berita kekalahan negeri Belanda seketika meruntuhkan superioritas Belanda atas kaum Jawa. Belanda bukan lagi kelompok yang terhormat, melainkan kelompok yang tak ubahnya dalam kasta paria.

Faktor selanjutnya adalah mengenai sebuah drama yang dilakonkan oleh inspektur pamong praja Belanda di Gunung Kidul. Akibat esalahannya yang dilakukan inspektur tersebut menyebabkan yang hadir di dalam konferensi, pamong praja Jawa, mengetahui kedudukan Belanda yang saat itu tidak stabil. Kejadian tersebut kemudian menjadi pertanda akan berakhirnya kekuasaan Belanda di Indonesia. Selebihnya, peristiwa itu kemudian meruntuhkan mitos supremasi orang Belanda atas orang Jawa sehingga gerakan revolusipun menjadi lebih mudah tercapai. 

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s