Tidak Heran Jika PNS Masih Laris

pns

diambil dari statik.tempo.co

Tidak mengherankan sebetulnya jika profesi Pegawai Negeri Sipil hingga saat ini masih menjadi profesi yang digantungkan penghidupannya oleh banyak pihak. Karena secara historis negara kita memiliki kisah di mana jawatan-jawatan diperbesar guna menangani masalah kesejahteraan masyarakat.

Dulu sebelum kemerdekaan, pemerintah kolonial menekan keleluasaan rakyat agar sekecil mungkin bisa ikut andil dalam pemerintahan. Pemerintah dengan sengaja tidak memperluas dinas-dinas umum bagi rakyat jajahannya karena khawatir akan menambah pengeluaran. Ide menaikkan pajak sempat menjadi alternatif mereka untuk memasok kembali kas pemerintahan. Namun pemerintah memutuskan tetap bersikukuh dengan kebijakan semula. Karena mereka tau, meskipun mereka menaikkan pajak, rakyat tetap tidak bisa memenuhi kas pemerintahan. Rakyat terlalu miskin untuk membayar pajak yang terlampau tinggi. Konsekuensinya, pada titik tertentu baik pemerintah kolonial maupun rakyat harus terseret ke dalam lingkaran setan kemiskinan dan kurangnya pendapatan pemerintah. Sehingga saat kemerdekaan tercapai yakni di tahun 1945, hal yang pertamakali dilakukan selain melakukan penggantian pejabat pemerintahan adalah memperbesar jawatan-jawatan yang ada untuk menangani masalah kesejahteraan rakyat.

Benar, saat jawatan-jawatan diperluas, banyak sekali orang yang berbondong-bondong mendaftarkan diri. Pada 23 November 1958, dinyatakan oleh Wakil Perdana Menteri Republik Indonesia saat berbicara di depan konferensi Induk Koperasi Pegawai Negeri di Bandung, Indonesia memiliki sekitar 2 juta pegawai negeri sipil yang memperoleh gaji bulanan dan harian atau setara dengan perbandingan 1:10 di setiap keluarga. Sementara di Jogja sendiri terdapat peningkatan kegiatan pemerintahan dan personalianya dengan jumlah yang jauh berbeda dari masa pemerintahan oleh Belanda. Hal ini menyebabkan pengeluaran pemerintahan Jogja membesar. Di tahun yang sama, tercatatpengeluaran sebesar lebih dari 103 juta untuk gaji, dan lebih dari 60 juta untuk semua pengeluaran lainnya.

Lima puluh delapan tahun yang lalu setidaknya kebijakan pemerintah Indonesia menyokong kehidupan masyarakat dengan jalan membuka peluang kerja di pemerintahan adalah tindakan yang dirasa perlu guna membantu meningkatkan kesejahteraan rakyat meski pemerintah harus mengalami inevisiensi pekerjaan karena terlalu banyak pegawai yang ditampung. Masalahnya peminatan pegawai negeri hingga saat ini tidak berkurang, justru sebaliknya. Berapa setiap tahunnya masyarakat yang datang mendaftar hingga mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk sebuah harapan penghidupan dari profesi pegawai negeri sipil?

Dari historisnya mungkin kita bisa mengatakan menjadi PNS adalah kultur yang diwariskan pendahulu kita yang dulu sempat merasakan jayanya hidup saat menjadi pegawai negeri. Namun tentunya kita turut bertanya, jika 68 tahun kemudian menjadi pegawai negeri masih merupakan profesi yang prestise, mungkinkah kesejahteraan rakyat saat ini masih rendah? Atau hanya merekalah yang haus kekuasaan dan kedudukankah? Mengingat jabatan-jabatan pemerintahan sejak jaman kolonial dianggap memiliki kekuasaan yang besar dan prestise di masyarakat. Bisa jadi kedudukan ini masih sangat bernilai di masyarakat.

One thought on “Tidak Heran Jika PNS Masih Laris

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s