Monas, Feeling Regret About The Past

20140308_103000.resizedPernahkah Anda melihat proses ayam bertelur? Bagaimana proses ayam mengeluarkan telurnya? Bagaimana posisi sang betina ketika sedang mengejan mengeluarkan telur?

Sehari sebelum acara #SB2014, bertepatan dengan hari di mana saya dan teman-teman model melakukan gladi resik, saya mengunjungi Museum Nasional, Museum Gajah. Mulanya saya pikir saya hanya akan berada di dalam acara gladi resik saja, tetapi kesempatan kali itu juga membawa saya berkeliling museum.

20140308_102406.resized

20140308_102430.resized

Ke Monas saat itu bukanlah pertama kalinya bagi saya. Namun karena seringnya dulu ke sini di saat masih kecil, ada banyak sekali ingatan yang terlupakan dari tempat ini. Bahkan ada beberapa sudut ruangan yang saya rasa belum sempat saya datangi. Seperti misalnya ruangan yang menyimpan banyak prasasti dari jaman kerajaan Hindu-Budha, hingga kerajaan Islam. Begitu mengagumkan karena semua benda-benda peninggalan bersejarah yang biasanya dulu hanya saya lihat di dalam buku, kini bisa saya lihat, pegang, dan raba.Β 20140308_145128.resized

Bersama Kak Una dan Kak Mimi, saya berkeliling di setiap ruangan penyimpanan tersebut. Meniliknya satu-persatu, mengambil gambar, tak sungkan pula kami berpose narsis diantara batu-batu prasasti tersebut.

Sayapun tak ketinggalan mengambil gambar banyak-banyak diantara peninggalan yang ada. Sampai-sampai saya tidak mengerti, akan saya apakan gambar-gambar ini nanti?

Mungkin saya simpan, iya. Namun kegunaannya selanjutnya saya masih belum tau pasti. Mendalami sejarah bagaimanapun juga pupus sudah bagi saya karena apa yang saya pelajari di bangku kuliah kini tak lagi melulu tentang sejarah seperti pejalaran beberapa tahun silam.

These things are my favorite, they are look like properties of Jack Sparrow and his Black Pearl

Saya hanya menyayangkan keabsenan saya pada benda-benda bersejarah seperti ini di kala saya telah sampai pada tahapan berlogika, dan bisa mencerna setiap peristiwa baik masa sekarang maupun masa silam. Andai kata saya ada di tempat ini lebih cepat daripada kunjungan saya sekarang, mungkin saya akan banyak tertarik pada benda-benda agung nan istimewa di sini.

Sekarang saya hanyalah wisatawan, bukan sosok budayawan ataupun ilmuwan yang mengkaji benda-benda bersejarah dengan penuh perhatian. Bagi saya, benda-benda itu kini terlihat biasa, layaknya saya melihat sesuatu yang istimewa namun tak menimbulkan banyak tanya. Sama seperti ketika saya akhirnya bisa menyaksikan bagaimana proses ayam mengejan, mengeluarkan tenaga demi tenaga untuk mengeluarkan telur dari perutnya. What a special moment I think, karena tidak semua orang bisa melihatnya. Namun pada akhirnya saya merasa hal ini sia-sia, karena kini saya tak lagi bercita-cita menjadi ahli ilmu alam.

Saya sangat menyayangkan pada apa yang selama ini dipelajari orang khususnya anak-anak. Anak-anak mempunyai perhatian besar pada pengetahuan, namun memiliki keterbatasan pada ketersediaan sumber pengetahuan. Peristiwa ayam bertelur bukanlah sesuatu yang seharusnya langka untuk dilihat dan dipelajari anak-anak. Jika hingga 17 tahun lamanya belum pernah sekalipun ia melihat, betapa miskinnya penyedia pengetahuan di sekitarnya. Tak ubahnya dengan sekumpulan prasasti di Monas yang tidak bisa dijangkau semua anak yang saat ini sedang belajar Sejarah. Amat disayangkan bukan? Mereka belajar layaknya orang buta yang meraba-raba, hanya bisa membayangnya bagaimana bentuk dan rupanya.Β 

Hmmm, setelah menulis ini saya jadi punya ide. Bagaimana kalau pengabdian masyarakat mendatang mengadakan acara sharing pengetahuan tentang prasasti dan kebudayaan? Sepertinya seru.

Demikian Ki Sanak. Ngomong-ngomong, sudahkah Anda melihat ayam bertelur dan Monas?

8 thoughts on “Monas, Feeling Regret About The Past

  1. giewahyudi

    Kok Monas sih disebutnya, Museum Nasional ini lebih akrab disebut Museum Gajah atau Munas, meski jadinya mirip sama musyawarah nasional gitu..

    Waktu saya ke sana, saya minta izin sama petugasnya apakah boleh memotret, aneh sih ketika ternyata diizinin padahal seharusnya ga boleh. Inget kan sama 4 koleksi Museum Nasional yang dicolong itu? Katanya kan malingnya sudah survei berkali-kali..

    Soal ‘keabsenan saya pada benda-benda bersejarah’ itu sebenarnya bisa sih kalau kita mau memberi lebih banyak waktu. Hehehe

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      Iya mas, karena dekat dengan Monumen Nasional-nya makanya saya suka menyebutnya Monas hehe

      Mulanya saya juga heran, kenapa wktu saya memotret-motret tidak ditegur, kecuali saat saya menyentuh ataupun salah injak baru ditegur.

      Nah itu mas, ketika itu saya besar di Jogja. Maka perhatian pada benda-benda seperti inipun tak ada. Atau ini hanya sekedar alasan ya.. hahaha

      Like

      Reply
  2. Kimi

    Aku tadinya pikir ini tentang Monas yang Monumen Nasional itu. Pas dibaca ternyata Museum toh… Aku belum pernah ke sana nih. Cupu banget ya? 😦

    Like

    Reply
  3. maisyafarhati

    Aku suka museum ini, termasuk salah satu museum di Jakarta yang cukup rapi dan terawat. Tapi judulnya agak misleading nih hehe.. Monas kan sebutan untuk Monumen Nasional. πŸ˜€
    Sudah pernah ke Museum Bank Indonesia dan Museum Bank Mandiri di Jakarta? Itu juga bagus. πŸ™‚

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s