Menjadi Wanita

Terkadang saya benci ketika harus menjadi wanita.

Ketika saya menjadi wanita, maka saya akan banyak menghabiskan waktu dan tenaga. Saya harus belanja berlama-lama, hingga terpaksa membuang-buang uang sekenanya.

Karena saat saya menjadi wanita, maka saya akan identik dengan kesempurnaan dan rupa. Ketika ada setitik tak sempurna, maka saya pasti akan belama-lama mencari yang paling sempurna diantara yang ada.

Sama seperti ketika saya harus mencari sepatu wanita untuk keperluan acara 9 Maret mendatang. Astaga, 5 jam saja tak cukup bagi saya. Wanita.

Apakah semua wanita akan seperti ketika saya menjadi wanita? Sungguh, kalaupun saat ini saya tidak dipaksa menjadi wanita, saya mungkin akan memikirkannya dengan seksama apa-apa yang akan saya kerjakan di dalamnya.

Karena ketika saya menjadi Tina yang sebenarnya, maka saya tidak akan menggunakan heels setinggi 10 senti, melainkan sepatu kets yang nyaman di kaki. Akan berjalan cepat, bukannya berlambat-lambat, dan akan berpenampilan biasa sehingga nampak tidak menarik perhatian mata.

Dan Tina yang sebenarnya hanya akan menyukai dan mengagumi satu pria di hatinya. Fa…

Meskipun ada pria lain di depannya, Tina adalah Tina, yang tidak mudah tergoyah oleh cinta dari banyak pria ha ha ha..

So what anyway? ๐Ÿ˜€

Me vs Woman

One thought on “Menjadi Wanita

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s