Cerita Si Kucing

Di rumah ada kucing betina yang lucu dan cantik. Dulu saya sering melihatnya dikejar-kejar banyak kucing jantan sampai saya terganggu karena berisik suaranya.

Suatu ketika saya mendengarnya bermain-main di dekat kamar mandi. Karena penasaran saya datang ke kamar mandi. Saya terkejut namun kemudian tersenyum-senyum sendiri. Si kucing betina saya temukan sedang bercinta dengan pejantan pilihannya.

Beberapa minggu kemudian, saya melihat perutnya mulai menggembung. Di minggu-minggu berikutnya perutnya semakin besar dan semakin membesar. Sang kucing sebentar lagi menjadi induk kucing. Saya mulai menerka-nerka berapa kira-kira jumlah anak di perutnya.

Tebakan saya benar, ada dua kucing mungil di dalam perutnya. Sehari sebelum melahirkan, si induk sempat masuk ke kamar dan meraung-raung sambil menggelayut ke setiap benda yang ditemuinya. Karena khawatir melahirkan di sana, saya usir dia keluar agar tidak mengotori kamar.

Di hari berikutnya hingga beberapa hari selanjutnya, saya tak pernah lagi melihatnya. Namun selang beberapa waktu kemudian, saya melihatnya berjalan bersama dua anak kucing yang sudah bisa berlari-larian. Setiap hari mereka pergi bersama, berlarian berkejar-kejaran bersama.

Anak kucing tersebut berjenis kelamin jantan dan betina. Sebut saja yang jantan si kelabu, dan si putih untuk yang betina. Kedua kucing itu sangat lucu dan menggemaskan. Kalau kata orang, diusia itu kucing sedang lucu-lucunya. Sayangnya kedua kucing itu penakut. Saat hendak didekati bahkan untuk diberi makan sekalipun mereka kabur, lari tunggang-langgang.

Sebulan lebih liburan di Jogja, menjadi waktu yang lama untuk tidak melihat kucing-kucing tersebut. Betapa kagetnya ketika melihat kedua kucing mungil itu kini telah dewasa. Badannya bagus, berisi. Bulunya halus dan juga lembut.

Namun lebih terkejut lagi ketika si kelabu sudah berani mengawini betina, sementara si putih yang terlihat begitu gendut saat itu telah mengandung pula. Tidak ketinggalan si induk yang dulu melahirkan mereka kini telah memiliki putra selanjutnya. Tubuhnya menjadi tak seramping dulu, tetapi muka lucu dan cantiknya masih nampak di mukanya.

Saya senang sekali melihat momen hidup kucing-kucing tersebut. Mereka hidup berkelanjutan, beranak pinak membentuk generasi penerus mereka.

Yang membuat saya senang lagi, mereka tetap bersama-sama meski telah berkeluarga. Si putih dan si kelabu masih saja menggelanyut manja pada induknya yang kini telah memiliki anak yang lainnya, bahkan masih berbagi makanan saat menemukan makanan yang berlimpah.

What a happy family πŸ™‚

Note: Adegan dalam cerita ini hanyalan cerita di kehidupan kucing semata. Apabila ada persamaan tindakan dan kelakuan seperti penyayang, perhatian, suka berbagi, dan menjaga kebersamaan seperti di dalam kehidupan manusia, maka adalah petuah yang dapat diambil hikmahnya. Namun jika tindakan itu adalah poligami, berganti-ganti pasangan dan menghamili tanpa pertanggungjawaban seperti dalam kisah kucing tersebut di atas, maka adalah untuk tidak dibenarkan dan pantas dihukun seberat-beratnya termasuk disebut sebagai binatang bagi siapa yang melakukannya.

4 thoughts on “Cerita Si Kucing

  1. Ujang Sundana

    Lucu cerita tentang kucingnya nih, mbak
    Saya suka kucing, walau belum bisa memeliharanya sendiri di kamar kontrakan saya.
    Di pabrik tempat saya bekerja ada juga beberapa kucing liar. Beranak pinak disana. Suka ngeri saja lihat anak-anaknya berlarian, kuatir kejebak ke mesin produksi. Beberapa berhasil ditangkap dan di serahkan ke satpam. eh beberapa hari kemudian, sudah kelihatan berkeliaran di pabrik…
    Ada-ada saja…

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s