Cupuwatu, Akhir Masa Liburan di Jogja yang Tak Mudah Dilupakan

IMG_20140208_121041

BEBERAPA jam sebelum kembali ke Jakarta, saya masih memiliki sedikit cerita tentang Jogja. Ceritanya saya makan siang di resto Cupuwatu.

Saya tentu tidak akan bercerita jika makan siang hari itu tidak istimewa. Hari itu adalah hari terakhir di mana saya dan salah seorang teman saya bisa bersama selama liburan di Jogja. Istimewa lagi karena ternyata makan di Cupuwatu tidak mengecewakan. Selain tempatnya nyaman, pelayanannya juga menyenangkan.

13919555554376

13919555435525

13919555300364Bagi kami, cerita tentang makanan dan cita rasanya adalah nomor dua. Mengingat kedatangan kami ke Cupuwatu adalah untuk spend time sebelum jam penerbangan tiba, maka kenyamanan tempat menjadi pertimbangan kami yang pertama.

13920037480690Cupuwatu memiliki ruang perjamuan yang sangat nyaman. Lightingnya pas di mata, tidak lebay dan menusuk mata. Suasananya terkesan mewah, namun tetap menyertakan sentuhan khas Jawa melalui pernak-pernik cantik yang dipajang di sana. Adapun bagi penyuka kursi malas yang empuk dan nyaman untuk menyandarkan punggung, Cupuwatu juga menyediakan sofa diantara kursi kayu biasa. Kesan nyaman dan keinginan untuk berlama-lama semakin sempurna ketika lagu-lagu dengan aransemen yang cantik menyertai obrolan kami sembari menyesap minuman.

13919554622073

Selera kita… berbeda

Tak lama setelah kami sampai di sana, pelayan membawakan buku menu ke meja. Seperti biasa, minuman menjadi pesanan terlebih dulu. Cupuwatu menyediakan berbagai varian minuman di sana. Ada minuman ber-es seperti juice dan juga wedang. Karena belum pernah mencoba, Wedang Uwuh menjadi minuman pilihan saya, sedangkan teman saya memilih Teh Madu sebagai teman ngobrolnya.

Dulu saya sering mendengarkan cerita orang minum seduhan beraneka rempah di dalam minuman tersebut. Katanya rasanya enak. Memilih minuman tersebutpun berawal dari rasa penasaran saya terhadap apa yang dikatakan orang. Dan benar, dalam dua teguk pertama saya bisa langsung bekesimpulan kalau rasanya memang enak.

13919552428021Pesanan yang lain segera melengkapi jamuan di meja. Ada Manuk Londo (Malon) pesanan teman saya, kacang rebus, dan juga Sup Iga pesanan saya. Malon adalah menu spesial di Cupuwatu. Masakannya beragam, mulai dari yang reguler hingga yang banyak dimodifikasi. Namun kali itu saya tidak memesannya dengan alasan kesehatan. Perut yang terasa mual membuat saya ingin sesuatu yang berkuah saja.

Sekilas tentang Malon, daging burung puyuh berwarna coklat tua itu terasa empuk di lidah. Garpu yang saya tancapkan di gumpalan daging milik teman saya itu dengan mudah meraup daging di atasnya. Lagi-lagi teknik memasak yang mengagumkan tentunya bisa membuat daging alot itu menjadi empuk. Pantas jika makanan dengan rasa dominan manis itu menjadi makanan andalan di Cupuwatu.

Well, apalagi yang perlu saya ceritakan. Makanan lezat, minuman nikmat, pelayan yang ramah, tempat yang nyaman, dan bincang-bincang menyenangkan, lengkap sudah cerita kali ini. Cupuwatu dan momen di dalamnya memang menyenangkan, namun bukan waktunya bagi saya untuk berlama-lama berada di tempat ini. Pukul 15.00 saya sudah harus check in di bandara, persiapan menuju Jakarta. Libur telah usai. Waktunya fokus kembali menyongsong masa depan.

6 thoughts on “Cupuwatu, Akhir Masa Liburan di Jogja yang Tak Mudah Dilupakan

    1. Tina Latief Post author

      Hayo bli.. katanya mau ke Jogja. Nanti kalau ke jogja mampir ke sini ya. Atau kalau Februari ini datangnya aku kasih voucher makan di sana hahaha..

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s