Catatan Malam Minggu

Bagi kami, konsepsi pernihakan itu sangatlah rumit. Mungkin tidak hanya kami yang menganggapnya seperti itu, orang waras lainnya pasti akan sependapat dengan kami.

Pernihakan adalah perwujudan komitmen tingkat tinggi dalam ikatan yang sakral. Mungkin Anda memiliki definisi yang lain -yang mungkin lebih njelimet daripada kalimat saya tersebut. Namun apapun kalimat yang mencoba mendefinisikannya, pernikahan tetaplah sesuatu yang rumit. Tidak sekedar menyatukan cinta dua hati, tidak pula sekedar bersumpah janji.

Pernikahan itu…

Tetaplah rumit di mata kami.

Akan tetapi, malam ini, seorang anak yang terbilang masih sangat muda memberikan definisi lain tentang pernikahan. Dia menunjukkan bahwa pernikahan itu adalah sesuatu yang mudah dilalui. Something easy and simple. Dengan mantap dia melangkahkan kakinya mengalahkan ketujuh orang dewasa –ibunya, kakek-neneknya, paman dan saksi-saksinya–  menuju ke kediaman kekasihnya demi sebuah posesi l a m a r a n.

Bagi saya, seorang Agung Hermawan hanyalah seorang pemuda yang masih belia. Di usianya sekarang, masih sepantasnya ia bermain-main, bercanda dan berbuat kenakalan-kenakalan seperti remaja pada umumnya. Namun, kedatangannya ke rumah untuk meminta restu sore tadi memaksa saya menyingkirkan persepsi tentangnya. Dia bukan lagi anak-anak seperti yang saya kenal 7 tahun yang lalu. Dia seorang Agung, laki-laki yang berani menyisipkan sebuah cincin di jari manis seorang Yulistiana.

Memang hingga malam ini, rasanya saya masih berhadapan dengan mimpi. Seolah tak percaya bahwa anak berusia 19 tahun tersebut menjabat tangan saya, meminta restu demi kelancaran lamarannya. Meskipun demikian, cepat atau lambat saya harus mengerti dan memahami bahwa di dalam kehidupan sosial kisah seperti inipun sangat mungkin terjadi. Ini bukanlah hal yang aneh yang tidak terjadi di tempat lain. Kita hanya perlu benar-benar memahami dari perspektif yang lebih baik, bukannya menghakimi sebagai sesuatu yang menyimpang atau tidak wajar.

Bagi saya, dia hanya melakukan sesuatu yang biasa yakni berkeinginan untuk menikah seperti orang-orang pada umumnya. Saya hanya bisa berdoa semoga ini semua menjadi awal yang lebih baik untuk teman sepermainan saya, Agung. Semoga ia menjadi sosok yang lebih berbahagia dan lebih bertanggungjawab terhadap apa yang ia lakukan. Aaamiin…

8 thoughts on “Catatan Malam Minggu

    1. Tina Latief Post author

      betul mba, memang masih sangat muda meskipun dia pria. Doa saya pun demikian, semoga bisa membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah..

      Like

      Reply
  1. aqied

    Aih Tin, agak was was gimana gitu gak sih.
    Kmaren karyawanku jg gitu
    Aq smp gak habis fikir.
    11 januari putus sama pacarnya, 19 januari dikenalin ke temen kakaknya, 27 januari lamaran, dan mw nikah 20 februari besok. Plus resign setelah itu karna suaminya gak pengen istrinya kerja kantoran.
    Ini memang beneran merekany yg cepet mateng ato akunya yg emang lambat yak? Aq smp ngeyakinin berkali kali loh beneran resign nya, apa sih yg bikin yakin bgt, endesbra endesbro.
    kalo cm liat faktor umur sih, ya cukupan lah. karyawanku itu lebih tua dr aku. tapi tapi tapi
    *eh malah curhat

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      hehe akupun berpikiran sama mulanya qied, tetapi seperti yang aku katakan di atas, cepat atau lambat aku harus mengerti dari sudut pandang yang lebih baik..

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s