Sekali-kali Menurut

Hujan deras yang mengguyur Gunungkidul pagi ini mengingatkan saya pada rencana pemerintah Provinsi DKI Jakarta tentang rekayasa cuaca untuk mencegah terjadinya luapan air di Ibu Kota Negara. Pada Selasa, 14 Januari lalu usai gubernur DKI menandatangani persetujuan rekayasa cuaca, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai melakukan rekayasa cuaca di Jakarta. Dari situ saya jadi berpikir, jangan-jangan ini masih serangkaian hujan dari Jakarta yang bernilai miliaran itu?

Tapi bisa jadi itu bukan. Karena alih-alih mendapati kabar perkembangan rekayasa cuaca tersebut, kabar yang saya terima justru kabar yang bertolak belakang dengan harapan saya pada rekayasa cuaca. Jakarta dilanda banjir. Sejumlah ruas jalan terendam air. Banyak warga terpaksa mengusi. Diikuti kabar terbaru bahwa rekayasa cuaca dinyatakan gagal menangani banjir.

Sudah saya duga. Kegagalan tersebut sudah pasti terjadi. Siapapun gubernur yang menjabat saat ini, yang sedang berusaha menangani banjir, mau tidak mau pasti menjadi olok-olok gagal menangani banjir. Karena bagi saya, melawan fitrah air tidaklah mudah. Apalagi tidak sekedar air yang dilawan, namun cuaca. Meskipun mungkin, gila menurut saya jika ketentuan alam dilawan.

Apalagi ketika kegagalan tersebut diakibatkan kurangnya persiapan dan perlengkapan. Waini. Apa tidak gila lagi melawan alam tanpa alat?

Kalau manusia ingin melawan fitrah air apalagi cuaca, 28 miliar tidaklah cukup. Paling tidak beberapa kali lipatnya lagi sehingga Jakarta punya ratusan pesawat Hercules yang setiap jamnya bisa digunakan untuk menebar garam.

Namun bagi saya, daripada membuang-buang uang untuk melawan sesuatu yang sudah benar, benar karena seharusnya hujan itu datang dan mengalir ke tempat yang lebih rendah, lebih baik manusia mengikuti saja apa aturan alam. Yakni dengan menjaga lingkungannya, merawat dan melestarikan fungsi-fungsi alam dengan sebaik-baiknya sehingga tidak perlu melakukan gencatan senjata dengan alam. 

Manusia tidak bisa terus-terusan memaksakan kehendaknya pada alam. Tidak bisa terus-terusan menuntut pada alam. Manusia menempati alam, jadi manusialah yang harus mengikuti alam, bukan sebaliknya. Jika manusia tetap melawan, bagaimanapun juga, manusia tetap akan kalah. 

Alam kok dilawan.

10 thoughts on “Sekali-kali Menurut

  1. Iwan Yuliyanto

    Alam dan fitrah-Nya memang tidak bisa dilawan oleh manusia. Segala upaya akan sia-sia, bahkan menghamburkan banyak uang.
    Betul, yang paling bijak adalah menuruti kehendak alam, dengan memberi jalan lalu lintas air dengan wajar agar tidak “berontak”, melalui perbaikan drainase, perbaiakn tata ruang kota, dll.

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      betul mas iwan.. selama ini manusia sudah banyak merubah alam yang tidak wajar, sampai terjadi eksploitasi besar-besaran. Efek yang dirasakan manusia sekarang adalah akibat dari perbuatannya. Sayangnya kok belum mengerti juga, malah makin melonjak dengan melawan kodrat..

      Like

      Reply
  2. xrismantos

    Meskipun toh strategi rekayasa cuaca itu berhasil, sampe kapan kita mau bergantung dgn itu? Dan efeknya dalam skala yg lebih luas juga kita ga tau. Bisa jadi kamu benar tin, banjir ini efek samping rekayasanya.

    Like

    Reply
  3. Arief Ramadhan

    Alam Takambang Jadi Guru, alam bisa menjadi Pelajaran yang Berharga Bagi Setiap Manusia. Ketika Alam seperti itu, mungkin ada yang salah dengan penghuninya sehingga Alam sudah TIDAK SEIMBANG.

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s