Mulai Masuk Sekolah Lagi

Malam Minggu kemarin saya berkesempatan bertemu dengan anak-anak Prisma di masjid. Seperti biasa, ketika bertemu kami lantas banyak ngobrol sambil sesekali bercanda. Topik menarik yang saat itu ramai dibicarakan adalah persiapan anak-anak masuk sekolah lagi. Seperti yang saya duga, tidak ada persiapan apapun yang mereka lakukan. Tidak ada dari mereka yang belajar sama sekali.

Hal ini mengingatkan saya di saat saya masih sekolah dulu. Seperti yang mereka lakukan, sayapun jarang melakukan persiapan-persiapan menjelang masuk sekolah. Saya tidak pernah belajar, bahkan sekedar pegang buku untuk dibaca. Bagi saya, 2 minggu adalah waktunya beristirahat, refreshing, melepas penatnya bangku sekolah. Seakan keluar dari penjara, saya benar-benar memanfaatkan waktu 2 minggu itu untuk meliburkan diri dari hal-hal berbau sekolah.

Nampaknya perilaku saya itu tidaklah mencerminkan siswa yang baik dan rajin. Mungkin benar. Tetapi melihat kondisi siswa-siswa sekarang yang ternyata melakukan hal yang sama dengan apa yang saya lakukan dulu, nampaknya bukan semata-mata karena siswanya yang punya kebiasaan buruk melainkan disebabkan oleh sesuatu yang salah lainnya sehingga membentuk budaya siswa yang sedemikian rupa. Seakan-akan totalitas liburan adalah sebuah protes terhadap sesuatu yang mengekang mereka.

Tahun-tahun di mana saya sekolah dulu, mata pelajaran dan ekstrakulikuler di sekolah begitu padat. Saya yakin saat inipun demikian, malahan mungkin lebih padat lagi.

Bila dirasakan dari waktu ke waktu, sekolah justru semakin membuat siswa tidak nyaman dan bahagia belajar di sekolah. Sekolah malah nampak seperti penjara bagi anak-anak. Berangkat pagi, pulang sore bahkan malam. Sedangkan yang mereka kerjakan hanyalah bergelut dengan buku dan buku, duduk manis, dan mungkin berhadapan dengan guru yang tidak begitu understanding.

Sekolah membuat mereka tidak senang belajar. Mudah bosan, tidak fokus dan seperti yang terjadi sekarang, liburan dianggap lebih menyenangkan daripada belajar.

Jadi bukan semata-mata karena anak malas. Tetapi ada yang membuat mereka menjadi malas sekolah. Bayangkan saja jika kegiatan di sekolah itu lebih menyenangkan, saya jamin keluhan seperti “ah, aku masih kepingin libur” tidak ada lagi melainkan menjadi “aku ingin cepat-cepat masuk sekolah lagi”. Pasti tidak akan ada yang mengeluh karena harus masuk ke sekolah lagi.

Senin kemarin anak-anak sudah mulai masuk sekolah kembali. Entah apa yang mereka rasakan saat duduk di bangku sekolah lagi. Saya hanya berharap sekolah akan terasa lebih menyenangkan bagi mereka. Entah bagaimanapun caranya, karena kondisi pendidikan kita masih seperti ini sampai sekarang. KIta tidak bisa mengatakan tidak untuk pendidikan…

3 thoughts on “Mulai Masuk Sekolah Lagi

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s