Festival Johar Baru, dari budaya tawuran ke kampung budaya

johar baru

JIKA dibandingkan dengan liputan wartawan, tulisan ini sudah sangat terlambat mengingat Festival Johar Baru telah dilaksanakan 17 November 2013 lalu.

Meskipun demikian, apresiasi saya pada acara yang diprogramkan prodi Sosiologi UI ini masih sama gressnya seperti ketika berada di tengah-tengah serangkaian acaranya. Berbagai macam kejutan dan pengalaman sempat saya rasakan tatkala mengekor di belakang arak-arakan festival kemarin. Ditengah kuliah sore yang mulai kehilangan fokus ini saya mencoba menuliskan kembali ingatan kegiatan seminggu yang lalu. Mudah-mudahan apa yang saya dapatkan dari sana bisa bermanfaat pula kepada pembaca sekalian.

Johar baru…

Bagi Anda yang sering mendengar daerah Johar Baru, yakni salah satu kecamatan yang ada di Jakarta Pusat, mungkin sudah kenal betul bagaimana keseharian masyarakat di sana. Sebentar-sebentar tawuran, begitulah populernya. Tanpa sebab musabab yang jelas, tiba-tiba banyak bom molotov, batu, dan beraneka jenis senjata yang beterbangan mencari sasaran. Tidak hanya di kalangan remaja, bahkan dari anak-anak hingga dewasapun terlibat dalam aksi tawuran serupa.

Entah bagaimana asal mulanya, namun menurut studi yang telah dilakukan masalah pemicu hanyalan masalah-masalah pertengkaran kecil yang kemudian dibesar-besarkan hingga menjadi tawuran…

Saya memang masih miskin informasi mengenai luar dan dalam daerah ini. Namun, dari beliau Bapak Paulus Wirutomo, Mba Lynda Darmajanti, Evelyn Suleeman, dan Mba Ida Ruwaida yang sempat mengajak saya berpartisipasi dalam kegiatan pemberdayaan yang beliau lakukan, sedikit banyak saya jadi tau bagaimana kondisi masyarakat di sana sesungguhnya. Dan dari keikutsertaan saya selama setengah hari itu, ada beberapa poin penting yang perlu saya garisbawahi dalam cacatan ini.

Budaya tawuran to kampung budaya

johar baru festival

2013-11-17 07.54.04 Konsep utama penyelenggaraan festival ini adalah untuk mengubah citra masyarakat yang semula identik dengan tindakan kriminal dan tawuran menjadi sebuah kampung yang berbudaya. Berbagai macam kelompok masyarakat, seperti karangtaruna, perkumpulan pemuda, dan kelompok-kelompok kemasyarakatan yang lain dikerahkan dalam penyelenggaraan festival. Terkhususnya kepada kelompok-kelompok geng yang sering menimbulkan kerusuhan di Johar, keberadaan mereka menjadi pokok perhatian utama dalam rangka merubah aksi tawuran menjadi aksi unjuk kebolehan dalam berbudaya. Mereka turut dirangkul dan diikutsertakan di dalam festival dengan berbagai macam aksi dan pertunjukan seni dengan maksud mengubah halauan mereka dari ajang tawuran menjadi ajang persaingan dalam pertunjukan.

Festival makes people creative 

Festival membuat orang berpikir kreatif, jadi perhatian mereka tertuju kepada prestise dan kemeriahan acara, bukan tawuran. Dengan menyibukkan mereka dengan festival, di harapkan orang mulai bisa berpikir bahwa segala bentuk persaingan bisa diwujudkan dengan cara damai dan berbudaya.

Meskipun didanai oleh kamendikbud dan dibawah bimbingan Sosiologi UI, festival tersebut adalah dari warga Johar dan untuk warga Johar. Segala sesuatunya dikembangkan melalui ide masyarakat setempat dan dilaksanakan pula oleh warga setempat. Persiapan demi persiapan dari awal hingga hari H pelaksanaan acara dimulai, dosen-dosen Sosiologi UI hanyalah sebagai fasilitator dan pemegang kontrol. “Acara ini miliknya orang Johar Baru, kita cuma memberdayakan.” -Ida Ruwaida

Kegiatan festival ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat Johar agar mampu meningkatkan derajat dan martabat wilayah mereka menjadi wilayah yang berbudaya.

Orang-orang diintegrasikan ke dalam festival

Tantangan terbesar dalam upaya pemberdayaan ini adalah bahwa Johar terdiri dari berbagai macam kelompok masyarakat yang sulit disatukan. Ibarat air dan minyak, menyatukan kelompok-kelompok yang seringkali bersengketa hingga memicu aksi tawuran sangatlah sulit. Membutuhkan ide jitu untuk membuat masing-masing dari mereka (geng-geng rusuh) itu membaur menjadi satu kesatuan masyarakat. Itulah mengapa festival dipilih menjadi media penghantar program pemberdayaan ini.

johar bar festBagi warga Johar, festival adalah pengalaman pertama. Tentu hal ini memiliki nilai tersediri bagi mereka sehingga mereka mau ambil bagian ke dalam serangkaian acara besar itu.  Ditambah kerja sama yang dilakukan oleh kawan-kawan dosen dengan aparat dan pemerintahan terbilang sangat baik, kedatangan pemimpin-pemimpin besar wilayah tersebut menimbulkan semangat plus bagi warganya untuk tergabung ke dalam festival.

Festival yang berlanjut hinggal malam harinya inipun mendapat apresiasi dari walikota Jakarta Pusat. Kelak, ia ingin agar acara-acara seperti ini menjadi ritual yang dapat diselenggarakan ajeg tiap tahunnya.

Merubah citra suatu tempat yang sudah teramat akrab, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. 

Meskipun acara ini terbilang cukup sukses, terbukti dari kemeriahan dan ketertiban warga selama pelaksanaan festival, merubah citra kampung tawuran menjadi kampung budaya tidaklah semudah membalikkan tangan. Tantangan lain selain sulitnya menyatukan perbedaan-perbedaan masyarakat adalah bagaimana menggerakkan minat masyarakat itu sendiri untuk mau berubah.

Pasalnya tidak semua orang mau berubah tanpa adanya penggerak yang cukup kuat dari dalam dirinya. Tidak akan serta-merta orang sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk kepentingan tempat di mana ia tinggal. Masih banyak dari mereka yang melakukannya dengan terpaksa, dan seperti yang kita tau, segala sesuatu yang dipaksakan hanya akan efektif dalam jangka waktu yang pendek.

Dalam kasus Johar, tidak semua orang mau bekerja tanpa adanya imbalan. Menumbuhkan minat mereka untuk mengikuti acara festival pun membutuhkan perjuangan ekstra dan sedikit pendekatan yang berbeda. Dengan pertanyaan-pertanyaan ‘polos’ mereka, peran dan kesabaran sosiologpun lantas dipertanyakan, “Kalau kami melakukan ini, kami dapat apa ya, Bu?”

Terlepas dari hal tersebut, melakukan perubahan besar pada wilayah Johar memang perlu melibatkan banyak cendekiawan. Masalah Johar adalah masalah yang sangat kompleks, perlu didukung pemikiran dan peran yang mampu mengimbangi sejumlah kelompok-kelompok masyarakat yang entah berapa ratus jumlahnya.

Bagaimanapun juga, ini adalah pengalaman baru bagi mahasiswa yang sedang belajar ilmu sosial. Membuat perubahan memang tidka mudah…

9 thoughts on “Festival Johar Baru, dari budaya tawuran ke kampung budaya

  1. Pypy

    Kerenn bangett nih Tin, coba yah disemua daerah2 yg masih konflik dan suka tawuran juga dikembangi festibal kek gini.. Pasti lebih damai sejahtera dehh 😀

    Like

    Reply
  2. cerpen winterwing

    aku kira malaysia, ternyata jakarta pusat. bagus deh kita usahakan ubah kampung tawuran jadi kampung budaya.
    soal kampung tawuran, aku jadi pingin meliput dulu. mungkin kampung tawuran itu bisa dijadikan lokasi film action kayak java heat atau the raid hehehe. becanda.

    Like

    Reply
  3. niee

    aku kirain tapi Johor baru di Malaysia. hehehe..

    kalau masalah Johar baru gak pernah denger euy. Tahu ini daerah yang suka tauran dan konflik juga dari tulisan ini >.<

    Like

    Reply
  4. mamaniyya

    aq jg berpikir johor baru:-D…
    kadang untk merubah kebiasaan itu dapat dilakukan dengan iming2 ya mbak? melihat antusias warganya, dapat dyakini mereka dapat berubah,,, salut dgn usaha dari pihak sosiologi UI

    Like

    Reply
  5. ceritabudi

    Pertama, ayo kuliah sorenya jangan ngak fokus lagi dunk…kebanyakan jalan2 kali hihii
    Kedua, mengubah citra yang sudah akrab perlu proses yach..yang penting ada kemauan dan semangat dari masyarakatnya untuk tidak bangga dengan predikat tawuran ya Tin…

    Like

    Reply
  6. Bonita LubiDan

    Wah, sangat positif sekali ya kegiatannya. Memang harus sabar dan selalu mengadakan kegiatan2 yang positif agar image negatif yg sudah melekat selama bertahun – tahun bisa lekang ya. Bravo warga johor baru!!

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s