Mengambil keuntungan atau kesalingketergantungan?

amtinaflPrinter Canon yang sekarang nampak lawas ini sudah cukup lama nangkring di meja belajarku. Dia kubeli di awal perkuliahan atas saran pacarku. Dulu aku sempat bingung memilih-milih printer karena sejatinya baru kali ini aku beli printer. Ditambah, kebutuhan printer yang dulu belum seperti sekarang.

Sekarang, hampir semua tugas kuliah harus dicetak. Tidak ada lagi yang ditulis manual dengan tinta dan pulpen.

Beruntunglah aku membeli printer ini sesegera mungkin. Yang dikatakannya benar, printer akan sangat penting bagi perkuliahanku mendatang. Pengalaman ini kurasakan saat semester pertama, betapa banyaknya aktivitas print and submit di bangku kuliah. Sampai-sampai aku sering menghabiskan kertas dan tinta banyak sekali.

Meskipun demikian, kenyataannya tidak semua mahasiswa punya printer. Kebanyakan masih mengandalkan warnet atau rental-rental terdekat. Dan apabila keduanya tidak memungkinkan dijangkau, teman adalah pilihan yang tepat untuk diandalkan. Numpang ngeprint.

Sebagai mahasiswa yang tinggal satu atap dengan mahasiswa lainnya, tentu mudah ditebak apa yang terjadi kemudian. Yup! Akupun turut terlibat ke dalam sebuah peran di mana aku harus melayani teman-temanku yang numpang ngeprint. Entah itu pagi-pagi, siang, atau malam, mereka biasa datang selama aku di kamar.

Wah, baik sekali kamu Tina… 

Wait! Jangan memuji dulu sebelum tau kelanjutannya. Mulanya bisa dibilang aku tidak seperti ini. Aku yang sekarang dikatakan ‘baik’ adalah hasil dari olah pikir dan pembelajaran yang panjang.

Dulu saat printer ini masih baru-barunya, baru aku buka dari segelnya, temanku yang datang kepadaku minta dicetakkan tugasnya tidak aku layani. Aku dengan tegas menyatakan bahwa printer ini hanya untuk pribadi. Seperti prinsipku di awal, aku tidak ingin direpotkan dengan urusan orang lain.

Aku beranggapan bahwa dengan memberikan bantuan seperti ini maka aku akan disibukkan dengan urusan orang lain. Tetapi aku mencoba menalarnya kembali, bukankah membantu orang itu perbuatan mulia? Bagaimana jika yang datang kepadaku adalah orang yang benar-benar membutuhkan dan tidak ada jalan lain selain datang kepadaku?

Maka, kucoba menerima mereka yang datang kepadaku dengan sepenuh hati. Kupersilahkan mereka menggunakan jasaku. Pikirku, mungkin suatu saat nanti aku juga membutuhkan bantuan yang sama.

Akan tetapi, lama kelamaan aku merasakan kejanggalan. Pengalamanku ‘berbaik hati’ menyediakan layanan jasa justru sering dimanfaatkan. Awalnya mereka yang datang kepadaku adalah mereka yang datang dengan kondisi terpaksa karena layanan rental di asrama sering tutup. Namun, di hari-hari selanjutnya, mereka yang datang kepadaku bukan karena ketidakmampuan mereka. Mereka datang karena malas turun ke bawah, ingin gratisnya, tidak ingin antre, dsb.

Lama-lama aku berpikir, aku justru menyebabkan mereka malas, menggantungkan, dan tidak mau berusaha. Di lain pihak, aku juga tidak bisa terus-menerus menanggung kebutuhan mereka yang tidak ada habisnya. Ya kali, aku masih mahasiswa…

Suatu ketika aku mencoba mengkomunikasikan maksudku kepada mereka bahwa aku tidak bisa lagi menerima mereka. Namun, masalah menjadi semakin rumit karena mereka justru menawarkan imbalan terhadap jasa yang kusediakan. Nanti aku bayar deh, nanti aku ganti uangnya dsb. Oh please! Aku tidak habis pikir, kenapa sih orang selalu mengandalkan uang untuk membalas kebaikan orang lain? Ketahuilah I’m not money oriented! Bukan itu maksudku…

Maksudku, kalaupun mereka mau membayar, bayarlah kepada mereka yang menyediakan jasa. Bukan kepadaku. Kalaupun aku ingin membantu, aku pasti membantu. Dengan catatan, sesuai kemampuanku. Masalahnya, dengan kondisi seperti ini (semua orang datang kepadaku) jelas aku tidak mampu mengingat kebutuhanku sendiripun banyak sekali. Kalau aku pilih-pilih, tidak adil pula kan bagi yang lain. 

Ah, tetapi memang bukan masyarakat kalau segala sesuatunya mudah dijelaskan. Setelah kujelaskan maksudkupun mereka masih belum mengerti. Satu-satunya cara yang bisa kulakukan adalah mencari ide agar hubunganku dengan mereka tetap berjalan baik, dan aku tetap bisa membantu mereka tanpa merugikan diriku sendiri.

Nah, sudah hampir 1 bulan ini mereka yang datang kepadaku aku suruh membawa kertas sendiri. Mereka tetap bisa mencetak datanya dengan kertasnya sendiri. Aku pun kini bergantung kepada mereka karena setiap kali aku kekurangan kertas, aku tinggal minta kepada mereka.

Mungkin ini terlihat lebih baik di mana aku dan mereka terjalin ke dalam sebuah hubungan dengan kesalingketergantungan yang tinggi. Tidka ada yang dirugikan karena setiap dari kami menyumbang kebutuhan kami. Semoga saja yang ku lakukan ini efektif.

He he…

14 thoughts on “Mengambil keuntungan atau kesalingketergantungan?

  1. Tiyo Kamtiyono

    Win – win solution donk kalau gitu, tapi ya tetap perlu diperbincangkan sesekali, walau berjalan kadang tetap saja ada yang merasa memberi terlalu banyak.dalam simbiosis mutualisme begini 🙂

    Like

    Reply
  2. Pypy

    Nah kadang bukannya pelit mau bantu yah, tapi mentalitas sbgian besar orang bgitu sih.. Ditolong sekali jadi ga tau diri gitu..hehehe.. 😀 Kayak jadi keenakan gitu..huhuh.. Klo udah gitu kadang suka nyesel sndiri sih knp mau bantu.. Eh tapi bener juga sih membantu itu perbuatan mulia yah.. Dilematis mmg. 🙂

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      kalau original masih tergolong mahal, tapi ada isi ulang dari toko-toko terdekat seperti di vaneta. Saya sebetulnya tertarik dengan sistem print di belanda, ah saya lupa istilahnya..

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s