Sulitnya jadi realistis

Mahasiswa sekarang ini cerdas-cerdas, hanya satu kurangnya. Kurang realistis!

Aloha, mulai minggu ini aku bakal sibuk dengan tugas presentasi dan paper kelompok. Menjelang UAS, seperti biasa, materi lebih ditekankan pada pengaplikasian teori. Materi-materi tengah semester lalu digodok kembali, lalu disajikan dalam bentuk kasus. Case-based learning, begitulah sebutan kerennya. Jadi kami ditantang untuk memberikan solusi atau jalan keluar dari masalah tersebut. 

Sebagai agent of change yang bergerak di bidang ilmu sosial, kami dipersiapkan untuk mampu menyelesaikan masalah di lingkungan sekitar.

Masalahnya, dunia nyata tidak sekedar membutuhkan teori. Ketika kami bicara panjang lebar mengenai teori, sebetulnya kami hanya menjembatani agar kasus lebih mudah dimengerti dalam kaca mata yang lebih baik. Tantangan sebenarnya adalah di mana ide-ide dan solusi nyata kami yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?

Sering terjebaknya di sini, mahasiswa banyak terfokus pada teori.


Menurutku, teori bukanlah masalah bagi mahasiswa karena teori, pada dasarnya, hanya seperti ketika kita membaca buku sejarah. Kita hanya kembali ke masa lalu di mana dan bagaimana teori itu secara kronologis ditemukan, lalu memahami relevansinya dengan jaman.

Maka dari itu, ketika diminta menguraikan teori, kita sebenarnya hanya menceritakan kembali masa lalu. Kita hanya mengkaitkan masa lalu dengan sekarang yang dalam lingkup tertentu tertuang di dalam kasus yang sedang kita pelajari. Dan itu mudah.

Namun, mencapai pada inti sebuah kasus di mana kasus meminta penyelesaian, blank! Ternyata itu tidak mudah. Kebanyakan dari jawaban kami justru kembali ke teori yang diuraikan secara bertele-tele.

Contoh kasus yang dibahas siang ini adalah kasus kebersihan di lingkungan fakultas. Kasus sederhana ini menurutku menarik untuk diangkat karena sampai saat ini, kenyataannya, tidak ada yang bisa meningkatkan kesadaran warga fakultas akan kebersihan. Belum ada gebrakan atau rekayasa sosial yang berhasil membuat warganya mau membuang sampah pada tempatnya. 

Faktanya sampah memang masalah yang mengglobal, tapi ini hanya lingkup fakultas, masa iya kami tidak bisa?

Berkali-kali kami diskusi, berbagai macam solusi alternatif telah kami jajaki kemungkinan efektif dan keberlangsungannya di fisip. Namun kami masih belum menuai gagasan yang menurut kami terbaik dan paling efektif dilakukan untuk mengubah kebiasaan buruk tersebut.

Sayangnya, kasus ini hanya dibawa pada sebatas diskusi. Kami tidak diberi kesempatan untuk mewujudkan/menguji gagasan-gagasan kami. Meskipun hasilnya nanti tidak seperti yang kami bayangkan, setidaknya ada bahan belajar  di mana mahasiswa tidak hanya sekedar berteori di kelas tetapi juga membuat sebuah kenyataan di lapangan.

Kenapa kita tidak mencobanya?

4 thoughts on “Sulitnya jadi realistis

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s