Komplain!

Entahlah, kenapa manusia lebih suka menunggu diingatkan, ditegur, dikomplain, diomeli daripada bekerja sebaik-baiknya untuk menghindari komplain/ keluhan itu sendiri. Padahal tidak ada salahnya bekerja sebaik mungkin. Kalau pekerjaanya baik, toh kebaikannya mereka juga yang merasakan.

Hari Jumat, seperti biasa semangat kuliah selalu dibayang-bayangi akhir pekan. Dasar mahasiswa, di tengah suasana kelas yang baru saja mulai, kami malah sempat membahas beberapa topik yang tidak berkaitan dengan materi kuliah.

Disela-sela diskusi tentang sebuah dialog ambasador di Universitas Paramadina 2011 lalu, cerita salah seorang temanku yang baru saja dari kamar mandi menjadi topik baru dalam diskusi kami.

“Eh, lo tau engga sih, gue mau ke kamar mandi nih tadi, tapi pas gue udah sampe ke sana, tau kan kalau toilet duduk itu ada penutupnya gitu, nah itu masak banyak tai bececeran gitu! Gue mau nyari OBe-nya engga ada tadi”. 
“Yuck, jorok banget. Dih mau muntah gue. Tapi masa sih sampe kaya gitu?”
“Engga tau itu, gila yak gedung H”
“Tapi palingan juga bukan anak FISIP, ya kali aja ada yang joroknya begitu banget”
“Terus siapa dong? orang lain gitu, kayak OBe?”
“Bisa jadi. Lagian nih itu OBe kerjaannya cuma nongkrong, kaga kerja. Lo tau kan mereka suka nongkrong tuh di bawah deket lift!”
“Coba deh entar kalau ketemu OBe lo bilangin!”

dan bla bla bla… 

Kami memang sering menjumpai hal menjijikan seperti itu di toilet. Herannya, kami punya petugas kebersihan, tetapi ke manakah mereka?

Cerita kamipun berlanjut sampai saat kelas usai. Kebetulan kami berpapasan dengan petugas kebersihan di lift. Karenanya, kamipun memutuskan untuk menyampaikan informasi tersebut kepada si OBe dengan maksud untuk segera ditindak lanjuti.

Berharap keluhanku ditanggapi, salah seorang teman petugas itu justru berkata “Mba kalau ada komplain nanti langsung sampaikan aja ke bagian bawah(maksudnya tempat yang biasanya buat nongkrong) itu ya!” 

Oh, gitu ya? Jadi kami harus komplain dulu?

Tunggu…! Komplain? Aku kok merasa komplain ini malah disalahartikan. Maksudku, mereka ada di sini untuk bekerja bukan, mengerjakan itu (yang berkaitan dengan kebersihan). Mereka menyetujui itu diawal. Bersedia terikat kontrak untuk melaksanakan pekerjaan itu merupakan bukti kalau mereka tidak keberatan bekerja dengan profesi seperti itu. Lalu, apakah mereka tidak menyadari bahwa terikat kontrak berarti bersedia melakukan apa yang telah tertuang di dalam kontrak?

Kalau ku terjemahkan kata-kata si OBe tadi, artinya selama ini mereka yang kongkow-kongkow di bawah ramai-ramai itu menunggu komplain dari kami pengguna gedung. Itu berarti ketika komplain tidak disampaikan, WC di lantai X yang tahinya berceceran itu tidak akan diperiksa, tidak ditangani, tidak dianggap sebagai masalah,begitu?

Astaga! Pantas saja berhari-hari kami menjumpai lantai kotor, banyak debu, sarang laba-laba, toilet kotor, AC mati, yang sebegitu awetnya di kampus ini. Lha wong kalau tidak dikomplain mereka tidak sadar kalau pekerjaan mereka bermasalah.

Apakah di sini tidak ada satupun orang yang bekerja dengan segenap hati, ikhlas, dan tanggungjawab?Menurutku aneh saja orang-orang seperti ini, menyulitkan diri ditengah kemudahan yang sudah diberi. Tapi mungkin mereka ada benarnya juga, kalau tidak Tuhan mungkin tidak akan bekerja (tidak memberikan teguran dan cobaan kepada umatnya yang membelot itu). 

Jadi tunggu saja, saat ini mungkin Tuhan tengah merencanakan tegurannya kepada umatnya yang semacam ini!

21 thoughts on “Komplain!

  1. Gusti 'ajo' Ramli

    mungkin petugas kebersihannya kurang paham dengan jobsdesk ny.. sehingga lalai dan malas dalam bekerja…..tapi tidak ada salahnya juga sih memberitahukan kepada mereka dengan baik agar dibersihkan dan diingatkan jobdesny

    Pada tanggal 09/11/13, Amtina Farm & Laboratory

    Like

    Reply
  2. Messa

    ya kemampuan kita memang masih disitu, mbak Tina, musti di komplain dulu barulah dikerjakan. atau bahkan kadang mulut sudah berbusa-busa komplain, pun tidak dikerjakan juga 😀

    dulu saya sering komplain ini itu kalau ada yang tak beres menurutku. tapi akhir-akhir saya sudah santai aja. buang-buang energi mbak 😀 yang penting, kita nggak ikut-ikutan nggak beres 🙂

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      hehehe, sering juga ya mengalami hal yang seperti ini..
      aku engga tau orang yag seperti ini kenapa, tapi mereka layak diberi perhatian misalnya sesuatu yang bisa membuat mereka berubah..

      kasihan loh sebenarnya kalau dibiarkan, engga ada yag peduli lagi sama mereka nanti..

      Like

      Reply
      1. Messa

        Setuju, sebenere komplain itu artinya kan kita peduli. Tapi kalau yg kita pedulikan nggak mau peduli, lha mau bagaimana lagi, mbak? 🙂

        Like

  3. yayack

    hal hal kaya gitu harusnya sangat sensitif, artinya harus segera di tangani. hemmm dari ngebacanya saja perut sya jadi mual2 hehe * lantas itu kotoranya siapa ya??

    Like

    Reply
  4. Budi Nurhikmat

    Menurut pengalaman saya dalam kerja sama dengan perusahaan tenaga outsourcing (tenaga alih daya) atau OB kebersihan, ada beberapa aspek yang biasa terjadi :
    1. Perusahaan OS tidak melakukan rekrut sdm dengan baik, asal comot (biasanya dengan gaji rendah)
    2. Tidak dilakukan training yang memadai untuk tenaga kebersihan, walaupun sepertinya pekerjaan sederhana
    tapi banyak dibutuhkan ketrampilan (seperti kejadian kloset tadi).
    3. Komitmen layanan kepada konsumen (padahal mahasiswa juga konsumen) masih rendah, indikasi perusahaan
    OS tidak menenanamkan kepuasan pelanggan lewat training dan briefing harian. Pada taraf itu dibiasakan
    untuk mendengar keluhan konsumen.
    4. Perusahaan pemberi kontrak tidak melakuakan evaluasi kinerja secara berkala (harian-bulanan-tahunan)
    kepada perusahaan OS sehigga diindikasikan tingkat layanan yang tidak terkontrol atau kesalahan yang
    berulang-ulang (pantesan saja banyak sarang laba2 atau ac rusak), dalam hal ini bagian umum (general affair)
    adalah bagian yang bertanggung jawab tentang fungsi kontrol.
    Jadi, tenaga kerja bidang jasa adalah orang2 yang harus berorientasi kepuasan pelanggan/client dengan pengetahuan dan kompetensi yang baik.

    [ ini mah kata orang….. 🙂 ]

    Like

    Reply
  5. Iwan Yuliyanto

    Prinsip “Quality is Produced, Not Controlled” ada baiknya untuk ditanamkan ke semua orang, jadi tidak menunggu komplain baru action, atau baru menyempurnakan pekerjaannya.

    Nice reflection, mbak Tina.

    Like

    Reply
  6. mrscat

    hahhhh ngeri amat toiletnya. di kantorku OB nya lumayan bagus, tapi mungkin krn supervisornya nge cek terus. herannya masih ada gitu ya manusia yg super jorokkkk, ngga tahu make WC

    Like

    Reply
  7. Cahya

    Mungkin belum pernah ada yang diputus kontrak kerjanya karena cuma diam saja. Budaya negeri ini kan ke arah sana. Misalnya (dalam gaya totum pro parte), PNS kan kesannya ya begitu, karena ndak mungkin dipecat akibat kerja sedikit santai, akhirnya santai berlebihan. Akhirnya yang rajin kerja ya ndak kelihatan (kepada khalayak ramai) untuk diberikan penghargaan, justru malah dapat cemoohan juga.

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s