Jujur itu akan susah kalau….

Mengeluh karena banyak tugas, bagi mahasiswa sepertinya haram dilakukan. Karena dari awal masuk kuliah hingga akhir nanti, tugas pasti akan terus ada, dan banyak. Jadi memang sebaiknya tidak perlu mengeluh, kerjakan saja dengan bahagia. Toh itu pilihan kita…

Hanya saja, tugas berkelompok itu kadang tidak menarik untuk menjadi pilihan. Tidak menarik kalau ternyata tidak semua anggota kelompok sadar kalau memiliki tugas yang sama. Meski diakali dengan adanya pembagian kerja (maksudnya biar ada kesalingketergantungan), tetap saja kadang tidak membantu sama sekali. Bukan hubungan saling ketergantungan, yang ada pekerjaan malah semakin berat saja.

Ah ya sudah, toh tugasnya sudah selesai. Sekarang saya mau membahas masalah yang lain, yaitu tentang kejujuran.

Menurut Anda, berbuat jujur itu mudah atau susah?

Saya pernah waktu itu berbuat jujur. Ceritanya saya belanja di warung, entah waktu itu beli apa. Kembalian yang saya terima kebetulan tidak saya hitung ditempat (kebiasaan buruk), kembaliannya saya hitung di rumah. Setelahnya baru saya sadari, kembalian yang diberikan kepada saya berlebih. Bagi saya memang tidak banyak, namun baginya itu setara dengan keuntungan yang dia dapatkan dengan berjualan di warung. Kalau tidak saya kembalikan, pasti dia rugi. Di hari berikutnya, barulah saya menjelaskan kepada pemilik warung bahwa ada kesalahan kembalian.

Saat mengembalikan uang kembalian itu, saya merasa tidak ada beban sama sekali. Saya malah merasa sangat ikhlas, bahkan ketika saya harus kembali mengantarkan uangnya ke sana. Saya merasa uang itu adalah haknya, jadi sudah sepantasnya saya mengembalikan ke pemilik sahnya.

Hari ini, atau tepatnya besok, kejujuran saya bakal diuji. Besok tugas kuliah dikumpulkan. Akan tetapi, saya bingung mau jujur atau tidak. Pasalnya tugas yang seharusnya dikerjakan bersama itu hanya saya kerjakan sendiri. Sat-satunya nggota kelompok saya Β tidak menghubungi dan menanyakan masalah tugas yang seharusnya dikerjakan. Hingga petang ini, saya belum mendapatkan kabar. Sementara tugas telah selesai, saya bingung apakah harus jujur tidak.

Di dalam laporan ini tertulis dua nama, nama saya dan namanya. Bisa saja saya cetak sekarang hanya dengan nama saya yang tertera di sana. Namun, dia teman saya, teman yang sudah sangat akrab. Kalau namanya tidak saya cantumkan, dia tidak mendapatkan nilai. Tetapi saya masih berpikir, di mana haknya untuk mendapatkan nilai sementara ia tidak ikut mengerjakan?

Sungguh, ini tidak seperti menentukan hak uang kembali kepada pemilik warung. Ini seperti… seperti permainan peran. Saya harus bermain di antara peran kejujuran, dan peran kesetiakawanan. Keduanya menjadi konflik karena masing-masing memiliki bobot yang sama untuk diperjuangkan. Intinya saat ini dan besok, saya bingung.

Menurut Ki Sanak, apa yang harus saya lakukan? Apa solusinya?

5 thoughts on “Jujur itu akan susah kalau….

  1. misbachudin

    Bingung jg ya, disisi laen dia adalah teman baik, kalo namanya ga dicantumkan ujung2nya musuhan.
    Inilah instrumen dasar yg harus dimiliki seseorang, yakni “jujur”. Ngomong2 soal jujur, barusan juga komen diblog temen tentang kejujuran.

    Like

    Reply
  2. Cahya

    Jujur… itu… “disuntik sakit ndak”, … “ndak, cuma seperti digigit semut” … sambil menebar senyum yang menyesatkan :D.

    Tapi kalau masalah uang, ah…, sudahlah…

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      hahaha itu seperti tulisa saya lalu, Hihihi
      Dokter itu bohongnya ya di situ, kalau bilang suntik itu sakit, pasti ga ada yg mau disuntik..

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s