Tiada nangka, kubawalah mangga

Waktu itu nenek menelpon, katanya nangkanya sudah masak. Dalam bayanganku, pastilah lezat menikmati liburan dengan makan nangka. Ditambah alam di rumah nenek sangat bagus. Selain penuh nuansa Jawa yang ramah, banyak pepohonan yang hijau nan rindang di sana.

Dengan bayangan nangka yang harum di kepala, ku kejar kereta siang di stasiun dengan ojek. Dalam hati, akhirnya kesampaian juga niatku untuk mengunjungi nenek.

Aku tidak ingin cepat-cepat paranoid, tetapi sesampainya di sana, nenek dan kakek nampak kurang bersemangat. Waktu aku masuk, kakek sedang tidur di kursi kesayangannya, sedangkan nenek entah di mana.

Sorenya, tanda-tanda paranoidku mulai menjadi. Berkali-kali neek menelpon. Sebentar-sebentar telp di tutup, kemudian terdengar kembali ia berbicara dengan orang yang berbeda.

Jelaslah, dalam kondisi seperti ini ia merindukan anak-anaknya. Ia tidak mau melewatkan malam Idul Adha ini sendirian. Sekedar ditemani cucu dari salah seorang anaknya, tentulah tidak mengobati.

Kondisi sore itu semaki tidak nyaman ketika anak-anak nenek, bahkan yang letak rumahnya lebih dekat, satupun tidak menampakkan batang hidungnya. Masih ditambah aku terkena maagh. Jadi sore itu aku habiskan di kamar dan aku tidak datang ke meja makan karena masih mual.

Singkatnya, jadilah gambegnya nenek. Pukul 7 pagi tadi, beliau beres-beres rumah sambil menggerutu. Dengan cepat ia menganyunkan sapu ke sana-ke mari sehingga debu beterbangan  hebat bak badai di padang pasir. Sungguh nenek seperti orang yang sedang mengamuk (atau memang sedang mengamuk?)

Yang jelas, seisi rumah jadi terdiam semua. Kucing di rumah lari tunggang langgang melihat nenek. Setiap yang ditemuinya, meski tidak menghalangi jalannya, pasti dipukul dengan sapu lidi. Kakek yang penyayang kucingpun enggan menyapa nenek. Sebegitunya nenek marah hingga tidak ada yang bisa mendinginkan kepalanya. Harus ku catat, bahwa merebus air, membuatkan teh plus pacitannya sudah tidak ngefek untuk nenek. Lain kali aku harus cari sogokan lain. He he…

Well, cerita setelahnya aku tidak tau lagi. Usai mandi, aku langsung berpamitan dengan kakek (hanya dengan kakek). Aku ingin cepat-cepat meninggalkan atmosfer yang tidak segar ini. Daripada aku ikut marah dan jengkel, lebih baik aku pulang. Aku yang biasanya dibawakan bekal (pesangon) pun sudah tidak ku pikirkan lagi. Tiada nangka, ku bawalah mangga yang masih masam ini ke Depok.

Ah.. Sony, kenapa kau tak ada beritanya hari ini?

Tiada Nangka, Kubawalah Mangga, sebuah cerita sedari rumah nenek yang ditulis di dalam kereta. Semoga menjadi hiburan di hari Qurban ini. Selamat Hari Raya Qurban..

7 thoughts on “Tiada nangka, kubawalah mangga

  1. Budi Nurhikmat

    Waduh…..granny lagi sewot yaa, terbayang pastilah orang tua senang betul bila hari raya idil adha ini dikunjungi anak2nya, satu harapan yg wajar dan mereka pasti sudah mengimpikannya. btw cucunya kan pasti bawa oleh2 cerita dari depok 😀

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      belum sempat mendengar cerita, nenek udah ngamuk mas..
      Dan selalu, pasti saya yang kena karena selalu datang sebelum anak-anak nenek..
      grrrr

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s