Why do people really need cellphone?

Jika dalam kasus si penjaga kantin yang akan aku ceritakan berikut, mungkin aku setuju mengapa telpon celluler menjadi bagian penting dari hidup seseorang. Tentu saja ini erat  kaitannya dengan sarana berkomunikasi, apapun itu medianya (fb, twitter, watsapp, ataupun nomornya sendiri). Masalahnya komunikasi seperti apa yang dilakukan di dalamnya sehingga ia rela menukar apapun hanya untuk sebuah cellphone?

Alkisah si penjaga kantin asrama (saya lupa namanya) sering sekali mengeluhkan pekerjaannya kepada saya. Kebetulan, saya memilih kantin ini untuk berlangganan makan. Dan mungkin karena sudah cukup lama bertemu, beranilah ia bercerita banyak kepada saya.

Beberapa cerita yang sering ia sampaikan adalah sistem kerja di kantin yang menguras banyak tenaganya. Ia harus bangun pagi (setengah 4) dan baru istirahat pada malam harinya (pukul 11). Begitu seterusnya dan ia merasa sangat lelah. Terutama karena gajinya yang tidak begitu menjanjikan.

Saya tau betul bagaimana kerja dengan sistem seperti itu. Sebagai pelayan sekaligus penjaga warung makan, ia harus standby dari awal hingga akhir. Tidak ada waktu istirahat atau pergantian shift seperti pekerjaan pada umumya. Selain mendengar keluhan dari masing-masing pekerjanya, saya melihat sendiri bagaimana dalam waktu setahun ada sedikitnya 7 orang pekerja yang sudah mengundurkan diri dari pekerjaan itu. Jadi bisa dibayangkan bagaimana penatnya bekerja seperti itu sepanjang hari, setiap hari.

Lalu apa kaitannya dengan handphone? Si penjaga kantin ini saya lihat sering sekali menggunakan handphone-nya di kala sepi pengunjung. Saya memang tidak secara langsung menanyakan, namun saya menduga ia sering menggunakan sms untuk berkomunikasi di saat seperti itu. Ia (yang gajinya minim) dan dituntut untuk selalu siap, tentu akan sulit untuk melakukan atau menerima panggilan.

Sudah bisa ditebak seperti apa kiranya komunikasi yang dilakukannya. Dia bukanlah pebisnis ataupun marketing. Tetapi dilihat dari frekuensi penggunakan handphone-nya kita tau bahwa tekanan pekerjaan mendorongnya untuk seperti itu. Ia menginginkan komunikasi tetap terjalin dengan orang-orang ‘pertamanya’ karena ia tidak ingin teralienasi dari kehidupannya yang sebenarnya.

Entah itu semacam keluhan, pengalaman, dan berbagai ungkapan perasaannya, itulah cara dia berkomunikasi dengan dunianya. Meskipun memang ia memilih pekerjaan itu sebagai kegiatan barunya, saya yakin, ini bukanlah dunia yang benar-benar ia inginkan. Baginya, handphone adalah penting.

Saya tidak mampu membayangkan bagaimana stressnya ia tanpa handphone. Ibarat, handphone adalah jendela yang memberika kesejukan udara baginya. Kalau ia tidak memiliki handphone, tutuplah sudah kehidupan nyatanya. Teralienasi dari kehidupan yang sebenarnya.

Jadi tidak heran sebetulnya melihat buruh bangunan, atau buruh lainnya yang diwaktu luangnya terlihat sibuk dengan handphonenya. Cos they really need the cellphone to see what happen in their own world.

One thought on “Why do people really need cellphone?

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s