Laundry

Beberapa waktu lalu saya sempat jengkel dengan sebuah laundry. Selama kurang lebih satu tahun menjadi pelangganan, baru kali itu laundry saya ditolak dengan alasan karena cuma satu kilo. Si penjaga tidak memberikan keterangan jelasnya. Dia hanya berkata, kalau berat laundryan tidak ada dua kilo, maka tarif diberlakukan sama dengan 2 kg laundry. Jelas saya tidak mau. Rugi.

Sejak saat itu saya tidak pernah menggunakan jasa laundry itu lagi.

Alasan saya memilih tempat laundry itu awalnya karena letaknya yang dekat dengan kediaman saya. Kalau ditaksir harganya justru tergolong mahal untuk sebuah jasa cuci dan setrika yang hasilnya kurang memuaskan (kurang wangi dan hasil setrikaannya berantakan). Tetapi karena waktu itu saya masih terlalu sibuk dengan kuliah, maka saya putuskan untuk tetap menjadi pelanggan di sana.

Sekarang ini, saya cuma kurang setuju saja dengan aturan yang dibuat oleh jasa laundry itu. Nampaknya tidak konsisten. Dengan asumsi, kalau seandainya tidak menerima laundry dengan berat 1 kg saja, lalu mengapa pasang tarif per kilo, bukan per dua kilo? Di luar sana mungkin banyak pula yang sudah menerapkan kebijakan usaha baru seperti ini, namun untuk saya jasa yang seperti itu tidak understanding, tidak ada keberpihakannya pada konsumen.

Bagi saya yang tidak suka menumpuk-numpuk baju kotor, tentu saja mengganggu jika harus mengumpulkan baju hingga mencapai ketentuan si lundry. Terutama karena jumlah pakaiannya banyak, kan susah juga membawanya ke sana-ke sini mengingat sistem loundrynya tidak antar jemput. Lagipula, kalau mau menuruti kemauan si loundry, masa iya kita harus membuat gunung pakaian kotor dulu di kamar? Wah kalau saya tidak bakal betah…

Awalnya saya memang sedikit kewalahan karena ditengah sibuknya kuliah justru direpotkan oleh pakaian. Namun, setelah saya evaluasi lagi, keputusan saya untuk tidak menggunakan jasa loundry di tempat itu justru tepat. Alasannya, sudah lama juga saya tidak menyukai sistem kerja si penjaga loundry. Hitungannya tentang berat loundry selalu berlebihan sehingga saya harus membayar lebih untuk cucian yang saya titipkan. Selain itu, hasilnya makin hari makin tidak memuaskan. Baju bukannya tambah rapi, bersih dan wangi, justru sebaliknya, apek dan kucel. Makanya saya putuskan saja untuk berhenti menggunakan jasanya. Hanya saja saya belum menemukan penggantinya, sebuah tempat loundry baru dengan hasil yang memuaskan.

Sayangnya, mencari tempat loundry yang baru ternyata tidak mudah.  Ada yang lebih murah, namun letaknya jauh dari kediaman. Perhitungannya, kalau mau ke sana tidak hanya memakan waktu tetapi juga tenaga. Sehingga saya urungkan kembali niat saya untuk ke sana.

Sebagai gantinya, beberapa hari ini saya mencuci sendiri (wash by hand). Setelah kering saya angkat lalu saya setrika seperti layaknya pemilik baju yang merawat pakaiannya. Begitu seterusnya hingga saya mulai nyamanan dengan rutinitas mencuci baju. Saya pikir, kesombongan jasa loundry yang tidak mau lagi menerima baju yang hanya 1 kg itu justru membuat saya rendah hati. Di satu sisi, saya makin rajin nyuci dan nyetrika baju sendiri. Sedangkan di sisi lainnya, saya mulai bisa menghargai waktu.

Di tengah kegiatan kuliah yang padat, saya justru ditantang untuk bisa membagi waktu dengan mengerjakan tugas-tugas seperti itu secara manual. Awalnya saya sedikit ragu bisa melakukannya, tetapi saya jalani saja. Jika saya mampu melaksanakan semuanya sendiri, bukankah itu indikator bahwa saya bisa memanage waktu dengan baik? Lagipula, saya sehat. Tentu bisa melakukan banyak hal.

Hehe, jadi sebenarnya ini adalah pertanda bagus 🙂

3 thoughts on “Laundry

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s