Sebuah ide untuk anak kost

Kalau kita mendengar kata kost dari anak-anak yang ngekost, sebenarnya kata itu berasal dari penyederhanaan frasa bahasa Belanda “in de kost” yang berarti “makan di dalam”. Secara lebih luas berarti “tinggal dan ikut makan” di dalam rumah tempat menumpang tinggal dengan sejumlah pembayaran tertentu untuk setiap periode tertentu (umumnya pembayaran per bulan)

“In de kost” awalnya adalah gaya hidup yang cukup populer di kalangan menengah ke atas untuk kaum pribumi. Masyarakat yang saat itu berada di zaman penjajahan Belanda menganggap Belanda adalah sosok  yang terpandang dan berkedudukan tinggi. Dengan mengikuti trend ini, orang tua berharap agar anaknya cukup terdidik akan mampu hidup mandiri serta dapat bersikap dan berprilaku layaknya bangsa Belanda atau Eropa yang dirasa lebih terhormat. Hal ini dianggap mirip atau sama dengan konsep “Home stay” di zaman sekarang (Wikipedia).

Yang dituliskan Wikipedia cukup mewakili apa yang ingin saya katakan tentang anak kost. Saat ini, istilah in de kost lebih sering dikenal sebagai ‘kost’ atau ‘kosan’ saja. Tidak hanya istilahnya, maknanya pun mengalami perubahan. Tidak lagi dianggap sebagai gaya hidup populer di kalangan menengah ke atas, namun justru cenderung menunjukkan sebaliknya.

Sering kali orang mengidentikkan anak kost dengan mi instan. Karena keterbatasan biaya hidup, tidak mendapat perhatian orang tua, dan cenderung makan seadanya, kost justru menimbulkan gaya hidup yang “kurang terhormat”. Banyak dari anak kost yang cenderung sakit-sakitan, tidak bugar, kurus, dan dalam catatan lain juga mengalami obesitas. 

Hal itu disebabkan karena selama hidup di kost, mereka cenderung utuk bertahan hidup dari keterbatasan. Dalam rangka untuk tetap survive sekaligus menekan pengeluaran pribadi, maka hampir semua anak kost selalu sedia mi instan di kamarnya. Mi instan merupakan benda yang sangat membantu jika kondisi keuangan sedang tidak beres. Dengan mi instan, mereka tidak perlu mempertimbangkan masalah lauk. Cukup menambahkan nasi di atasnya maka cukuplah mengenyangkan hingga tengah hari. Selain mudah penyajiannya, harganyapun sangat murah.

Mulai dari sini mi instan menjadi sebuah sign (tanda) bahwa penikmatnya mayoritas berasal dari kalangan menengah ke bawah. Dengan asumsi, orang yang punya cukup biaya untuk kebutuhan hidupnya pasti memiliki pertimbangan yang cukup tinggi pada kesehatannya. Ia akan memiliki hunian yang sehat serta bisa makan tepat waktu dengan menu makanan yang cukup bergizi dan lezat. Sebaliknya, bagi orang yang cost life-nya terbatas, akan lebih banyak mempertaruhkan kesehatannya dengan cara makan seadanya. Hal ini menunjukkan kost bukan lagi prestise dan gaya hidup kalangan atas, namun cenderung menjadi sebuah kondisi yang dialami oleh kalangan menengah ke bawah yang harus bertahan hidup dengan kondisi seadanya, dan mempertaruhkan segalanya untuk tetap survive.

Namun, di sini saya tidak ingin membahas perubahan penggunaan kost oleh kalangan atas ke bawah. Justru saya berfokus pada keinginan saya untuk menyelesaikan masalah anak kost yang demikian.

Menur,ut saya, salah satu indikator dari living condition anak kost adalah dinilai dari makanannya. Jika anak kost masih sering mengonsumsi mi instan, artinya living conditionnya tidak sehat. Apapun alasannya, entah berhemat, memang doyan, atau sekedar coba-coba, living condition (kost) semacam ini menyebabkan munculnya perilaku hidup tak sehat. Gemar junk food, lebih suka instan dan tidak memikirkan pertimbangan kesehatan. Terutama, sudah banyak hasil studi yang telah menunjukkan bahaya makan mi instan (bisa dibaca di sinidi sini atau di sini )

Masalahnya, kondisi anak kost memang jauh dari pengawasan orang tua. Tidak ada yang akan mengingatkan mereka ataupun menyiapkan makanan bagi mereka selagi aktivitas kerja atau kampus memaksa mereka untuk fokus dan bertindak cepat. Jika sudah lelah, tidak ada jalan lain selain ngejunk food atau membuat makanan-makanan instan lainnya. Dengan begitu, perilaku hidup tak sehat tentu sulit dihilangkan.

Saat ini saya sedang berpikir untuk melakukan sesuatu yang dapat mengubah perilaku mereka. Di tengah kondisi seperti itu, mereka tentu memerlukan makanan yang bisa disiapkan dengan cepat, mengenyangkan, dan juga bergizi. Di tambah, makanan tersebut harus terjangkau bagi anak kost mengingat salah satu kondisi yang menyebabkan mereka memilih mi instan sebagai solusinya adalah karena masalah keuangan. 

Saya sedang berpikir mengenai sesuatu yang bisa awet tanpa bahan pengawet. Sesuatu yang diawetkan oleh mekanisme biologis sehingga tahan hingga beberapa waktu ke depan. 

Saya juga sedang berpikir tentang sesuatu yang mudah dimasak hanya dengan air panas (direbus) atau dengan bantuan pemanas (dikukus). Dan saya juga sedang berpikir tentang apa yang dapat menjadi hal itu. 

Jujur, saat ini saya belum tau apa yang dapat memenuhi kriteria pemikiran itu mengingat saya bukan ahli biologi dan tidak sedang belajar biologi. Saya hanyalah seorang gadis yang belakangan ini berharap bisa melakukan rekayasa sosial dan bisa menyelesaikan masalah-masalah disekitar saya dengan ciptaan-ciptaan sederhana. 

Akan tetapi, menciptakan dan menemukan itu ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Saya berharap ada sesuatu yang ajaib sehingga singkong, rumput laut dan keju bisa bertahan dalam waktu 1 minggu. 

Sementara itu, biar saya berpikir lagi. Ada yang punya ide?

gambar diambil dari http://1.bp.blogspot.com

One thought on “Sebuah ide untuk anak kost

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s