Pakaian

Diantara benda-benda dan mahkluk yang diciptakan Tuhan diselipkanlah maksud dan tujuan di sana agar kelak manusia bertanya mengapa Tuhan menciptakan benda dan mahkluk yang sedemikian rupa. Karena hakikatnya, Tuhan tidak mengisi Bumi ini dengan ciptaannya yang tanpa maksud. Juga bukan karena Tuhan ingin unjuk gigi karena hanya Dialah Sang Maha Pencipta. Tetapi di sini Tuhan ingin mengajarkan kepada mahkluk-mahkluknya, manusia, untuk memaknai ciptaannya sebagai sesuatu yang dapat menyokong kehidupannya.

Seperti ketika seorang anak bertanya, “Kenapa Tuhan menciptakan nyamuk? Kenapa menciptakan lalat?”. Maka di sini dia sedang berusaha memaknai adanya mahkluk yang bernama nyamuk di dalam kehidupannya.

Seperti yang kita ketahui, di dalam rantai makanan, nyamuk setidaknya terhubungan dengan 3 anak panah, yaitu konsumen tingkat pertama, kedua, dan ketiga. Nyamuk adalah sumber makanan bagi katak dan ikan, sedangkan ular bergantung pada adanya katak. Jika nyamuk tidak ada, kemungkinan katak akan mati karena tidak ada makanan, begitu juga dengan ular, dan seterusnya hingga ke manusia.

Dengan demikian, setiap yang diciptakan-Nya memiliki fungsi masing-masing. Dan fungsi itu terus berkembang sejalan dengan pemaknaan manusia terhadapnya.

Kiita ambil satu contoh mengenai kapas. Dulu sebelum ada pakaian, manusia purba melindungi badannya dengan cara membuat penutup tubuh dari kulit binatang yang berbulu tebal. Sekarang manusia dengan pengetahuannya memanfaatkan adanya tanaman kapas sebagai bahan baku pembuat benang. Dari benang, manusia dapat membuat kain. Dari kain, kemudian manusia bisa membuat beraneka ragam pakaian yang dapat melindungi diri dari suhu ekstrim dan debu jalanan.

Berkembangnya pikiran manusia menjadikan baju tidak hanya berfungsi sebagai pelindung, tetapi juga sebagai fungsi moral dan estetika. Sekarang semua orang sudah berpakaian lengkap. Tidak ada lagi yang bertelanjang. Dengan berpakaian, seseorang dipandang indah dan beradap. Sebaliknya, dengan bertelanjang seseorang akan dianggap berperilaku menyimpang (deviant) dan tidak bermoral.

Perkembangan industri tekstil dan garmen menyebabkan banyak perusahaan yang menawarkan produk pakaian dengan beragam corak dan bahan. Setiap tahun mereka dituntut oleh pasar untuk menyediakan potongan yang berbeda. Pakaian yang semula hanya berfungsi untuk menutup badan, kini berfungsi sebagai mode dan trend. Itu artinya fungsi terus berkembang, tidak stagnan. Selanjutnya, perkembangannya pun sampai pada fungsi ekonomis.

Sayangnya temuan manusia akan fungsi ini hanya disadari oleh kalangan tertentu saja. Tingginya nilai ekonomis dan prestise menjadi ancang-ancang yang memudahkan pengusaha untuk meluaskan peluang usahanya. Di sisi lain, konsumen yang tanpa sadar telah menjadi jajahan produk. Sehingga sekarang ini muncul fenomena korban mode.

Anda tentu masih ingat beberapa bulan yang lalu penyanyi muda berbakat, Agnes Monica, disorot media massa akibat gaya berpakaiannya yang dianggap seronok saat tampil di panggung dunia. Peristiwa ini seakan membawa kita kembali berada di zaman di mana pakaian belum dianggap sebagai bagian dari moral, dan uniknya justru terjadi setelah zaman semakin modern di mana tingkat pengetahuan manusia sudah semakin tinggi.

Keunikan lainnyapun muncul pada gaya berpakaian di kampus. Seharusnya, karena namanya tidak berubah, yang namanya celana panjang pasti masih berfungsi untuk menutupi kaki yang panjang. Tetapi mengapa pula celana yang sudah menutupi kaki justru digulung hingga setegah lutut? Asumsinya, jika celana panjang digulung karena kepanjangan itu tidak mungkin. Mengapa tidak menggunakan celana pendek atau celana 3/4 saja yang sudah sesuai fungsinya? Kembali lagi karena mode.

Jika kita selangkah lebih maju dengan menangkap makna dari peristiwa itu, jelaslah ada fungsi yang terganggu di sini (disfungsi). Ketika manusia berhasil memaknai ciptaan-ciptaan Tuhan, ia justru terjebak ke dalam fungsi yang sebenarnya makin tidak berfungsi.

Nah, sekarang ini pakaian juga berfungsi sebagai simbol kelas sosial. Bayangkan jika masyarakat berpenghasilan minim ingin menyamai kedudukan kelas atas dengan cara ini. Apa kira-kira yang akan mereka lakukan?

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s