Saya ingin bicara tentang… pernikahan

Belakangan ini di kampung halaman saya banyak orang yang mengadakan pesta pernikahan. Setelah pesta di tempat A selesai, kemudian menyusul pesta di tempat B, lalu C, Z, dsb. Beberapa orang tetangga nampak sibuk dilibatkan untuk membantu kelancaran kegiatan pesta. Sedangkan yang lainnya sibuk memikirkan seberapa banyak uang sumbangan yang akan dibagi ke pesta-pesta tersebut.

Setiap yang datang ke pesta pernikahan biasanya membawa sumbangan. Dulu orang membawa bahan-bahan makanan seperti beras, kerupuk, tempe, dan bihun. Sekarang orang lebih terbiasa membawa uang.

Uang sumbangan pun beragam jumlahnya.Banyak yang bilang jumlahnya tergantung kemampuan.Uang dimasukkan ke dalam  amplop yang sudah diberi nama dan alamat. Kemudian dibawa saat penerimaan sumbangan.

Proses penerimaan tamu undangan cukup singkat. Tamu datang mengisi buku tamu seraya disambut anggota keluarga mempelai dan dipersilahkan duduk di ruang penerimaan tamu. Beberapa menit setelahnya, tamu dipersilahkan memasuki ruang makan. Di sana tamu dipersilahkan makan hidangan yang telah disediakan. Di sinilah uang sumbangan diberikan dengan cara dimasukkan ke dalam kotak khusus. Kemudian tamu boleh meninggakan pesta. Singkatnya seperti itu.

Sebenarnya, saya tidak tau arti sumbangan di sini bagaimana jelasnya. Yang pasti berbeda dengan infaq. Namun pemberian nama dan keterbukaan penghitungan jumlah sumbangan memberikan arti tersendiri. Secara simbolis, pemberian sumbangan di sini menyiratkan pesan stratifikasi dan keharusan membayar makanan yang sudah di makan. Tentunya mereka juga tidak mau dikatakan datang ke pesta hanya untuk makan.

Inilah yang ingin saya kritisi.

Menurut saya apapun pestanya termasuk pesta pernikahan adalah untuk berbahagia. Adalah sekaligus ucapan syukur dan doa karena seseorang sudah merasa siap berumahtangga melalui ikatan cinta yang dihalalkan. Seharusnya orang yang menyelenggarakan pesta bertujuan membagi kebahagiaan agar dapat dinikmati bersama. Bukan menyusahkan bahkan menyengsarakan orang.

Jika dengan konsep pernikahan di atas, orang bisa saja datang dengan wajah kusam, berkeluh kesah, bahkan kesusahan akibat terbebani dengan uang sumbangan. Katakanlah ia berusaha membawa uang 50ribu ke sebuah pesta dalam rangka umum sanak. Jika ada 4 pesta dalam waktu satu bulan, maka uang yang harus ia sediakan sebesar 200ribu.

Tidak masalah jika ia mampu. Tapi bagaimana jika ia sedang tidak punya uang, menyekolahkan anak, seorang yang sudah tua, dengan pekerjaan yang tidak tentu penghasilannya? Tentu membebani sekali.

Padahal pesta adalah memang untuk bersenang-senang. Lucu bukan jika orang datang ke pesta sambil bermuram durja.

Tapi ini terkait masalah kebiasaan yang menjadi kebudayaan. Untuk mengubahnya pasti perlu sebuah pemikiran. Apa ya yang kira-kira bisa mengubah kebiasaan ini?

Hehe, saya jadi punya cita-cita. Suatu saat nanti, jika saya mengadakan pesta, saya ingin yang datang berbahagia. Orang yang datang ke pernikahan tidak perlu membawa jagongan/amplop berisi uang sumbangan. Mereka tinggal datang menikmati jamuan, makan-makan atau sambilan melihat tontonan. Mereka tidak perlu terbebani dengan berapa besar sumbangan yang ingin diberikan (secara adat=diminta).

Sekaligus ingin memberi pesan, pernikahan bukanlah sebuah permainan. Perlu kematangan dan pengetahuan. Jadi orang tidak bisa main-main dengan pernikahan. Setidaknya kalau biaya pesta pernikahan itu menjadi mahal, orang pasti berpikir ulang jika ingin main-main dengan pernikahan dan janji.

Tapi yang jelas, orang tidak seharusnya merasa terbebani saat datang ke pesta. Because party is for fun and for everyone.

10 thoughts on “Saya ingin bicara tentang… pernikahan

  1. Tiyo Kamtiyono

    Adat jawa mbak, ya memang begitu, sama juga di daerah saya. Kalau berangkat tapi nggak bawa amplop malu sama yang punya gawe, apalagi kalau udah pernah disumbang, hukumnya jadi wajib seperti hutang piutang 😦

    Kalau yang ada pesta dalam undangan sudah wanti – wanti tidak menerima sumbangan dalam bentuk apapun pasti deh semua bakal senang dan nggak mikir sumbangan.

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      kalau seandainya pihak yang mengadakan pesta tanpa sumbangan itu orang berada saya rasa tidak akan mengubah kebiasaan, tetapi jika sebaliknya yaitu yang mengadakan orang-orang yang biasa saja tetapi punya prestasi/ achieve status saya rasa bisa mengubah kebiasaan itu. Memanfaatkan gengsinya orang gede maksudnya 😀

      Like

      Reply
      1. Tiyo Kamtiyono

        Kayak Lurah gitu ya misalnya, secara ekonomis rugi besar, mau jadi lurah aja sekarang ratusan juta modalnya, kalau ada rakyat yang ada gawe juga selalu nyumbang mbak, ga balik donk 😛 hehehe….

        Like

      2. Tina Latief Post author

        ya itu yang perlu dibenarkan, Namanya saja uang sumbangan, ga perlu mengharap kembalian dong. Merubah yang seprti ini perlu proses jg.. ga serta merta..

        Like

  2. 空キセノ

    Bener banget nih. Sebenernya sih nggak masalah kalo dateng ke nikahan tanpa bawa apa-apa. Tapi sungkannya itu lho… Kalo di nikahan, di bagian penerima tamu pasti udah disediain kotak gitu, kesannya kalo dateng harus ngasih “amplop” dan kalo nggak masukin apa-apa pasti sungkan banget.

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      Ngomong-ngomong yang disediakan kotak pernikahan adat mana saja sih?

      betul mba, memang sungkan. Makanya tentu saja yang harus merubah kebiasaan itu adalah yang nantinya mau mengadakan pesta, bukan yang hadir sebagai tamu terlebih dahulu..

      Like

      Reply
  3. Emi Syofyan

    ditempat saya juga gitu kok, kyk nya hampir disemua daerah dech kayaknya, kalo dulu suka ke undangan bawa kado namun sekarang lebih praktis aja kalo pake amplop toh harganya juga kadang sama aja dengan isi amplop, hehee……,, jadi menurut saya berdasarkan pengalaman, tradisi ini terjadi karena keinginan seseorang untuk lebih praktis tanpa harus bersusah payah membawa barang/kado, jadi akhirnya menjadi sebuah kebiasaan yang lambat laun menjadi beban seperti yg kata mbak,,, hehee…

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      wah sama ya, ngomong2 mba emi dari daerah mana ya?

      awal mulanya memang sekedar ingin membantu/ memberikan kenang-kenangan. Namanya membantu pasti semampunya, seikhlasnya. Tapi lama-lama nilainya menjadi berubah. Dari yang semula bermaksud meringankan beban/ menyenangkan pihak yang berkepentingan justru berubah menjadi ajang unjuk kekayaan dan menunjukkan strata..

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s