Menawar barang murah

Ketika ke pasar tradisional kemarin, saya menertawakan Mom. Sebenarnya tidak lucu. Saya cuma merasa kurang setuju saja dengan caranya menawar. Kebiasaan. Tepung singkong (bahan membuat tiwul) seharga 2000 masih ditawar-tawar jadi seribu. Padahal menurut saya itu sudah tidak perlu ditawar, sudah murah.

Memang, harga barang di pasar memang tidak seperti di super market, – sudah dilabel. Makanya orang merasa belum afdal kalau belum menawar.  Tetapi, apa sih alasannya orang menawar barang? karena harganya tidak terjangkau, atau ingin mendapatkan barang semurah-murahnya? Sampai-sampai sudah diberi murah masih saja ditawar. Seperti tidak punya duit saja, haha

Menawar memang tidak salah. Tapi orang sering melupakan etika jual-beli. Lupa memikirkan untung rugi kedua belah pihak. Jadinya ya seperti itu. Entah siapa ya untung…

Ngomong-ngomong, tapi sebenarnya saya senang loh mendapat banyak tepung singkong. Bisa untuk oleh-oleh ke Jakarta. Murah, dapat banyak. Mudah saja saya nyari oleh-oleh buat paman dan bibi. Hehe nah lo, saya jadi lupa untung-ruginya..

3 thoughts on “Menawar barang murah

  1. edipadmono

    Dalam jual beli sah-sah saja menawar toh serendah apapun kita menawar kalau si penjual tidak untung dia tidak akan melepasnya.
    Makanya saya suka istri yg belanja…..

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      Hehehe, ya memang sah tapi kalau sudah murah mengapa musti di tawar lagi. 4 ikat kangkung seharga 1000 kalau sampai ditawar menjadi 5 ikat itu ya terlalu..

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s