Mengkritisi agama

Saya tertarik dengan orang yang memutuskan memeluk suatu agama berdasarkan kepercayaannya sendiri.

Maksudnya begini, saya yakin bahwa masyarakat yang memeluk agama secara taken for granted sangat banyak. Termasuk saya. Namun bukan berarti saya tidak bersyukur pada agama yang saya anut. Β Saya hanya kagum dengan orang yang menemukan kepercayaannya sendiri, (bukan karena turut serta agama orang tua sejak kecil) kemudian memutuskan menganut agama itu sebagai agama yang ia percayai. Apapun itu agamanya.

Terlebih sekarang-sekarang ini. Sistem pedidikan nasional tidak memberikan ruang untuk mengkritisi agama. Malah, justru menjadi ruang yang menanamkan nilai-nilai agama secara taken for granted. Jadi kebanyakan orang Indonesia tidak mempertanyakan kembali secara mendalam keimanannya itu. Banyak diantara kita yang hanya belajar agama (religion), bukan kehidupan beragama (religiousity).

Jika sistem pendidikan nasional bisa lebih terbuka, dalam artian memberikan ruang untuk mengkritisi agama, orang tidak hanya belajar agama saja. Namun juga belajar bagaimana menjalani kehidupan beragama. Tentunya konflik-konflik sosial yang berkaitan dengan agama bisa lebih terkendali. Karena, saat ini bukan hanya konflik antar kelompok agama saja yang terjadi, tetapi juga konflik dalam satu kelompok agama.

4 thoughts on “Mengkritisi agama

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s