Suka yang instan

Kadang orang datang ke saya minta diajari macam-macam. Untuk beberapa hal yang saya tau, saya sih tidak keberatan kalau berbagi ilmu. Lagipula untuk apa disimpan sendiri, lebih baik digunakan untuk kebaikan. Tapi masalahnya begini…. keseringannya orang menyalah artikan ‘minta diajari’ itu sendiri. Mereka tidak mau mengerti dan mencoba mengerjakannya sendiri. Maunya terima jadi. Selesai.

Loh, orang ini minta diajari atau melimpahkan kesalahan pada orang lain, sih? Kok malah jadi orang lain yang mengerjakan? Cape deh..

Padahal prinsip saya mengajari itu seperti kata pepatah “Give a man a fish and he will eat for a day. Teach him how to fishing and he will eat forever”. Jadi setelahnya mereka bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain.

Tapi orang maunya instan melulu. Maunya serba cepat. Apapun caranya pokoknya yang penting kerjaan beres. Lagian kok ngga mikir bagaimana prosesnya dulu. Memangnya dipikir orang bisa pintar juga ngga pake belajar dulu?

Saya sih kasihan saja dengan yang macam itu. Bagaimana kalau suatu ketika ada hal yang memerlukan penyelesaian semacam itu lagi? Siapa yang akan mereka mintai tolong?

Saat ini sih masih ada orang baik. Tapi serius, orang semacam itu tidak ada bedanya dengan pengemis yang setiap hari minta disuapi dari jerih payah orang lain.

Tapi selebihnya sih urusan Anda. Mau jadi pengemis terus ya silakan.

 

7 thoughts on “Suka yang instan

  1. ronal

    sepakat sama postingan yg ini mba…budaya instan sudah mulai meraja lela sepertinya mba..kaya instan, sukses instan apalagi mie instan hehe

    Like

    Reply
  2. Cahya

    Sebenarnya karena banyak hal yang terlalu rumit, jadi setiap orang maunya langsung jadi.

    Tapi setidaknya belajar sesuatu yang umum adalah kewajiban kita, menurut saya.

    Saya harus paham komputer dan bagaimana menggunakannya, karena saya memerlukannya dalam kegiatan sehari-hari, meski demikian saya tidak perlu tahu bagaimana merakitnya atau membuatnya. Saya rasa hal-hal seperti itu cukup.

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      Untuk hal-hal yang semacam itu ya kita bedakan dulu. Misalnya seseorang datang ke saya minta diajari mengetik dg komputer untuk menyelesaikan papernya, nah saya bisa mengajarinya dengan cara memorising dan teknik fingeringnya. tujuan supaya dia bisa mengetik sendiri, bukannya diketikkan.

      kalau merakit komputer untuk tujuan supaya bisa membuat sendiri ya itu dikembalikan siapa penulisnya. Masalahnya itu bukan di bidang saya, sebelum dia meminta pasti dia juga sudah tau saya tidak mahir di bidang itu.

      Saya kira itu beda konteks..

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s