Waspada terhadap masalah utama pemberantasan miras di kalangan remaja

“miras”

Yang menjadi pertanyaan mendasar dan perlu dicermati adalah setelah mengetahui bahaya minum minuman keras dan beralkohol, mengapa masih banyak remaja yang mengkonsumsi minuman haram tersebut?

Saya yakin pengetahuan masyarakat tentang bahaya minum minuman beralkohol tidak perlu diragukan lagi. Seminar dan penyuluhan sudah banyak membahasnya di ruang publik. Belum lagi informasi melalui pamphlet dan brosur. Namun bagaimana hasilnya? Saya kira kecelakaan maut di Tugu Tani tahun 2012 lalu masih menjadi gambaran jelas tentang bahaya miras bagi masyarakat, dan lingkungannya. Dan itu artinya, ada hal-hal penting yang menjadi masalah utama dalam menyuarakan gerakan anti miras yang tidak bisa dilihat secara common sense.

Pertama, orang yang memaknai minum minuman keras sebagai tindakan rasional tentu akan menjauhinya sebagai tindakan preventif terhadap dampak yang akan ditimbulkan setelahnya. Di sisi lain, orang yang berorientasi pada tindakan tradisional (hanya ikut-ikutan) atau selebihnya emosional (dorongan perasaan), tentu lain ceritanya. Meskipun dilarang secara tegas, pemaknaan tindakan yang demikian tidak menutup kemungkinan terbukanya peluang lahirnya pengguna miras yang baru. Apalagi remaja dikenal sebagai mahkluk yang suka coba-coba.

Selain itu, rasa solidaritas di tengah kelompok sepermainan mendukung timbulnya aktivitas miras di kalangan remaja. Lima mahasiswa laki-laki (sebut saja AM, ZI, ID, NG, dan RS) yang menjadi narasumber saya mengaku telah mencoba berbagai macam merk miras dari berbagai level kadar alkohol. Anehnya mereka miras justru sejak tau bahayanya.“Kalau tidak ikut minum artinya tidak berkawan”, tutur ID.

Menurut NG, kedatangan pengunjung ke kafe penyedia miras telah menjadi tradisi. Mereka datang tidak untuk sengaja menjadi mabuk, tetapi melakukannya sebagai aktivitas biasa sama seperti halnya ketika mereka menghadiri perjamuan minum teh. Tempat ini menjadi fungsional ketika hubungan bisnis dimulai di tempat-tempat seperti ini.

Jika ditelusur lebih lanjut, Bandung merupakan salah satu wilayah dengan tingkat prostitusi yang tinggi. Keberadaan pekerja seks komersial biasanya tidak jauh dari tempat penyedia minuman keras. Dalam artian, minuman keras ini menjadi salah satu faktor keberadaan pelanggan mereka. Pelanggan ada karena minuman keras juga tersedia.

Secara sosiologis, keduanya (masyarakat dan tempat penyedia minuman keras) terlibat ke dalam hubungan fungsional yakni hubungan yang dapat menimbulkan kesalingketergantungan. Setiap unsur tidak untuk kepentingan sendiri, melainkan untuk keberlangsungan dalam sebuah sistem. Bukan berarti keberadaan tempat semacam ini penting, namun seberapa besar gejala “penyedia minuman keras” tersebut berpengaruh dan menyumbang kelangsungan hidup sebuah sistem. Karena sejelek apapun moral suatu unsur, ia akan terus bertahan sepanjang keberadaannya masih menyumbangkan fungsi dalam sistemnya, yakni kehidupan masyarakat.

Di sisi lain, upaya berbagai digerakkan masyarakat melalui seminar, talkshow, dan penyuluhan pun tidak dapat menyelamatkan kemungkinan remaja terjerat miras. “Ya, saat itu sih saya tau kalau miras itu bahaya, dapat menimbulkan ini dan itu, tetapi yang namanya dorongan/ hasrat mana bisa ditahan hanya dengan sebuah wacana”. papar ZI. “Yang ikut seminar dan penyuluhan cuma orang-orang yang masih “bersih”. Jadi wajar kalau mereka tidak mau mencoba minum atau menjadi seorang peminum. Berbeda dengan orang-orang yang sudah terkena. Seminar tidak membuat mereka jadi sadar.”

Peran pemerintah dan UU dalam upaya pemberantasan minuman keras pun masih perlu dikritisi. Karena jika hukum adalah pilar terkuat di negeri ini, tentunya mudah menerapkan aturan agar dipatuhi seluruh lapisan masyarakat. Sayangnya justru sebaliknya. Kasus peyerbuan sejumlah kelompok agama terhadap tempat-tempat maksiat menunjukkan kelemahan aparat penegak hukum. Padahal kita tahu bahwa polisi secara legal dapat melakukan tindakan kekerasan secara absah. Jika peraturan dan aparat penegak hukum tidak berfungsi, jelas saja bahaya peredaran minuman keras semakin mengkhawatirkan.

Dengan demikian, setidaknya pemerintah, aparat, dan penerapan kebijakan hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:

  1. Alasan seseorang minum-minuman keras tidak sama. Maka treatmen yang digunakan sebagai pendekatan penyelesaian masalah juga berbeda.
  2. Hubungan fungsional seperti simbiosis mutualisme. Sejelek apapun moralnya, miras akan bertahan kalau masih menyumbang manfaat bagi masyarakat tertentu.
  3. Integrasi normatif, yaitu ikatan yang terbantuk karena adanya kesamaan prinsip, nilai dan aturan main. Sepanjang semua unsur berkomitmen menentang miras, sejauh itu pula peredaran miras dapat ditekan bahkan dihentikan.

Yang terakhir, UU dan aparat penegak hukum perlu siaga dengan tegas terhadap masalah-masalah dalam pemberantasan miras. Karena ketika ikatan normatif tidak lagi dapat mendorong terbentuknya cita-cita bersama, saat itu juga aparat penegak hukum harus siap dengan tindakan yang sifatnya koersif. Tindakan ini diharapkan dapat mengintegrasikan mereka ke dalam suatu bagian yang diharapkan oleh sistem, yakni negara Indonesia bebas miras.

8 thoughts on “Waspada terhadap masalah utama pemberantasan miras di kalangan remaja

  1. Pingback: Peserta Lomba AntiMiras (lengkap) | Eshape Blogger Jogja

  2. Pingback: Peserta Lomba Blog AntiMiras (3) | Gerakan Moral Anti Miras < 21 Tahun

  3. Fahira Idris

    Sahabat Komunitas Pejuang #AntiMiras

    Assalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh,

    Dalam berbagai kesempatan dialog, diskusi dan pertemuan lainnya, kita sepakat untuk menjadikan Gerakan Nasional Anti Miras adalah sebuah Gerakan Massal Masyarakat atas kesadaran terhadap bahaya latent yang diakibatkan oleh minuman beralkohol (minol) dan minuman keras (miras), khususnya bagi Anak dan Remaja di bawah 21 tahun;

    Sehubungan dengan itu, kita akan melaksanakan Traning for Trainers yg akan dipandu oleh teman2 dari @KomunitasSM dan @AntiMiras_ID , pada:

    Hari/Tgl : Sabtu-Minggu 6-7 Juli 2013
    Jam TFT : 08’00-17’00 wib
    Tempat : Rumah Damai Indonesia
    Jl H Saabun No20, Jatipadang, Margasatwa Pasar Minggu, Jakarta Selatan

    kiranya Sahabat dapat mengirimkan minimal 2 orang calon peserta, yang terlebih dahulu akan diseleksi dari data yang diisi calon peserta melalui formulir:

    http://www.mediafire.com/download/vb9pcdaiphf5p2k/FormPendaftaranTrainer.pdf

    Keikut-sertaan Sahabat dalam upaya2 Gerakan Nasional Anti Miras, InsyaALLAH akan meningkatkan kesadaran semua stake holder terhadap bahaya minol dan miras, khususnya Pemerintah dalam mengendalikan penjualannya.

    Training for Trainers Pejuang #AntiMiras – bhadiah HP Android Samsung Galaxy CHAT http://chirpstory.com/li/93088

    #BlogPost Training for Trainers Pejuang #AntiMiras

    http://antimiras.com/2013/07/training-for-trainers-pejuang-antimiras/

    Salam Sehat #AntiMiras
    @fahiraidris

    Like

    Reply
  4. Pingback: Anti Miras | Pengumuman Lomba Blog

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s