Menulis status galau

Suatu ketika ada salah seorang teman saya yang bertanya apakah saya tidak pernah galau? lantas dia menanyakan pula mengapa status di timeline saya tidak ada yang galau apalagi alay. Menurutnya itu aneh. Menurutnya saya orang paling bahagia sedunia yang bebas masalah. Oh ya?

Hehe, rasanya tidak mungkin kalau saya menjawab tidak pernah sedih. Sebagai manusia, anak muda pula, tentu saja saya pernah melewati masa-masa pernah galau. Sebagai remaja yang saat itu baru saja mengenal Facebook, saya pun tidak menyia-nyiakan fasilitas itu untuk menyampaikan uneg-uneg di kepala. Jadi update status yang paling galau dan alay seduniapun saya pernah.

Meski tidak dibilang bersih, dewasa ini saya hampir tidak pernah update status galau, apalagi alay. Saya sudah terbiasa dan nyaman dengan penggunaan kaidah bahasa dan penulisan yang baik. Tak terlupakan etika dan sopan santun. Namun, andaikan itu terjadi saya pasti sedang sangat khilaf. Atau mungkin kesurupan. Hehe.

Bahkan, sampai suatu ketika saya dibuat marah dan sedih oleh pacar semata wayang pun saya tidak tega menuliskan kata-kata yang seharusnya keluar dari mulut saya itu di timeline. Alhasil status di FB saya berbunyi:

Kadang saya dibuat bingung dengan sebuah pilihan,Β 
mana yang lebih saya suka jaketnya atau orangnya?
Meskipun benda mati, jaket ini kalau dipakai akan selalu menghangatkan..
di lain pihak, orangnya itu benda hidup tapi sayangnya ‘dinginnya’ setengah mati..
(tentu Anda tau apa maksud saya bukan?)

ah, mungkin memang lebih baik mencintai jaketnya saja…Β 
selamat pagi Ki Sanak, saya engga ngampus pagi ini..

Kalau dibaca memang tidak lebay, tapi kalau dipahami serius itu galaunya setengah mati. Tapi karena ada ikatan nilai dan norma rasanya jadi sulit marah-marah di timeline. Malahan saya berpikir bagaimana sharing yang bebas tetapi tidak mengganggu penggunaan kaidah bahasa dan etika. Kasihan juga kan pacar saya nanti kalau membaca status saya yang seperti kapal pecah..

Selain itu memposting status yang berlebihan justru akan menurunkan kredibilitas saya. Efeknya pasti luar biasa mengingat siapa saja teman-teman saya sekarang. Masa anak yang sudah jadi mahasiswa ini masih saja tolol seperti dulu. Reputasi saya bisa turun drastis dong..

Ngomelin masalah pacar di timeline itu tabu, lebih baik omelin saja langsung orangnya πŸ˜€ #mantaf

6 thoughts on “Menulis status galau

    1. Tina Latief Post author

      haha yang suka update status galau…

      rasanya gimana gitu teh kalau ngomel di timeline.. mending omelin langsung orangnya. Takut kebawa sampai tua, jadi nenek-nenek tukang ngomel πŸ˜€

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s