Menanggapi kebijakan perkeretaapian yang baru: mulai 1 April, kereta ekonomi Sepong dan Bekasi ditiadakan

Selama melakukan perjalanan dengan kereta commuterline, baru kali ini pintu kereta ber-AC ini tidak ditutup karena kelebihan penumpang. Memang logis. Jakarta merupakan melting pot berbagai wilayah di sekitarnya. Banyak pedatang yang mencari nafkah di Jakarta. Sore seperti ini sudah waktunya bagi para pekerja dari Jakarta pulang ke Depok atau Bogor dan sekitarnya. Jadi maklum kalau terjadi ledakan penumpang.

Akan tetapi, di tengah banyaknya pegguna jasa kereta api, pihak perusahaan bersama pemerintah mengeluarkan kebijakan perkeretaapian yang baru. Dimulai sejak tanggal 1 April 2013 kereta ekonomi yang beroperasi di Lintas Serpong dan Lintas Bekasi akan ditiadakan. Tentunya hal ini akan membawa banyak implikasi bagi masyarakat pengguna rute tersebut.

Jika dibandingkan dengan commuterline, harga tiket kereta ekonomi memang jauh lebih murah. Tidak heran, selain banyak penumpang yang berusaha masuk meski gerbong sudah penuh sesak, ada saja pedagang, pengamen bahkan pengemis yang memanfaatkan keberadaan kereta ini untuk mengadu nasip.

Lalu, bagaimana jika kereta ekonomi ditiadakan?

Pertama, seperti yang telah tertulis di paragraf sebelumnya, kemungkinan besarnya adalah kereta commuterline akan mengalami kenaikan jumlah penumpang. Jika sudah kelebihan penumpang, pintu terpaksa dibuka dan dengan kata lain hal ini menjadi pemicu munculnya kemungkinan kedua yakni menyediakan kesempatan bagi masuknya penumpang gelap.

Kalau sudah seperti itu, ada kemungkinan commuterline akan menjadi seperti kereta ekonomi. Karena pengamen, pengemis dan pedagang kehilangan lahan, bisa jadi mereka akan mencoba beroperasi di kereta yang baru. Begitu juga penumpang yang tidak kebagian space. Mungkin juga beberapa dari mereka akan mencoba naik di atap kereta.

Saat ini memang belum. Belum ada pedagang yang menjajakan dagangannya di kereta commuter. Begitu pula penumpang yang mencoba naik di atap kereta cepat ini. Namun perlu diketahui bahwa masyarakat selalu punya cara untuk merespon kebijakan pemerintah. Entah itu respon terbuka atau aksi sehari-hari. Karena pada dasarnya masyarakat juga tidak diam. Misalnya saja dengan gerakan sosial (terbuka) atau sekedar tidak membayar tiket (sehari-hari).

Masalahnya tidak semua kebijakan sepenuhnya memihak rakyat. Di sisi lain untuk pembangunan, namun dibalik itupun ada “pembangunan” yang lain. Bukan berarti saya tidak menetujuinya. Baiknya, tidak ada lagi penumpang yang tidak seharusnya menumpang di kereta api. Sebagai pengguna jasa kereta api, wajar jika saya ingin kenyamanan.

Namun kembali kepada respon masyarakat, hal ini pun perlu diperhatikan. Jika ingin sistem transportasi ini berjalan dengan baik pemerintah wajib bersiap-siap menghadapi respon masyarakat.

One thought on “Menanggapi kebijakan perkeretaapian yang baru: mulai 1 April, kereta ekonomi Sepong dan Bekasi ditiadakan

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s