Ingin melihat musim panen padi

Saya dengar, ini bulan di mana Gunung Kidul sedang musim panen padi. Malahan, menurut informasi kemarin, dusun Gerjo sedang mengadakan semacam perayaan atas panen raya tahun ini. Ini menjadi semacam kode bahwa yang dikatakan teman saya yang tinggal di sana benar. Panen padi petani tahun ini memang memuaskan. 

Saat itu saya hanya berkesempatan melihat padi yang baru saja ditanam seperti ini. 

Sungguh bukan keberuntungan bagi saya kehilangan momen besar seperti ini. Tapi apa boleh dikata, libur semester tidak jatuh pada awal bulan ini. Saya hanya bisa melihat fenomena panen raya itu sebatas dari foto-foto teman yang secara beruntung bisa turut serta dalam peristiwa itu.

Hal ini menjadi kritik saya pada mata kuliah Sosiologi Pedesaan yang seharusnya memberikan peluang bagi saya untuk bisa belajar lebih dekat atau langsung kepada objek real yang mana saat ini sedang tengah berlangsung. Saya tidak tau, acara turlap yang tetera pada silabus akan jadi dilaksanakan atau tidak. Jika jadi sekalipun, mungkin saya akan kecewa karena kemungkinan besar desa di sekitar sini tidak menyajikan pemandangan seperti pemandangan panen raya di Gunung Kidul. Seharusnya jadwal turlap di silabus juga diperhitungkan berdasarkan jatuhnya bulan-bulan strategis yang mana mahasiswa bisa turun lapangan langsung melihat fenomena yang sedang terjadi di desa. Misalnya seperti panen padi di Gunung Kidul.

Saat padi mulai kelihatan berisi, saya sudah kembali ke Jakarta.

Bagaimanapun juga, musim panen seperti ini tidak akan terulang dalam jangka waktu yang sebentar. Mungkin setahun-dua tahun lagi. Itupun jika panen padi bisa sebagus ini. Saya jadi menyadari satu hal, masalah waktu seperti inipun akan menjadi halangan bagi seorang ilmuwan untuk mengembangkan penelitiannya. Khususnya saya, hal ini menjadi halangan untuk menguji pengetahuan yang saya dapat selama di kelas.

Panennya luar biasa. Selain berisi, panennya juga banyak. Sayang saya tidak bisa melihatnya langsung.

Jika bulan Juni saya bisa sampai ke sana, pemadangan yang tersisa mungkin tinggal padi yang telah dirontokkan, rapi di karung-karung penyimpanan. Masalahnya, yang ingin saya ketahui bukan sebatas pada hasil panen, melainkan terkait dengan kebijakan Revolusi Hijau beberapa tahun silam. Benarkah Revolusi Hijau merubah pola kehidupan masyarakat di sana? Bagaimana perubahannya? Benarkah Revolusi Hijau membawa dampak pada berkurangnya peran wanita di sana seperti desa-desa lain yang telah dituliskan sebelumnya? Apa bibit padi yang digunakan kemarin? Bagaimana cara mereka menuai hasil panen? Apa yang dikerjakan para wanita? Bagaimana dengan pekerjaan pria? Dsb.

Sepertinya impian saya harus ditunda tahun ini. Gabah yang sudah dijemur pertanda bahwa musim panen akan segera berakhir.

Padahal saya ingin sekali melihat musim panen padi di sana. Sayangnya waktu tidak bersahabat dengan saya. Saya hanya turut senang. Kali ini petani-petani di Gunung Kidul bisa menikmati hasil panen setidaknya sampai setahun lamanya. Mudah-mudahan lain kali saya bisa ikut mencicipi kegembiraan saat menuai hasil panen.

Foto-foto berasal dari kawan yang beruntung bisa menyaksikan panen raya tahun ini. 

4 thoughts on “Ingin melihat musim panen padi

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s