Menjawab pertanyaan: Apa cita-citamu?

Salah satu pertanyaan yang sulit untuk dijawab adalah pertanyaan mengenai “Apa impianmu? Apa cita-citamu?”. Seseorang dengan usia seperti saya sekarang dianggap aneh jika tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Mana mungkin seseorang bergelar mahasiswa ini tidak punya mimpi?. Dan biasanya kami dibandingkan dengan anak usia 5 tahun yang dengan suara lantang menjawab: “Dokter! Polisi! Guru!” dsb.

Tapi ketahuilah wahai penanya. Sebenarnya jika kami ditanya apa impian kami seperti layaknya menanyakan cita-cita kepada anak usia 5 tahun adalah tidak relevan. Jawaban anak tersebut memang fokus, tapi bagi saya jawaban itu hanyalah sesuatu yang commonsense. Anak itu hanya menyebutkan profesi. Kalau begitu saya juga bisa. Saya ingin jadi sosiolog. Titik.

Masalahnya, dengan menjawab pertanyaan itu permasalahan belum selesai. Bagaimana kelanjutannya? Bukankah term “sosiolog” itu terdengat sangat absurd?

Masalah besarnya adalah, jika seseorang ingin jadi sosiolog, maka akan menjadi sosiolog seperti apa? Apa yang akan dikerjakan? Bagaimana rencana mencapai tujuan itu? Apa konsekuensinya? Apa manfaatnya? dsb. Keunggulan orang dewasa adalah mampu menjelaskan sistematika pencapaian mimpinya yang tidak bisa dijelaskan oleh anak berusia 5 tahun.

Lalu mengapa masyarakat umum selalu membandingkan kita orang dewasa dengan anak kecil? “Kalah kamu dengan anak-anak!”. Wah, menanggapi hal semacam ini orang dewasa yang cerdas jawabannya juga harus cerdas. Kala tidak bisa berujung pada teori labeling yang berujung pada menurunnya semangat juang.

Hehe, saya memang bermimpi, tapi bukan pemimpi. Saya adalah seseorang yang bermimpi besar. Cita-cita saya tidak bisa dijelaskan dalam satu atau dua kata!

9 thoughts on “Menjawab pertanyaan: Apa cita-citamu?

  1. E-One

    Dari dulu saya kecil ketika ditanya cita-cita, jawaban saya hanya satu: “menjadi orang yang berguna bagi diri sendiri, orang lain dan lingkungan.”. 😀
    Apapun profesinya, asalkan berguna, itu cita-cita saya. Saya kan bisa jadi apa saja. 🙂 Jawaban ini diplomatis, tidak bisa lagi diperdebatkan, apalagi dibilang kalah sama anak kecil.

    *btw, dari dulu saya ndak suka ditanya mau jadi apa. Hehehehe…*

    Like

    Reply
      1. E-One

        Sebenarnya itu jawaban retorikal kok. 🙂
        Kalo mo ditanya sudah atau belum, pastinya sudah lah. Bagaimana mungkin seseorang tidak menjadi manfaat bagi orang lain walau hanya sekali? Setidaknya, bagi keluarganya sudah pasti ada manfaatnya. 🙂
        Hehehehe…
        Kalau dalam skala yang lebih luas, masih diproses lebih lanjut dalam berbagai hal tentunya…

        Like

      2. Tina Latief Post author

        hehehe, kalau skalanya seperti itu secara naluri saya kira semua orang punya sisi ingin bermanfaat mas. Misalnya saat seorang lelaki memberikan tempat duduk kepada seorang ibu hamil. Itu bukan cita-citanya, tapi secara naluri dan moralitas seperti itu…

        Like

  2. niee

    kalau aku sekarang ditanyain cita-cita gak mau ngebahas mengenai masalah profesi, tapi lebih ke apa yang aku ingin dilakukan selama hidup ini 😀

    Like

    Reply
  3. ronal

    saya baru menenumakan mau jadi apa saya ketika baru mau beres kuliah mba…kalo anak kecilkan asal sebut..belum tau apa itu dokter,pilot dll, dan mreka kan belom tau cara menggapainya dan apakah sesuai pasion mereka atau tidak 😀

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s