Menulis tanpa pengetahuan

Menulis tanpa pengetahuan itu memang seperti seorang tukang obat yang menawarkan satu obat dengan 10 jenis penyembuhan penyakit. Sebenarnya tadi saya sudah menulis cukup panjang, namun saya masih segan mempostingnya di sini. Saya berpikir, jika saya posting sekarang apakah akan memberikan manfaat bagi yang membaca?

Jangan-jangan saya justru dicibir ilmuwan-ilmuwan hebat yang tidak sengaja mengetikkan kata di mesin pencari yang membawa mereka tersesat pada tulisan saya tersebut. Kemudian mereka justru menangis diatas ketololan saya menuliskan sebuah hipotesis. Gerrrrr,  saya bisa menjadi bahan tertawaan di sebuah sudut ruangan. Mau jadi apa bangsa kita ini jika mahasiswa yang dipercaya membawa perubahan justru melakukan ketololan dengan membual dengan sebuah tulisan yang tidak ada sumber datanya. Mana mungkin saya menuliskan “memprediksi mode itu lebih mudah daripada musik” hanya dengan  2 kali pertemuan kuliah di kelas MMI?

Oughhh…

3 thoughts on “Menulis tanpa pengetahuan

  1. E-One

    Kalo saya sih, saya tulis saja. 🙂
    Hanya diberikan penjelasan sebagai “asumsi”, bukan “fakta ilmiah”.
    Kadang apa yang kita asumsikan bisa terbukti seiring dengan waktu lho, saat ada orang yang melakukan penelitian tentang hal tersebut. 🙂
    Kalopun ada yang tersesat ke blog kita, tentu tidak mengapa, toh kita sudah memberikan penjelasan sebagai asumsi atau opini. Lagipula, sedikit ditertawakan orang membuat hidup lebih indah. Hehehehe… 🙂

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s