Sekarang lebih suka yang kosong

Makin ke sini saya tidak suka dengan buku yang bergaris. Saya lebih suka buku yang benar-benar kosong, bertekstur kasar, dan berwarna kecoklatan. Lebih kompatibel menurut saya. Berapa tahun saya memakai buku bergaris? Ya ampun..

Saya merasa buku bergaris sering merenggut kebebasan saya berekspresi. Seakan kebebasan saya hanya sebatas  2 garis yang mengapit, atas dan bawah. Ini seperti ketika saya benar-benar ingin mengisi lembaran hidup saya sendiri. Akan seperti apa saya mengisinya, tergantung kepada keingian dan kapasitas saya. Siapa saya yang berhak mengisi lembaran tersebut, juga tergantung pada saya.

Orang tua dan orang-orang lain terdahulu telah cukup banyak mengintervensi dengan kata “tidak” dan “jangan”-nya yang bertubi-tubi. Saya rasa anak-anak sekarang sudah tidak harus menerima intervensi macam itu. Biarkan saja bebas, but still under control.

Ngomong-ngomong, saya sudah puya beberapa. Sayangnya buku seperti ini lumayan mahal. Aneh, padahal pabrik tidak perlu repot memberi garis, kenapa justru lebih mahal? Hhhhh

8 thoughts on “Sekarang lebih suka yang kosong

    1. Tina Latief Post author

      ah mas slamet, udah jago kok minta diajarin..
      sekarang kan sudah beralih ke pc, kenapa malah tertarik belajar menggambar di kertas?

      Like

      Reply
  1. Pingback: Catatan Kuliah Nita | JNYnita

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s