Dosen killer, apa masalahnya?

Karena nilai ditangan dosen. Kebanyakan mahasiswa menjawab demikian.

Memang benar, dosen dengan predikat killer biasanya membuat nilai mahasiswa anjlok. Namun saya pikir tidak ada bedanya dengan dosen kebanyakan yang predikatnya enak atau biasa-biasa saja. Jika dosen yang dikatakan killer dikatakan pelit nilai artinya standar nilainya beberapa level lebih tinggi di atas dosen yang lain. Itu saja saya kira.

Seharusnya kita tidak perlu takut nilai akan anjlok. Kuncinya hanya satu. Jadilah mahasiswa yang cerdas, maka dengan sendirinya dosen akan jatuh hati. Dengan begitu dosen tidak akan segan memberikan nilai bagus. Kalau kita bisa lulus dengan nilai A di mata kuliahnya, bukankah itu berarti kemampuan kita lebih beberapa level di atas yang lain. Keren dong!

Apakah saya sudah berpengalaman? Jujur saja saya belum begitu berpengalaman. Kebetulan sekali saya baru saja mendapat rumor kalau dosen Bahasa Inggris saya berpredikat killer se universitas. Dalam hal ini saya bermaksud menguji hipotesis saya. Bisakah saya memikat dosen ini?

Lets fight for A

13 thoughts on “Dosen killer, apa masalahnya?

  1. niee

    kalau aku malah berusaha gak dikenal sama dosen, baik itu dalam hal positif apalagi negatif, biasanya cara ini cukup ampuh untuk dapet nilai aman B πŸ˜‰

    Like

    Reply
  2. E-One

    Dulu pacar saya juga begitu, takut sama dosen killer.
    Saya bilang padanya, “lakukan saja yang terbaik, kumpulkan tugas tepat waktu dan tidak membuat masalah”. *pengalaman pribadi dengan dosen killer*
    Akhirnya, semua beres… tidak ada lagi dosen killer. πŸ™‚

    Like

    Reply
  3. JNYnita

    klo di kampusku sih gak begitu mikirin nilai, yang penting lulus! walau di beberapa bagian utk lulus hrs dpt nilai 86 (dipaksa untuk A)
    Klo di FKG, dosen yang killer itu yang suka nanya2 detil, untungnya klo mahasiswa bs jawab pertanyaannya, mereka lsg baik.. πŸ™‚

    Like

    Reply
  4. Tutik Inayati

    wakakakakak analogis yang sangat tidak sinkron πŸ˜€
    yeah hipotesis tak selalu sesuai dengan fakta yg ada. but, whatever laaah
    sebagai mahasiswa yg semakin dewasa dalam bertindak, kita sudah bisa menentukan sikap yg kita rasa baik. bukan begitu bu amtina? πŸ˜€

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      Namanya juga dlam rangka menemukan kebenaran hehehe. Masalahnya kalau sudah membuktikan itu ngga masalah In, tapi ini ngga jadi membuktikan karena tidak berani mengambil resiko. Eh sebenarnya karena belajar itu lebih penting sih..
      hehehe, iya dong harus bisa memilih sendiri.

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s