Tegur sapa, perbincangan dan gossip

Saya dulu sering menggerutu jika Mom pergi ke warung terlalu lama. Saya pikir barang yang dibeli tidak sebanyak jika belanja di pasar, aneh jika membutuhkan waktu selama itu. Tetapi akhirnya saya mengerti, orang di desa membutuhkan waktu lebih lama untuk bertegur sapa.

Berbeda halnya dengan di kota. Di kota tempat saya tinggal, mungkin saya bisa lewat di depan kerumunan orang hanya dengan mengucapkan salam atau permisi, atau bahkan tidak menegur sama sekali. Orang di sana tidak akan menganggap saya tidak punya sopan santun. Namun ketika di desa, saya harus menjaga etika setiap waktu. Saya harus menyapa atau balas menyapa setiap orang yang saya jumpai, entah itu di jalan atau di angkot. Terkadang saya harus mengulur waktu lebih lama karena pertemuan saya dengan seseorang di jalan misalnya, justru menimbulkan perbincangan yang tidak sebentar. Terlebih jika salah seorang di antara kami lama terdengar kabarnya.

Selain itu, meluasnya arus informasi di desa dalam waktu yang singkat salah satunya karena pola interaksi yang seperti ini. Mungkin Anda pernah mendengar, Β satu issue yang muncul dari sebuah rumah dalam waktu sekejap bisa didengar orang satu desa. Sifatnya memang terdengar seperti kabar burung, kebenarannya masih mengambang antara benar atau salah. Namun efeknya luar biasa cepat, jika kabar baik seseorang bisa termasyur sebaliknya jika kabar buruk maka dalam sekejap seseorang akan kehilangan kehormatannya.

Benar bahwa masyarakat desa memiliki pengendali sosial yang baik, namun saya sendiri terkadang tidak menyetujui pengendalian sosial dengan cara bergosip. IyaΒ  kalau kabarnya benar. Lagipula membicarakan keburukan orang lain sungguh tidak mulia. Andai saja masyarakat menyertakan sumber kutipan acapkali mengutarakan sebuah pendapat, mungkin orang tidak akan membuat gossip murahan yang merugikan banyak orang.Β 

8 thoughts on “Tegur sapa, perbincangan dan gossip

  1. Cahya

    Gosip kadang menjadi pengendali yang baik, namun hanya menunjukkan tingkat intelektual masyarakatnya yang belum cukup dewasa. Yah, jangan berharap banyak di pedesaan, mereka bukanlah sekumpulan Socrates atau Plato.

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      hehehe, setidaknya kalau mereka menyertakan sumber kutipan data orang akan tau siapa biang keladinya mas :D. Terkadang saya suka mengecam orang yang bergosip seenaknya. Mereka sudah tau yang dibicarakan adalah hal yang memalukan atau musibah seseorang, tetapi menyikapinya tidak tepat. Setidaknya kalau sudah dibicarakan menyikapinya sedikit lebih baik. Tetapi saya juga tidak bisa seenaknya menyalahkan.

      Like

      Reply
  2. chrismanaby

    Iya mbak, betul banget, didesa bener2 kental bertegur sapa yg seperti itu, ibu saya kalo belanja juga bisa sejam, padahal yg dibeli cuma gula, tapi pulang bisa bawa sayur nangka, kadang sayur mentah atau buah (karena dikasih tetangga) πŸ˜€

    Like

    Reply
  3. budiastawa

    Setuju sekali, Tina. Saya tinggal di desa. Gaya bertegur sapa orang di desa memang beda dengan di kota. Dan memang, yang namanya isu negatif itu menyebarnya lebih cepat ketimbang yang positif. Kadang seseorang hanya pingsan tapi kabarnya dia itu sudah mati. Unik ya…

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s