Kata dusun Gerjo, perantau adalah orang kaya

Saya tidak menyangka, meski termasuk angkatan tahun-tahun sekarang, saya masih menjumpai paradigma yang menyatakan bahwa perantau Jakarta adalah orang-orang kaya setelah kembali ke kampung halaman.  Saya pikir, pandangan seperti ini sudah berubah, tetapi nyatanya tidak. Teman-teman yang mengobrol dengan saya beberapa waktu lalu justru masih seperti angkatan tahun-tahun sebelumnya yang mana saat itu banyak anggota masyarakat yang menjadi perantau.

Sebagai orang yang termasuk dalam angkatan tahun-tahun yang modern, aneh jika paradigma seperti itu masih bertahan sampai sekarang. Kalau diuraikan satu-persatu, merantau ke luar daerah khususnya Jakarta memang sudah menjadi budaya turun-temurun, mulai dari ayah, anaknya, lalu anaknya lagi. Usai kelulusan, tak sampai 3 bulan kemudian sudah banyak kaum muda yang merantau ke Jakarta. Seperti yang kita ketahui, pada akhirnya desa kekurangan sumber daya manusia.

Tadinya saya berpikir, semakin mengenal pendidikan yang lebih baik, pola pikir masyarakat akan lebih baik pula. Katakanlah seorang buruh pabrik yang gajinya 2 juta dengan standar biaya hidup Jakarta. Karena ia tulang punggung keluarga, setiap bulan, setidaknya sepertiga gajinya, harus dikirim ke kampung halaman. Sisanya digunakan untuk makan, tempat tinggal dan biaya hidup yang lainnya. Kalau ingin memiliki tabungan atau kirim lebih banyak, biasanya akan ada kerja lembur. Menjelang lebaran atau akhir tahun, ia kembali ke kampung untuk liburan dengan wajah yang berbeda. Gadget baru, transportasi baru, uang banyak. Menurut masyarakat, ia sukses mejadi orang kaya. Singkatnya merantau=kaya.

Kalau uraiannya seperti itu, maka sukses dan kaya bertolak ukur pada uang. Akan tetapi jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, perantau bisa menjadi orang yang paling miskin. Selepas sekolah, seseorang  harus memutus hubungan dengan kawan-kawan di wilayah asal guna mencari uang di perantauan. Selama menjadi perantau, pergaulan terbatas pada teman-teman seprofesi. Itupun jika tidak lembur, jika lembur maka waktu bergaul dan beristirahat akan semakin berkurang. Selain kesehatan yang sering terganggu, arus informasi juga terbatas dan yang saya ketahui, pada akhirnya mereka hanya akan menikah dengan orang yang dikenal di lingkungan kerja tersebut.  Andai saja semua orang tau, untuk bisa mengumpulkan uang banyak, ia bisa saja makan sekenanya. Saya pernah mendengar penuturan salah seorang ibu yang anaknya merantau, anaknya makan 3 kali sehari dengan oreg tempe yang dibelinya di warteg seharga ribuan rupiah. Tidak heran jika banyak perantau pulang dengan badan kurus.

Bandingkan jika seseorang menetap di wilayah asal, menikmati kehidupan desa yang damai serta berkumpul dengan keluarga. Saya pikir, mereka yang mampu berkembang di daerah asallah yang merupakan orang terkaya di sini. Mereka berkembang, namun masih bersahabat dengan kampung halaman tanpa perlu berkorban banyak hal.

Jika permasalahan di kampung halaman adalah kurangnya lapangan pekerjaan sehingga memicu terjadinya urbanisasi, maka solusi agar desa tetap kaya SDM adalah perlunya diciptakan lapangan kerja. Siapa yang akan membuatnya tentu pemudanya itu sendiri. Kalau pemudanya pergi, mana mungkin konsep entrepreneurship bisa tercipta.

One thought on “Kata dusun Gerjo, perantau adalah orang kaya

  1. Cahya

    Saya perantauan, dan saya merasa jauh dari kaya secara finansial. Tapi ada banyak hal yang bisa saya dapatkan dan yang tidak bisa saya dapatkan dengan merantau. Untuk setiap keputusan, ada harga yang harus dibayar.

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s