Kicau burung x

Sejak pemburu banyak yang pergi merantau, sepertinya burung-burung di desa mulai banyak yang berkicau lagi. Mungkin populasinya mulai meningkat setelah burung dewasa tidak banyak diburu lagi. Siang ini, usai shalat zuhur saya tidur-tiduran di depan serambi rumah. Saya sedikit mengantuk, tetapi mendadak perhatian saya beralih ke suara-suara merdu yang terkadang terdengar sedikit lucu di samping rumah. Saya tidak tahu burung jenis apa yang berkicau seperti itu. Menurut saya rangkaian huruf abjad di keyboard ini tidak bisa mewakili kicauannya.

Berdasarkan cerita Mom, burung tersebut memiliki ciri-ciri berparuh panjang dengan warna bulu ungu mengkilat. Biasanya ,burung itu berpasangan sehingga kicauan yang dihasilkan sangat bagus. Mom menyebutnya burung yang sedang berpacaran. Namun, saya lebih suka menyebutnya bercengkrama. Lebih “burung” saya pikir.

Meskipun demikian, burung yang kicaunya terdengar merdu ini tidak seluruhnya kicauan riang. Kadang nadanya terdengar sedih dan mendayu-dayu. Menurut Mom, burung juga menyampaikan kesedihan hatinya melalui kicauannya. Hanya saja manusia tidak mengetahui itu, ia mendengarnya sebagai sebuah bunyi yang merdu saja. Namun apa yang dikatakan Mom memang benar, saya pernah membaca kisah burung Murai di sebuah buku.

Saya jadi bertanya-tanya, apakah gerangan yang bisa membuat burung-burung merasa sedih. Sedih karena kehilangan telur atau anak-anaknya mungkin sama seperti manusia yang sedih kehilangan anggota keluarganya. Atau kehilangan sarang seperti nasib burung yang bersarang di pohon kedondong yang rubuh kemarin. Pernahkah burung-burung itu terpikir betapa menyedihkannya manusia yang lambat laun semakin menggerogoti isi hutan demi uang. Mungkin burung  atau monyet yang kehilangan sarang di hutan merasa sedih, tapi yang sebenarnya menyedihkan adalah manusia itu sendiri. Bagaimana tidak, hanya demi uang manusia menghalalkan segala macam cara dan upaya. Menyedihkan.

4 thoughts on “Kicau burung x

  1. lozz akbar

    sedih karena mungkin rumahnya digusur oleh manusia.. andai saja kita lebih bersahabat dengan mereka, so pasti setiap pagi kita tak akan henti mendengar nyanyiannya yang merdu dengan gratis.

    salam kenal mbak.. tulisane bagus loh 🙂

    Like

    Reply
  2. budiastawa

    Sayangnya kita nggak mengerti bahasa burung. Orang tak peduli apa arti kicauan mereka. Asalkan bisa berkicau, ya sudah kurung di sangkar aja. Padahal bisa saja kicauan mereka itu adalah rintihan memelas agar mereka diberikan kebebasan. Bukan begitu, Tina?

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s