Menjelang UAS, mengapa banyak tugas?

Saya tidak tau sudah berapa lama pertanyaan ini dikeluhkan dan dipertanyakan di kalangan mahasiswa di universitas. UAS sudah tinggal sebentar lagi, mengapa justru banyak tugas?

Seperti pengalaman saya kemarin. Bisa dibilang saya hampir luput alias kacau. Mungkin Anda pernah mengalami yang namanya tugas beruntun. Weekend kemarin bisa dibilang saya tidak bisa menikmatinya. Saya tidak bisa menghabiskan waktu membaca buku seperti biasa karena dipaksakan oleh sebuah tanggungjawab. Bisa Anda bayangkan jika 3 tugas besar dijadwalkan harus siap di hari Senin. Persiapan Gelas Maba, Pagelaran wayang untuk tugas akhir, dan masih ditambah tugas pengantar politik. Sungguh, rasanya saya hampir gila. Sampai-sampai saya saya kekurangan tidur. Namun, jika tidak dikerjakan dengan totalitas tinggi saya rasa bukan saya orangnya.

Pertanyaannya adalah apakah pemberian tugas banyak di akhir sudah menjadi kultur? Jika dilihat sejarahnya mungkin ini bukan kultur, tetapi memang sistematikanya demikian. Setelah cukup belajar, seorang murid akan diuji seberapa banyak pengetahuan yang didapatnya, seberapa paham dirinya terhadap ilmu yang disampaikan.

Dan disebut kultur karena selama ini segala sesuatu masih diukur dari hasil akhirnya. Jika segala sesuatu itu diukur dari prosesnya, mungkin tugas akhir itu tidak perlu. Kita hanya Β perlu melakukan prosesnya sebaik mungkin dan melaksanakan perolehan sesungguhnya di kehidupan nyata.

Karena kedua hal tersebut masih menjadi dalang utama, wajar jika menjelang UAS masih banyak dosen yang memberikan seabrek tugas. Kalau saya menjadi dosen, kelak mahasiswa akan saya suruh liburan sebelum ujian πŸ˜€

Bukankah sebelum bertempur sebaiknya berelaksasi terlebih dulu ?

19 thoughts on “Menjelang UAS, mengapa banyak tugas?

  1. marsudiyanto

    Yang di tingkat SMP/SMA juga banyak terjadi guru yg tak memperhatikan aturan pemberian tugas yang sudah diatur waktunya. Ada aturan yang sering diterjang yaitu bahwa waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas itu ada perhitungannya dan tidak asal ngasih tugas. Guru harus menghitung secara cermat.

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      betul pak, terkadang guru manapun tidak memperkirakan timeline dan deadline siswa, padahal tidak hanya tuganyalah yang dikerjakan. Ada banyak sekali guru yang memberikan tugas sekenanya yang penting siswa dapat nilai..

      Like

      Reply
  2. Harmony Magazine

    Dari pengalaman temen yang ikutan AFS di USA dulu, kalo mo final exam, seminggu sebelumnya ga ada tugas. Bahkan yang keren, liburan panjang awal musim panas ga dikasi PR sama gurunya. πŸ™‚
    Kalo di Indonesia kebalikannya, justru kalo liburan malah dibanyakin PR-nya. Perasaan saya dulu waktu kuliah ga sebanyak itu tugasnya. Waktu SMP/SMA ya biasa aja tuh. Trus lagi gurunya bisa dinego kalo ada tugas yang dikumpulin dalam waktu yang sama. Atau mungkin anak sekarang ga ada berani yang nego sama gurunya dan cuma nggerundel di Facebook aja? πŸ˜€

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      bukan ngga berani mas, cuma merubah struktur pendidikan ini susahnya setengah mati. Yang ada siswa dijadikan kambing percobaan.

      Like

      Reply
  3. Zaenuri Achmad

    Kalau sudah mahasiswa…
    Sebagian Dosen dan Asisten Dosen kurang memperdulikan hal-hal tersebut
    Dulu aku pernah,
    Saat Final Exam masih menulis lembaran tugas…

    Tapi diambil segi positifny aja

    Like

    Reply
  4. html1155

    mungkin tujuan nya baik mba, siapa tahu ada soal yg munking nanti muncul di UAS ada pada tugas yang diberikan….positif thinking aja, lagian yg nanti pintar kan kita ini, bukan olang lain….
    tetap semangat…

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      tugas kantor? saya besok ngga perlu mengerjakan tugas mas, yang ngerjain anak buah saya. πŸ™‚
      kalau sistem pendidikan ngga bener proteslah.. kalau mau nurut gitu aja mau jadi apa?

      Like

      Reply
  5. Akhmad Muhaimin Azzet

    Kalau menurut saya juga begitu. Maka, sebelum ujian justru jangan dibebani dengan seabrek tugas. Aneh. Dulu saat saya kuliah, justru tidak belajar serius ketika akan ujian. Maksudnya, hanya buka2 buku saja, sambil mengingat-ingat, ooo ini begini, itu begitu. Belajar dengan sungguh2 itu jauh haru sebelum ujian. Mendekati ujian saatnya tenang, hanya lihat-lihat buku saja, sambil banyak berdoa.

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s