Masih perlu belajar mengabdi

Bertepatan dengan hari pahlawan 10 November kemarin, saya beserta ke-71 orang lainnya dalam satu angkatan berlatih mengabdi kepada masyarakat di sebuah pelosok daerah yang sasaran utamanya adalah anak-anak di sebuah rumah baca.  Esensi dari kegiatan ini sebenarnya adalah untuk melatih kemampuan kami untuk bersosialisasi sekaligus menjadi sosok yang dibutuhkan kapanpun dan dimanapun. 

Namun, memberikan manfaat kepada masyarakat secara tepat itu tidak mudah. Meskipun pengalaman berorgansasi sebelum kuliah sudah cukup banyak, tetapi lain lubuk lain udangnya. Permasalahan yang perlu ditangani di masyarakat satu dengan lainnya berbeda sehingga tidak mungkin menggunakan penanganan yang sama.

Dalam kasus ini, masalah yang kami hadapi adalah sekelompok anak-anak dengan beragam usia. Berbagai masalah yang muncul diantaranya:

1. Apa yang dapat saya dilakukan untuk anak-anak ini?
2. Apa manfaatnya untuk anak-anak?
3. Bagaimana saya bisa menyampaikan dan mengaplikasikannya kepada anak-anak?

Paling tidak ke-3 pertanyaan tersebut sudah cukup krusial untuk diangkat menjadi masalah disamping masalah-masalah lain seperti perlengkapan, persiapan rencana, anggaran dana, sistematika keberangkatan, koordinasi, dsb.

Di antara masalah-masalah tersebut yang menarik dan penting untuk digarisbawahi adalah bagaimana cara berkomunikasi dengan anak.  Tentunya kita tidak dapat mengkomunikasikan ide dan gagasan seperti layaknya berkomunikasi dengan orang dewasa atau sebaya. Kita harus mentranslate gagasan ke bahasa anak sehingga anak mudah mengerti. Tidak mungkin bukan menanyakan “apa saja komposisi playdough?” kepada anak-anak.

Terjun langsung ke masyarakat memang tidak mudah kalau tidak tau kondisi medannya secara universal. Hehehe, menjadi pahlawan juga perlu belajar banyak ya 😀

12 thoughts on “Masih perlu belajar mengabdi

    1. Tina Latief Post author

      kalau dokter baksosnya lebih menantang ya mba Nit?
      kalau ada bencana langsung bisa turun jadi tenaga medis, eh gitu ngga sih?

      Like

      Reply
  1. Ely Meyer

    lihat foto fotonya jadi inget anak anak tetangaku dulu yg tiap hari kumpul rame rame di rumah, melakukan byk hal bersama sebelum acara mengajar tiba 😛

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      anak-anak idenya bagus-bagus mba..
      sayangnya mereka tidak difasilitasi prangtua yang memadai untuk membimbing mereka..
      that’s why I’m standing here..
      perlu belajar untuk menjadi sosok yang bermanfaat buat mereka

      Like

      Reply
  2. delakeke1

    Waduw jadi iri neh ama kegiatannya..soalnya dulu jaman kuliah,jarang banget ikut ikutan terjun dilapangan
    Adanya istrahat kalau ada waktu libur, karena terlalu capek ama Kuliah dan Pratikum
    Saluuutttt

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s