Mengapa antusias dengan penyembelihan hewan qurban?

Saya tidak ingat berapa usia saat itu. Namun di usia itu untuk pertamakalinya saya melihat parade pemotongan hewan qurban dan di usia itu juga saya tidak bersedia lagi melihat posesi pemotongan hewan qurban.

Dulu saya sering heran mengapa teman-teman begitu antusias dengan acara pemotongan hewan qurban. Usai shalat Ied di lapangan besar Grogol, mereka langsung berbondong-bondong mendatangi masjid-masjid di dusun untuk menyaksikan beberapa sapi dan kambing disembelih.

Pengalaman masa kecil membuat saya tidak seperti anak-anak lain yang sampai saat ini masih gemar menyaksikan posesi penyembelihan hewan. Darah, merah, suara lenguhan hewan yang sedang sakaratul maut, proses pengulitan, pemisahan organ-organ tubuh, daging, bau anyir, sampai sekarang saya belum bisa menerima sepenuh hati mengapa anak-anak dan teman-teman saya bisa menikmati kondisi pemandangan seperti ini sebagai hiburan.

Kalau hiburan diartikan sebagai sesuatu yang menyenangkan, maka Idul Adha disertai dengan ritual pemotongan hewannya merupaka hiburan karena momen ini hanya terjadi setahun sekali. Terlepas dari keinginan anak-anak melihat posesi pemotongan hewan pun, momen ini adalah kesempatan bagi masyarakat untuk memperbaiki menu makan. Sebelum segalanya lebih mudah seperti sekarang, mendapatkan daging sebagai sumber gizi merupakan hal yang sulit. Orang yang bisa makan daging setiap hari hanya orang yang berkecukupan. Selain karena di kota jarang terlihat binatang kurban dipelihara, anggapan masyarakat bahwa qurban menjadi sarana perbaikan gizi pun tidak salah. Wajar apabila masyarakat begitu antusias dengan penyembelihan hewan qurban.

Tak berbeda dengan masyarakat di desa. Kebutuhan itu sama dirasakannya dengan masyarakat di desa. Terlebih masyarakat di desa mengandalkan bertani dan beternak untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Hasil ternak difungsikan ganda, sebagai alat angkut dan juga sebagai pemenuhan gizi keluarga. Bagi anak-anak penggembala, binatang ternak seperti sapi, kambing dan kerbau sudah menjadi teman mereka sehari-hari. Meskipun sekarang jarang terlihat penggembala sapi atau kambing di pedesaan, kemistri pada hewan ternak tersebut belum luntur. Kekuatan kemistri itu membawa mereka pada kerumunan di hari Idul Adha.

2 thoughts on “Mengapa antusias dengan penyembelihan hewan qurban?

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s