Jokowi tantang 300 lurah dan camat se-Jakarta

Pak Jokowi itu kalau pakai stelan jas seperti saat berkunjung di salah satu lokasi kecamatan di Jakarta memang kelihatan ganteng dan berwibawa. 😀

Jokowi saat menggelar inspeksi mendadak

Jokowi saat menggelar inspeksi mendadak diambil dari http://news.liputan6.com

Agaknya para lurah dan camat se Jakarta harus rela dan mulai terbiasa dengan adanya persamaan tempat duduk dengan masyarakat umum yang dilayani di kantor-kantor lurah dan camat di Jakarta. Pasalnya, sekitar 300 PNS yang usai dikumpulkan Jokowi di Balai Kota Jakarta tersebut mendapat tantangan baru untuk mulai memperbaiki struktur kerjanya sebagai pelayan masyarakat. Mulai dari jam pelayanan masyarakat, atribut pelayanan seperti tempat antrean, loket sampai tempat duduk bagi pengantre.

Jokowi memang mengkritik sejumlah lurah dan camat yang hadir tentang  pelayanan masyarakat yang tidak efektif bagi masyarakat. Jokowi mengungkapkan, sebagai subjek yang dilayani, masyarakat seharusnya mendapatkan pelayanan yang memadai. Sistem pengaturan pelayanan masyarakat  harus diperbaiki. Hasil  inspeksi mendadak di beberapa kantor kelurahan dan kecamatan di Jakarta Pusat menunjukkan umumnya loket-loket pelayanan masih belum dibuka. Selain itu, para camat dan lurah juga umumnya belum hadir di kantor.

Jokowi sempat melontarkan kritik tentang ketimpangan yang terjadi melalui slide presentasinya, tempat duduk lurah dan camat lebih nyaman dibanding dengan masyarakat. Bukankah masyarakat yang dilayani? seharusnya kepentingannya sebagai yang dilayani lebih diutamakan mengingat lurah dan camat adalah pelayan masyarakat.

Yang sering saya lihat di beberapa kantor lurah dan camat di Jakarta, kursi memang menjadi salah satu simbol prestise masyarakat. Kursi PNS di kantor kelurahan atau camat memang terlihat lebih bagus dan nyaman dibanding dengan kursi pengantre yang terdiri dari ratusan masyarakat yang memiliki kepentingan di kantor kantor institusi tersebut.

Sebagai pelayan masyarakat, camat, lurah dan sejumlah civitas institusi tersebut memiliki kewajiban melayani. Artinya masyarakat yaitu sebagai subjek yang dilayani harus menerima perlakuan yang istimewa. Bukankah hakikat pelayan memang membuat nyaman yang dilayani? Sebuah sesat pikir apabila masyarakat beranggapan kalau lurah dan camat sebagai sosok yang harus menerima perlakuan yang nyaman-nyaman saja. Bukankah pelayan di restoran juga berusaha melayani pelanggannya dengan baik. Sebagai imbalannya, mereka mendapatkan uang tips yang  menjadi salah satu bukti keberhasilan mereka membuat nyaman pelanggannya.

Yang saya lihat di restoran juga demikian, kursi pelanggannya lebih nyaman dan mewah dibandingkan dengan pelayannya. Bahkan karena sering melayani, pelayan sampai tidak sempat duduk. Saya rasa tidak ada bedanya antara lurah, camat ataupun pelayan restoran. Peran yang mereka jalankan adalah menjadi pelayan yang baik.

Gebrakan Jokowi sebagai gubernur baru memang membuat perangkat desa dan kecamatan cukup tegang. Sederhananya mereka ditantang untuk membiasakan diri untuk tidak menjadikan kursi sebagai prestise yang selama ini membudaya dikalangan masyarakat. Yang kedua, seperti anak bandel menurut saya kalau sampai dikejar-kejar untuk bangun pagi dan berangkat ke kantor tepat waktu.

Sebenarnya sangat disayangkan jika perangkat masyarakat tersebut harus disadarkan dengan cara seperti ini. “Saya sangat mengapresiasi gerakan Pak Jokowi dalam upaya perbaikan pelayanan masyarakat ini, tentu kami akan memulainya dari sekarang. Jakarta harus lebih modern”, kata salah seorang camat yang diwawancarai. Memangnya selama ini mereka tidak menyadari kalau sistem pelayanan dan dedikasi mereka sebagai pelayan masyarakat belum memadai? Kenapa baru mau memperbaikinya sekarang?

Menggarisbawahi kritikannya tadi, Jokowi memberikan waktu 6 bulan bagi perangkat desa dan kecamatan tersebut untuk mulai memperbaiki struktur pelayanan masyarakatnya yang menurutnya sangat tidak layak bagi masyarakat. Mampukah para PNS tersebut menjawab tantangan Pak Jokowi? Bersediakah para camat dan lurah itu menyamakan kursinya dengan masyarakat? Mampukan mereka mengubah kebiasaan bangun siang menjadi bangun pagi? Kita nantikan 6 bulan kedepan!

5 thoughts on “Jokowi tantang 300 lurah dan camat se-Jakarta

    1. Tina Latief Post author

      beliau mulainya juga pas, kalau tidak dari strukturalnya pasti susah karena masyarakat masih berpegang teguh pada struktur yang bobrok..

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s