Dancing under the rain

Untuk pertama kalinya hari ini bisa menyaksikan hujan deras di Depok. Kelas lukis baru usai pukul 17.00, namun langit di ujung pandangan sudah menghitam, pekat dan tebal. Awan kumulus gelap bergumpal-gumpal membawa muatan air yang siap dimuntahkan. Agaknya langkah perlu dipercepat. Sebelum hujan turun kaki ini harus segera mencapai halte, tempat biasa menunggu bus kampus.

Langit di atas sana sudah gemlegar mengumbar suaranya. Sesaat deru kendaraan yang bising terpecah oleh dentuman kencang di langit. Gesekan-gesekan awan bermuatan elektron itu cukup berani memecah kebisingan sore ini. Sembari menoleh kanan kiri, saya menyadari tidak ada satupun orang yang saya kenal di halte itu.

Sepersekian menit kemudian bus datang. Sepersekian detik setelah bus membawa saya hujanpun turun. Mulanya rintik-rintik, kemudian menjadi titik-titik air yang lebih besar. Belum ada sepuluh menit, jalanan sudah tertutup oleh genangan air. Kaca bus sudah tak menampakkan pemandangan hutan kampus yang hijau gelap. Kini berubah menjadi putih berkabut. Di bus yang penuh sesak itupun tak seorangpun saya jumpai orang yang saya kenal. Biasanya saya ditemani seseorang di samping saya, namun kali ini saya sendiri. Mungkin dia lelah hari ini.

Bus memasuki area asrama, tempat dimana bus ini ditambatkan nantinya. Di situ pula akhir perjalanan dengan bus yang setia mengantarkan saya. Hujan belum berhenti, sedikitpun tak berkurang derasnya. Tak ada payung yang bisa digunakan, akhirnya saya memutuskan untuk menerjang hujan itu secepatnya.

Namun hujan kali ini benar-benar menyihir. Saya justru enggan mempercepat langkah. Saya biarkan hujan itu mengguyur badan dan pakaian saya hingga basah kuyup. Anak kecil memang cerdas, hujan memang permainan yang menyenangkan, sayang bila dilewatkan.

Tidak ada Mom yang akan meneriaki, tidak ada Mom yang melarang kalau hujan itu bisa membuatmu sakit. Orang dewasa meman sering berbohong. Hujan tidak akan membuatmu sakit. Hujan tidak akan membuat badanmu beku jika kamu segera menghangatkan badan. Segera mengganti baju atau menyeduh teh dan jahe akan menghangatkan badan kembali. Kenapa pula harus berlari-lari kalau itu hanya membuat sepatumu terbawa arus. Kenapa harus menghindari hujan kalau nanti akan basah juga. Hujan tidak ingin membuatmu sakit, ia hanya ingin mengajakmu menari bersamanya. Dancing under the rain..

Hujan tidak seburuk jika membasahi bajumu. Hujan justru membantumu untuk tetap tegar. Hujan membantumu menyembunyikan air matamu sehingga orang tidak bisa membedakan mana itu air hujan mana itu air mata.  Ia bersedia menghapus air matamu lebih baik dari kekasihmu. Ia bersedia memelukmu lebih baik dari kekasihmu. Dia lebur bersamamu, merasakan keadaan sebenarnya dirimu. Sungguh, ia hanya ingin mengajakmu menari, bukan untuk membuatmu sakit.

Dia adalah pasangan dansa terbaik  sepanjang eksistensi saya.

2 thoughts on “Dancing under the rain

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s