Menjadi mahasiswa

Video ini mungkin sedikit mewakili perbincangan saya dengan seorang teman usai shalat tarawih hari lalu. Perbincangan ini terjadi ketika saya sedang browsing video anak-anak UI tahun lalu yang diberi tugas untuk membuat sebuah video dalam OKK (Orientasi Kehidupan Kampus). Melihat video ini, timbullah ketertarikan teman saya dan menghasilkan sebuah perbincangan yang lumayan untuk saya.

Mahasiswa, kehidupannya berkaitan erat dengan kampus dengan segala aktivitas di dalamnya. Bagi mahasiswa yang aktif, baginya menjadi mahasiswa bukan hanya belajar saja tetapi juga ikut andil dalam kegiatan kelembagaan. Dengan kata lain ‘eksis’.

Tentunya selain belajar mata kuliah yang diambil, dengan disediakannya wadah yang memadai, mahasiswa yang memiliki ketertarikan dengan lembaga yang menjadi wadahnya biasanya akan memanfaatkan untuk menunjang daya tariknya. Misalnya saja mahasiswa yang gemar berpetualang akan aktif di group pecinta alam bersama teman-teman sesamanya. Dari sinilah menurut teman saya, 24 jam terbagi menjadi 3 yaitu tidur, nilai dan sosial.

Nilai


Semua mata kuliah berlabel A, bernilai cumloud, siapa yang tidak mau? Setiap semester harapannya nilai inilah yang muncul, bahkan menjadi tuntutan orang tua atau ambisi sendiri. Setelah mendapatkan nilai perfect, muncul label baru dia mahasiswa yang ‘pinter’ & ‘keren’. Tak mungkin jika nilai bagus tidka menjadi ambisi masing-masing mahasiswa, kecuali bagi yang memang ingin biasa-biasa saja atau justru ingin berlabel troll.

Sosial


Didasari daya tarik dan semangat eksis, banyak juga mahasiswa yang ingin tampil lebih di depan umum atau sekedar mendapatkan pelampiasan akan kegemaran, bakat dan minatnya. BEM, DPM, Mapala, Suma, dll adalah beberapa wadah yang akan menampung kegemaran, minat dan bakat mahasiswa. Lembaga-lembaga ini akan banyak membawa mahasiswa ke dalam kegiatan-kegiatan yang menyibukkan minat. Nilai ok, eksis pula, label berikutnya adalah ‘populer’. Bukankah banyak orang yang ingin populer?

Tidur


Isirahat, sholat, makan, itu mudahnya karena pasti manusia memerlukan waktu untuk beristirahat. Untuk menyegarkan badan dan pikiran setelah banyak melakukan aktivitas,hal inilah yang dilakukan manusia. Bagi ukuran saya istirahat itu sangat penting. Kalau ada manusia yang tidak perlu istirahat saya kira itu sangat tidak normal.

Satu hari sama dengan 24 jam. Berapakah waktu yang akan dianggarkan untuk masing-masing kegiatan di atas?
Balance, semua orang ingin semuanya berjalan berimbang. Nilai perfect, sosial ok, tidurpun tercukupi. Namun bisakah ketiga hal ini sama-sama berlabel A atau excellent?

Inilah yang saya dan teman saya diskusikan malam itu. Sedikit curhat mengenai kehidupan kampusnya, teman saya menilai bahwa ketiga hal tersebut tidak dapat dipenuhi secara maksimal atau tidak bisa berlabel A secara keseluruhan. Mengapa? Ketika kita aktif mengejar nilai bagus dan bisa istirahat, maka kehidupan sosial pasti terabaikan. Begitu pula ketika terlalu aktif di kegiatan sosial, nilai yang menjadi korban karena istirahat pasti sangat diperlukan. Dan yang lebih ekstream dan memaksakan diri adalah mengabaikan waktu istirahat untuk mengejar nilai dan sosial. Tentunya sudah tidak asing lagi julukan bagi mahasiswa yang keseringan rapat, kuliah-rapat-kuliah-rapat (kura-kura) atau yang tidak ada kegiatan apa-apa, kuliah-pulang-kuliah-pulang (kupu-kupu).

Saya tidak menolak argumen itu. Ketika ada sesuatu hal yang ingin di kejar maka akan ada waktu lebih untuk hal yang ingin di dapat. Sama halnya ketika saya ingin berhasil masuk kampus UI, main, hobby, istirahat bahkan ngobrol dengan tetangga saja saya enggan karena saya merasa waktu saya sangat-sangat terbatas dan alangkah disayangkan jika saya sampai gagal hanya karena saya terlalu banyak menggambar atau terlalu banyak ngobrol. Passion and ambition, bahkan untuk tidurpun tidak ada waktu.

Contoh lain, Albert Einstein, ilmuwan yang terkenal dengan E=mc2 harus gagal dalam berumah tangga. Einstein mengutamakan risetnya untuk berhasil menjadi ilmuwan yang mampu membawa perubahan besar bagi kemajuan di bidang ilmu pengetahuan namun konsekuansinya kehidupan rumah tangganya sendiri dinomorduakan. Atau seorang pelukis, demi menghasilkan karya yang bernilai seni yang tinggi mengabaikan seni dirinya sendiri dengan membiarkan rambutnya menggondrong dan tidak mandi.

Bagi saya, contoh-contoh itu sangat konkret di kehidupan sehari-hari. Bahkan saya mulai berfikir, jika saya ingin menjadi lebih seperti Auguste Comte, saya harus merelakan hal-hal yang akan menginterupsi jalan saya menuju seperti Auguste Comte. Atau, harus ada management waktu yang benar-benar tepat untuk saya.

Menurut Anda, apakah itu menjadi mahasiswa?

7 thoughts on “Menjadi mahasiswa

  1. Udin Widarso

    Menjadi Mahasiswa yang kuliah-rapat kuliah-rapat (kura-kura) atau kuliah-pulang kuliah-pulang (kupu-kupu) itu adalah pilihan mbak.
    Wah, mbak mahasiswa UI ya. Siip deh. Semoga bermanfaat untuk Indonesia.
    Selamat menunaikan ibadah puasa.

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s