Anggaran untuk membaca buku

Pasca ujian, meskipun ujian berikutnya masih ada, saya ingin sekali membaca buku. Sudah lama sekali saya tidak meng-update buku-buku di rumah, itu tandanya saya jarang ke toko buku dan bahkan membaca buku. Buku yang saya baca akhir-akhir ini sebatas buku pendukung materi ujian saya. Bosan sih tidak, hanya saja saya perlu buku yang lain.

Semenjak banyak berinteraksi dengan internet, ide, gagasan maupun kisah menarik bisa saya jumpai langsung dan gratis dari sini. Mungkin inilah yang membuat saya betah tidak memberi anggaran pada buku-buku baru. Buku baru menurut saya ada 2 kategori: buku baru dirilis dan buku baru bagi saya (bisa buku kuno atau buku yang belum bisa saya baca karena terbitnya bukan di usia saya). Pada dasarnya saya suka buku baru yang berisi inovasi terkini, tetapi saya juga suka buku-buku kuno yang berisi ide dan pokok-pokok pikiran orang terdahulu. Tak kalah keren.

Tantri Kamandaka atau Candapinggala

Tantri Kamandaka atau Candapinggala,ย salah satu buku yang terkenal di era 80-an atau sudah tergolong kuno.

Inilah salah satu buku yang ingin saya baca, lagi. Buku ini saya temukan 11 tahun yang lalu di perpustakaan SDN Karangmojo 2 yang kala itu tidak terurus dengan baik. Buku ini berisi cerita-cerita singkat yang mengandung petuah yang cukup berat untuk dibaca anak usia saya dulu. Menurut situs goodreads.com, ย buku ini merupakan hasil terjemahan dari buku aslinya dalam bahasa Jawa Kuno berjudul Tantri Kamandaka, berisi dongeng-dongeng hewan dan alam yang mengandung nilai moral. Tantri Kamandaka Jawa Kuno sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh C. Hooykaas dan diterbitkan pada tahun 1931 dalam Bibliotheca Javanica 2. Karya C. Hooykaas inilah yang dijadikan sumber saduran bebas ini. Saya ingin membacanya lagi karena dulu saya belum bisa memahaminya dengan baik. Di mana saya bisa membaca buku ini?

Anggaran terbesar yang harus disediakan sebenarnya adalah waktu. Waktu seringkali menjadi hal yang tak dihitung harganya ketika buku itu sudah terbeli. Padahal kesulitan terbesar di sini adalah menyediakan waktu untuk membaca. Terkadang niat tak sejalan dengan kenyataannya. Ketika buku sudah didapatkan, waktu tidak tersedia. Akibatnya buku hanya terpajang rapi di rak buku atau hanya tergeletak begitu saja sampai berdebu bahkan rusak karena sering terabaikan.

Orang baru akan disebut sukses dengan sebuah buku jika mampu menyediakan anggaran waktu terbesar untuk ย membaca disamping menyediakan anggaran untuk mendapatkan buku yang ingin dibaca. Apa gunanya membeli buku kalau hanya dilihat sampulnya saja. Apa gunanya langganan koran setiap hari kalau tidak ada waktu untuk membaca. Lagi-lagi waktu menjadi barang termahal dalam daftar belanja saya.

5 thoughts on “Anggaran untuk membaca buku

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s